
"Damn, 20 panggilan tidak terjawab dan 20 pesan!"
Yusuke membalas semua pesan dan menelepon Rena.
Panggilan video:
"Yusuke-kun ..."
"Aku baru selesai olahraga," Yusuke tersenyum.
"Jangan cemberut, bagaimana belajarmu?, semuanya berjalan dengan baik?"
"TIDAK."
'Kenapa kamu begitu marah?'
"Kamu marah karena masalah seperti ini?"
Rena melihat ke arah lain dan melihat Yusuke lagi.
Dengan berbagai cara Yusuke akhirnya bisa menenangkan Rena yang emosinya labil; Yusuke menarik napas dalam-dalam dan berbicara sebaik mungkin.
'Mungkin berkat poinnya, aku bisa mengatasinya.'
Yusuke tersenyum dengan banyak perubahan, hingga Rena mulai membicarakan rencana ke depannya. Yusuke membawa ponselnya kemana-mana hanya saja saat di kamar mandi dia bisa berhenti sejenak.
Dia mengingat masa lalu dimana dia masih bermain game yang kini menjadi dunia nyata yang telah menjadi tempat tinggalnya. Dia ingat 'Hashimoto Rena' ketika menjadi pahlawan wanita dalam game yang Yusuke mainkan.
"Banyak perubahan dari karakter aslinya, aku tahu dia sangat lembut dan pemalu, dia tegas dengan orang lain selain karakter utama yang kita gunakan sebagai pemain."
Yusuke kembali mengingat bahwa akhir terburuk bagi Rena adalah bunuh diri.
"Aku sangat membenci Takeru, padahal sebagai pemain ... aku menggunakan karakter, dia meninggalkan Rena begitu saja karena merasa tidak cocok."
Yusuke tersenyum kecut ketika seseorang mengatakan game yang dia mainkan sangat sampah dengan alur cerita yang tidak pasti, perjuangan yang tidak masuk akal dengan karakter mesum lainnya.
"Rena-chan, jangan marah lagi, nanti banyak kerutan di wajah cantikmu."
"Menjengkelkan."
'Dalam game hanya dia sebagai target berbeda dari game roman lainnya dengan banyak wanita dalam ceritanya.'
"Kamu tidak perlu khawatir, aku sangat setia padamu, kamu bisa mempercayai pacarmu, tolong jangan terlalu banyak berpikir yang bisa membebani kamu sendirian."
Rena tersipu melihat ponselnya.
Yusuke tersenyum mengerti melihat ekspresi sedih Rena dengan mata berkaca-kaca.
"Saya sangat mencintai kamu..."
"Aku benar-benar tahu kamu mencintaiku."
Rena terbelalak, dia tersenyum bahagia.
Yusuke tersenyum sambil berjalan menyusuri jalan menuju minimarket terdekat dengan apartemen.
"Tidak boleh beli ramen," Rena menegaskan.
"Aku membeli Onigiri."
"Itu lebih baik, ingat tidak ada ramen."
"Maaf jika aku terlalu banyak bicara ... aku hanya ingin kamu tidak makan sesuatu yang tidak sehat, kalau saja aku bisa memasak di tempatmu..."
"Nanti di apartemen baru," jawab Yusuke.
Yusuke ingin sekali tertawa saat Rena kehabisan kata-kata untuk dibicarakan. Waktu mereka untuk video call juga terlalu berlebihan.
"Kita sudah lebih dari 2 jam, aku akan sarapan."
__ADS_1
Tidak lama kemudian telepon berdering, ada pesan dari Minami.
'Agar kamu dan Rena bisa bersiap-siap untuk kita pergi ke pantai besok.'
Yusuke lupa dia diajak datang ke pantai.
Panggilan video:
"Yusuke-kun, besok kita ke pantai, aku, aku akan memberitahu Papa."
"Jika kamu benar-benar ingin pergi, aku akan membantumu meyakinkan ayahmu."
Rena cukup banyak bergerak karena senang, dia sangat bersyukur Yusuke mau membantunya.
'Wow, mereka berdua ikut menari ...'
Rena melihat ke arah tatapan Yusuke.
"Kamu mesum Yusuke-kun..."
Yusuke memikirkan banyak cara untuk meyakinkan Hashimoto Handa yang tegas dan terlihat seperti orang yang sulit diajak bicara.
"Aku yakin aku akan mendapatkan izin."
Yusuke merasa lelah.
Yusuke mengucapkan selamat malam kepada Chiya yang baru saja kembali dari toserba.
"Apakah kamu akan pergi ke tempat pacarmu?"
"Ya, jadi tolong jangan masuk ke rumahku."
"Bajingan! Aku bukan maling!"
***
Yusuke membalas pelukan itu dengan lembut, dia membandingkan Rena yang dulu dan yang sekarang sangat berbeda, tidak ada keraguan saat memberikan pelukan.
"Kamu terlihat senang."
Yusuke terbelalak, dia tersenyum setelah mereka berciuman.
"Aku sudah menunggumu," Rena tersenyum tipis.
"Mama sedang menunggu, ayo masuk."
“Ya,” jawab Yusuke singkat, dan mengikuti Rena.
Ibu Rena menyambutnya dengan tangan terbuka dan meminta Yusuke untuk menemaninya makan malam. Hashimoto Handa tidak ikut karena sibuk.
'Keluarga yang sangat baik, sangat iri ... "
Banyak pertanyaan yang dilontarkan ibu Rena setelah mereka bertiga selesai makan malam, Yusuke langsung pada intinya untuk mengajak Rena pergi ke pantai.
Rena senang karena diberi izin untuk pergi, Rena melihat ini sebagai keberuntungan yang datang karena Yusuke.
'Kenapa setiap kali ada Yusuke-kun semua yang tidak mungkin menjadi mudah."
Rena merasa diberkahi dengan Yusuke yang membawa keberuntungan baginya, dia berpikir bahwa semua yang dia lakukan akan terus berjalan dengan lancar.
Dia berpikir tentang bagaimana membuat Yusuke puas dengan tujuan mereka pergi ke pantai besok. Dia berpikir cukup lama untuk menemukan jawabannya.
'Yang aku tahu Yusuke-kun itu sangat nakal, mungkin aku harus memilih sesuatu yang dia suka?, aku tidak yakin apa yang kupikirkan benar...'
Diam-diam Rena memperhatikan saat Yusuke sedang menikmati makan malam, dia bersyukur Yusuke mau menginap di rumahnya. Rena merasa sangat malu dengan pikirannya sendiri.
Ibunya yang berbicara lebih dulu agar Yusuke menginap. Rena menunggu apa yang harus dikatakan, ketika Yusuke melihatnya, dia setuju untuk tinggal di rumah Rena.
Setelah sarapan selesai, malam harinya Rena mengetuk pintu kamar yang digunakan tamu. Yusuke membuka pintu, dan langsung mendapat pelukan dari Rena.
__ADS_1
"Pacarku sangat merindukanku, di mana kamu ingin berciuman?"
"Mengapa kamu berbicara seperti itu? Aku hanya ingin melihatmu."
"Benar, benarkah?"
Rena cemberut dia tidak mau bicara.
Yusuke membawanya ke dalam dan mengunci pintu.
Rena tersipu malu karena posisinya saat ini berbaring di tempat tidur.
"Salahmu sendiri ... kamu masuk kandang harimau."
Tangan Yusuke menekan kasur agar dia tidak terlalu dekat dengan Rena sampai merasa tidak nyaman. Merona merah adalah hal yang bisa dilakukan Rena.
"Jika kamu tipenya, aku tidak takut."
Mereka saling menatap. Rena masih memperhatikan
Rena memejamkan mata, dia menyukai sentuhan di wajahnya.
"Yusuke-kun..."
Yusuke tersenyum.
Yusuke berbaring di samping Rena yang langsung menoleh. Yusuke tertawa ringan karena ekspresi wajah Rena terlihat bingung.
"Ha-ha-ha..."
Tanya Yusuke pada Rena yang kini sedang mengernyitkan dahi.
"Kamu terlihat sangat kesal?"
"Yusuke-kun sengaja, aku kesal."
"Apakah kamu benar-benar berharap aku melakukan itu?"
"Tidak," jawab Rena dengan nada suara singkat.
"Kekeke dari penampilanmu, kamu mengharapkannya Rena-chan."
Rena memunggungi Yusuke.
'Sungguh menyenangkan mengerjai dia.'
Yusuke menunggu dan menunggu sampai dia melihat punggung Rena.
Rena berbalik menghadap Yusuke.
"Yusuke-kun sangat menyebalkan."
"Mau memukulku?"
"... untuk apa aku memukulmu Yusuke-kun, begini... aku merindukanmu..."
"Aku tahu," Yusuke tersenyum. "Aku tahu kamu merindukanku untuk datang diam-diam."
Rena tersipu.
Rena yang gelisah semakin dekat, dia menyentuh dada Yusuke, dan melihat wajah Yusuke.
"Terima kasih," kata Rena.
"Terima kasih untuk apa Rena-chan?"
"... terima kasih sudah datang dan meyakinkan Mama."
"Oh, wajar saja. Aku pacarmu, wajar saja kalau aku membantumu, kan?"
__ADS_1