
Jam 09.30, malam.
"Belum kering..."
Rena menghela napas dan melihat Yusuke yang hanya balas tersenyum padanya.
"Kamu terlalu banyak bekerja," katanya.
"Mmm... aku ingin bisa banyak membantu."
Pemandangan dari balkon terhalang oleh bangunan, mereka berdua berbicara satu sama lain sambil menunggu waktu tidur. Rena melihat Yusuke tersenyum sambil memikirkan sesuatu.
"Potongan rambut Yusuke-kun sangat segar, cocok untuk Yusuke-kun."
"Kamu sudah memujinya lebih dari lima kali."
Rena semakin mendekat.
"Tolong jangan diam saja..."
"... Rena-chan."
Rena memeluknya.
"Apa yang kamu pikirkan sejak tadi? Ini pertama kalinya aku melihatmu seperti ini..."
"Aku memikirkan tanggal 1 bulan depan."
"Oh, kita mulai masuk sekolah kan?"
"Aku khawatir akan terjadi banyak hal," kata Yusuke.
"Apa yang terjadi, mungkinkah karena masalah Takeru-kun?"
Rena menutup mulutnya, dia terpeleset dalam bicara.
"Ho, kamu sedang membicarakan dia?"
"Aku hanya menebak bahwa kamu khawatir dengan masalah di rumahku. Kamu tahu, sangat aneh bisa dengan mudah berdamai dengan keluarganya."
"Jangan khawatir, bukan dia yang aku khawatirkan."
"Lalu apa yang dikhawatirkan Yusuke-kun?"
"Sekolah."
"Sekolah? Apa yang terjadi di sekolah?"
"Kamu tidak tahu bahwa sekolah itu buruk."
Rena tidak terlalu mengerti karena Yusuke tidak menjelaskan secara detail, hanya saja ada hal buruk yang terjadi di sekolah mereka.
"Jangan membuatku takut, kamu sangat suka seperti ini."
Yusuke melingkarkan tangannya di pinggang Rena.
"Ingat, jangan pernah percaya pada orang lain selain aku mengerti?"
Rena menggembungkan pipinya.
"Ya, aku hanya akan mempercayaimu."
Mata Rena mengalihkan pandangannya, dia tidak bisa terlalu lama menatap Yusuke.
"Apakah kita perlu olahraga malam ya?"
"Olahraga malam?"
Rena berpikir dan berpikir, ia merona merah.
"Bagaimana kalau besok?"
"Kamu bilang waktu di tempat karaoke, kalau kita akan melakukannya di rumah?"
Yusuke tersenyum puas.
"Ah, benar ..."
"Saya bercanda."
"Menjengkelkan."
"Malam ini kamu cantik."
Rena meremas baju Yusuke.
Dia sangat malu dengan kata-kata seperti itu, dia merasa sangat aneh untuk segera bisa berdebar begitu kencang hingga menjadi berlebihan.
"Yusuke-kun..."
__ADS_1
"Ya?"
Rena menyembunyikan wajahnya di sisi kiri leher Yusuke.
'Aku tidak bisa tenang, aku jadi aneh sekarang...'
"Apa yang salah denganmu?"
"Aku... aku tidak mengerti..."
"Hah?"
"Merasa tidak nyaman..."
Rena memeluknya dengan penuh gairah, dia menekan dirinya begitu dekat.
"Kamu membuatku aneh, aku aneh, Yusuke-kun yang menyebalkan ..."
Yusuke tersenyum puas.
"Jangan bilang lagi ingin bercinta?"
Rena menggigit leher Yusuke dengan lemah.
'Kamu Payah!'
"Ya ampun, apakah Rena-chan akan membuat ******?"
Rena berkedip dan berhenti.
"******?"
'Apakah itu juga dia tidak tahu?'
"Tanda ciuman?"
Rena mengerjap penasaran, dia mulai berpikir dan menemukan jawaban.
"Kamu mulai lagi ..."
Rena mendorong Yusuke yang tidak melepaskan pelukannya.
"Ayo kita buat ******?"
Rena menutup matanya, dia menyentuh kepala Yusuke dan membelai rambutnya. Dia memiringkan kepalanya ke kanan.
"Ouch geli~" Rena menggigit bibirnya.
Rena menatapnya dan berbicara.
"Yusuke-kun, kita, kita..."
Dia bingung, apa yang seharusnya dia lakukan sangat tidak sopan, tetapi pihak lain tidak menolaknya.
"Aku seperti orang munafik..."
Yusuke tersenyum menunggu Rena berbicara, dan sangat menyenangkan saat dia mempermainkan pacarnya yang cantik.
"Mengapa kamu berbicara seperti itu?"
"Sebenarnya... aku munafik..."
"Rena-chan tidak munafik."
Mata Rena melebar saat mendengar kata-kata Yusuke.
"Yusuke-kun tidak menganggapku munafik?"
"Kenapa aku menganggap kamu seperti itu? Bukankah yang seperti itu wajar bagi manusia?"
'Bijaknya...'
***
Rena menggeliat tidak nyaman, dia melihat sekeliling dan hari sudah berubah menjadi pagi.
'Syukurlah, Yusuke-kun hanya bercanda, kami hanya tidur.'
Rena berkedip melihat sesuatu yang familiar.
Mereka masih tidur di futon, mereka bisa tidur di kasur lagi saat selimutnya sudah kering.
"Yusuke-kun sangat tampan ketika dia tidur... ketika dia berbicara aneh, menyebalkan..."
Rena mengalihkan pandangannya, yang dilihatnya adalah milik Yusuke yang berdiri tegak.
"Dia selalu bangun, aneh kenapa kamu bangun, tuanmu masih tidur ..."
Rena merasa bodoh, karena lawan bicaranya adalah sesuatu yang tak mungkin tidak bisa menjawab. Bahkan, sempat menyakitinya saat itu.
__ADS_1
"Haa...kenapa aku berbicara dengannya..."
"Rena-chan?"
"Eh... Ya, Yusuke-kun?"
Yusuke menertawakan apa yang dilakukan Rena secara tidak normal, Yusuke berusaha untuk tidak mengolok-oloknya terlalu buruk.
"Hahaha, kamu lucu Rena-chan."
"Aku ingin mandi!"
"Ah, ayo mandi bersama?"
Rena merinding dan berbalik.
"Mandi bersama?"
"Bukankah aku sudah memandikanmu? Mungkinkah itu memalukan, Rena-chan?"
Rena kaget, dia dibawa ke kamar mandi dan mereka mandi bersama, untungnya mereka hanya mandi.
"Apa yang kamu pikirkan selama mandi?"
"Kamu tahu bahwa mandi bersama membutuhkan waktu lebih lama ..."
"Kurasa sama saja, lebih baik mandi berdua lebih praktis."
Rena terdiam.
'Dia menyebalkan, tapi dia pacarku, aku mencintainya.'
Yusuke mengajak Rena pergi ke restoran untuk berkencan. Rena merasa malu karena sebelumnya perutnya keroncongan karena lapar.
Yusuke tersenyum sambil melihat Rena menikmati makanannya.
Rena berbicara.
"Bukannya tempat ini sangat mahal, kamu yakin tidak apa-apa?"
"Jangan khawatir, aku punya uang lebih dari cukup untuk makan disini Rena-chan."
Rena mengangguk dua kali.
Beberapa pengunjung saling bisik-bisik soal keduanya, karena banyak pertanyaan karena keduanya masih terlalu muda untuk makan di restoran bintang lima.
Yusuke menyunggingkan senyum.
Rena berbicara rendah ketika dia berbicara tentang dapur. Rena berharap hunian baru yang Yusuke pilih akan bagus jika memiliki dapur dengan perlengkapan dapur yang lengkap.
Yusuke yang hanya mendengarkannya pun ikut senang dengan semangat Rena yang berbicara. Impian banyak orang seperti yang dikatakan Rena, semuanya terdengar begitu indah. Rena malu dengan tatapan orang-orang. Yusuke dan Rena menghabiskan makanan mereka dan pulang. Rena bertanya sekali lagi apakah hal seperti itu benar-benar dibutuhkan.
"Bagaimana Yusuke-kun? Apakah kamu setuju dengan apa yang aku katakan?"
Rena menatapnya sambil tersenyum.
"Aku sangat setuju dengan apa yang kamu katakan sebelumnya, semuanya aku suka."
Rena tersipu.
"Terima kasih telah mendengarkannya Yusuke-kun... aku merasa sangat dihargai…"
“Apakah aku mendapat hadiah karena mendengar kamu?”
Rena cemberut.
"Selalu seperti itu…"
Yusuke tersenyum mendengar gumaman Rena.
Rena tersenyum bahagia dengan pacarnya yang baik dan menyebalkan, tapi dia sangat mencintai dan mencintai Yusuke. Rena merasa sesuatu yang dipikirkannya benar-benar aneh, dia merasa tidak normal. Yusuke tersenyum saat pipi kanannya mendapat kecupan dari Rena.
"Aku sangat mencintaimu Yusuke-kun..."
"Apakah hanya bicara?"
Rena mengerutkan bibirnya dengan acuh tak acuh tapi dia berdebar bahagia.
Rena bicara.
"Aku benar-benar berjuang, kamu tahu bahwa kamu sangat, sangat sulit untuk dipahami, butuh banyak kesabaran untuk berada di sampingmu."
Yusuke menyentuh kepala Rena, dan berbicara.
"Terima kasih sudah sabar ya, Sayang?"
Bibir Rena bergetar, menatap Yusuke dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang?"
__ADS_1
'Dia jadi seperti itu?'