Menyelamatkan Hashimoto Rena

Menyelamatkan Hashimoto Rena
Egois (1)


__ADS_3

08.30, malam.


Saat pulang dari minimarket, yang dilihat Yusuke adalah Chiya yang sedang duduk di tangga menuju apartemen. Terlihat jelas bahwa pipi kanannya sangat merah karena ditampar.


"Ada apa dengan pipimu?"


"Haha, aku kurang beruntung."


"Kurang beruntung?"


Kurang beruntung yang Chiya maksud adalah dia ditampar oleh seorang wanita, wanita itu adalah istri pelanggannya.


"Hahaha!"


"Jangan tertawa!"


"Maaf, bukannya aku sengaja melakukannya, maaf, maaf."


"Wanita sialan itu menamparku begitu keras!"


"Lebih baik kamu berhenti dari pekerjaanmu. Aku sarankan kamu bekerja paruh waktu saja, gajinya tidak jauh berbeda."


"Haa... apa cukup kalau satu jam hanya seribu..."


"Daripada kamu dipermainkan orang berjam-jam."


"Kamu tahu sangat enak, aku menikmatinya."


Chiya terkekeh.


Yusuke mengambil sekaleng cola di dalam kantong plastik, dan memberikannya kepada Chiya yang menerimanya tanpa rasa terima kasih. Gadis remaja yang begitu blak-blakan sekarang tersenyum.


Chiya bertanya saat melihat Yusuke yang juga sedang duduk dan minum cola.


"Apa hubunganmu dengan pacarmu baik-baik saja? Aku yakin kalian sudah putus kekeke..."


"Jangan asal menebak, kami tidak putus."


"Benarkah? Aku tidak melihatnya datang ke tempatmu?"


"Dia sibuk belajar."


"Apa? Bukankah ini liburan musim panas? Ini sangat gila, kamu pasti tidak bisa bercinta dengannya haha..."


Chiya menampar lengan Yusuke dengan bercanda.


Yusuke tersenyum tipis dan membiarkannya.


"Sejak kapan kamu seperti ini?"


"Apanya?"


"Jualan anu."


“Oh, sudah dari kelas dua SMP.”


"Kamu mengerikan."


"Ya maaf ... aku dulu sangat polos, bisakah kamu percaya?"


"Ya. Aku percaya, karena semua orang pasti polos dan polos pada awalnya."


Chiya menyentuh kepala Yusuke, dan menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya.


"Ayo bermain denganku gratis. Aku sedang ingin bercinta denganmu."


"Wah, aku tidak mau."


"Bajingan, aku sangat pandai dalam hal-hal begituan. Aku jamin kamu akan meminta lebih banyak."


Yusuke memegang tangan Chiya, dan mendorongnya menjauh.


Chiya tersenyum cerah menunjukkan gigi putihnya.


Diakui Yusuke; Chiya sangat cantik bahkan bisa disejajarkan dengan Rena.


Dia mengakuinya.


"Dan dia tidak akan tahu, dasar pengecut."


"Aku bukan pengecut. Aku menghormatinya, jika aku selingkuh. Aku akan mendapat karma."


"Gila, menurutmu era apa ini?"


"Era dimana banyak orang gila di dalamnya."


"Hahaha, kamu sangat menyenangkan untuk diajak bicara. Aku menyukaimu."


"Astaga, aku pergi dulu."


"Oh, oke ... terima kasih untuk minumannya."


"Terima kasih kembali."


Saat memasuki apartemennya; Yusuke merogoh sakunya.


Panggilan video:


"Aku sudah menunggu sejak tadi."


"Maaf, aku sedang dalam perjalanan."


"Kamu tidak membeli ramen lagi, kan?"


"Tidak. Aku membeli Onigiri."


"Wah, aku juga mau."


"Buka mulutmu, aku akan memberimu makan."


"Bodoh, bagaimana bisa."


Rena malu dan bicara lagi.


"Yusuke-kun, ... bisakah kamu datang besok?"


"Datang?"


"Itu, besok rumahku sepi, jadi kamu bisa datang."

__ADS_1


Rena menggigit bibirnya dengan gemas.


"Lalu apa yang akan saya dapatkan?"


"Mulai ... kamu tidak dapat apa-apa, kita bisa bertemu, bukankah itu bagus?"


Yusuke meletakkan barang bawaannya di atas meja, dia duduk bersila di atas bantal untuk duduk: Zabuton.


"Aku harus mendapatkan sesuatu, aku pacarmu, kan?"


"Aku tidak berjanji ... aku akan mencoba selama itu tidak buruk untukku."


Yusuke menyeringai menakutkan untuk dilihat Rena.


"Hai! Jangan, jangan tersenyum seperti itu Yusuke-kun!"


Yusuke tersenyum dengan Rena yang cerewet. Gadis remaja itu sangat bahagia tidak sabar menunggu hari esok.


"Onigiri ini enak, kamu mau?"


"Jangan mengolok-olokku karena aku jauh."


Yusuke mengunyah dengan nikmat, sedangkan Rena melihat dari layar ponsel sambil gugup menunggu Yusuke selesai makan.


"Mmm..."


"Apakah seenak itu?"


"Kupikir lebih enak kamu."


- Blush!


Rena malu dan bergumam pelan.


"Jangan bicarakan seperti itu, tidak baik..."


"Tidak baik kalau tidak dicoba, kan?"


Rena siap memukulnya dengan buku yang dipegangnya, tapi malu karena yang mereka lakukan adalah video call.


"Ingat datang jam 8," kata Rena.


"Malam?"


"Eh...? Pagi. Jam 8 malam tidak baik bertamu, untuk apa juga malam-malam."


"Tidur denganmu."


Rena menutup wajahnya dengan satu tangan, ia tidak sanggup bertahan dengan kata-kata tak sopan Yusuke.


Yusuke tersenyum dan bicara lagi.


"Apa kamu tidak ingin? Padahal kita sudah pernah..."


"Sudah-sudah, jangan bilang seperti di warnet—"


"Padahal aku mau bilang sudah pernah tidur satu ranjang."


"..."


***


⟨ Rumah Hashimoto Rena ⟩


Baju lengan panjang yang lengannya digulung sampai di bawah siku, yang lucu dilihat adalah warnanya hitam putih seperti warna zebra.


Celana hitam dan sepatu putih tanpa kaus kaki.


"Eh?"


"Ada apa?"


"Lucu, hehe seperti zebra cross."


"Kekeke..."


Sementara Rena yang tampil sopan dengan 'Rok A-line Strap Shakila' yang dianggap Yusuke terlalu panjang justru mengecewakan.


'Tidak apa-apa masih ada yang paling menonjol, kekeke...'


"Yusuke-kun?"


"Ehem, aku datang."


Rena mengerutkan kening.


"Aneh, cepat masuk."


"Sayang sekali, kenapa kamu tidak memakai sesuatu yang lebih terbuka di musim panas?"


'Apa yang akan kamu katakan?'


Rena menoleh dan memegang lengan baju Yusuke.


"Yusuke-kun..."


"..."


"Aku minta maaf ..."


"Mengapa kamu meminta maaf?"


"Sepertinya kamu kecewa, kamu berbicara seperti itu, maaf ..."


"Tidak mengecewakan jika sudah dibuka."


"Mmm?"


Rena tidak mengerti arti kata-kata rumit Yusuke.


'Apa yang dibuka?'


Rena merona merah, ia baru menyadarinya.


Yusuke mengikuti kebiasaan Rena, dia berkedip, yang dia lihat sekarang adalah belut panggang di atas nasi.


"Kamu membuatnya sendiri?"


"Ya. Apakah kamu menyukainya? Musim panas biasanya enak makan belut, kan?"

__ADS_1


"Aku belum tahu, aku akan mencoba."


"Tunggu, teh dinginnya, oh, kenapa aku lupa ..."


'Wah, dia mulai panik?'


Rena menghela napas lega, lalu duduk dan berkata: 'Itadakimasu', yang berarti selamat makan, sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


Selama makan, Rena melihat Yusuke yang cukup menikmati.


"Bagaimana rasanya?"


"Enak sekali," jawab Yusuke.


Rena bernapas lega, ia tersenyum bahagia.


Saat selesai makan, Yusuke membantu mencuci piring dan gelas.


"Ayah dan ibumu pergi ke mana?"


"Mereka pergi ke rumah teman lain. Mama mengajak Papa pergi."


"Kenapa tidak ikut?"


Rena menoleh.


"... kalau aku ikut—"


Dilanjutkan oleh Yusuke.


"Aku tidak bisa bertemu denganmu, kan?"


"..."


Rena mengigit sudut kanan bibirnya, ia sangat malu karena mudah ditebak.


Rena menyelesaikan mencuci, dan melihat Yusuke seperti sedang menunggu.


"Berciuman?"


Rena merona merah.


"Bukan."


Rena melangkah dan memeluk Yusuke.


"Apakah kamu sedang merindukanku?"


"..."


Rena hanya memeluknya lebih erat dan tidak menjawabnya.


{Heart Points: 7 > 8/10}


Rena sangat malu dan menutup matanya, yang terasa aneh di bagian bawah yang benar-benar mendorongnya.


Yusuke mengusap punggung Rena, berharap tongkat dewa itu tenang.


Suasana menjadi canggung.


- Tek.


'Sialan, pengaitnya ada di belakang?'


"Yusuke-kun..."


"Ya-ya?"


"..."


Rena yang berniat untuk bisa berpelukan lebih lama harus berakhir dengan rasa malu.


"Berputar."


"Berputar?"


"Aku akan membantu mengembalikannya."


"...Aku bisa melakukannya sendiri, aku-aku pergi dulu, oke..."


Rena bergegas ke kamarnya.


Yusuke menggaruk belakang lehernya.


'Hahaha, kenapa aku kecewa, ada cara mudah seperti itu...'


Rena menghela napas lega karena sudah selesai, dia kembali menemui Yusuke yang kini sedang duduk di sofa memikirkan sesuatu.


Rena juga ikut duduk dan menggiring Yusuke dengan kedua tangannya untuk melihat ke arahnya.


"Yusuke-kun?"


Yusuke menghela napas, dia tersenyum kecut.


"Maaf, aku yang terburuk dan masih punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu."


"... apa yang kamu pikirkan?"


Rena memastikan bahwa ia bisa membantu Yusuke.


"Lupakan saja."


"Ah, bukankah ada Bisbol?"


Rena melihat, dan bertanya lagi.


"Apakah kamu bosan?"


"Aku tidak bosan, aku suka Bisbol."


Rena memastikan dan tetap melihat Yusuke, Rena mendekat ke tempat duduknya.


"Yusuke-kun?"


"Ya?"


"Kamu bosan, kan?"


"Aku tidak bosan ... aku hanya mera—"

__ADS_1


Rena menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Tolong jangan bosan padaku Yusuke-kun …"


__ADS_2