Menyelamatkan Hashimoto Rena

Menyelamatkan Hashimoto Rena
Demam Cinta (2)


__ADS_3

"Sepertinya demammu sudah turun?"


Ibu Rena mengecek dengan thermometer, dan hasilnya suhu tubuh Rena normal walaupun suaranya masih seperti orang yang masih sakit.


Ibu Rena menyadari bahwa putrinya pasti pergi ke tempat Yusuke karena dia melihatnya tetapi tidak menghentikannya untuk pergi ke kamar Yusuke.


"Mmm..."


Ibunya menunjuk bibirnya sendiri, dan melihat Rena yang tidak membantah hanya menggigit bibirnya dengan lembut.


"Apakah dia melakukan lebih dari itu?"


Rena menggelengkan kepalanya.


"Tolong jangan memarahi Yusuke-kun, Maa..."


"Aku tidak akan memarahinya, lagipula itu wajar bagi kalian berdua."


"Mmm?"


Rena berkedip dan menatap ibunya.


'Wajar?'


Rena tersenyum sambil menunduk.


Hashimoto Hikari tersipu, dia dan Rena sangat mirip. Masa muda Hikari juga sama dengan masa muda Rena. Dia juga tipe gadis yang mudah di masa lalu.


Hikari berharap putrinya tidak seperti dia, sungguh tidak nyaman memiliki banyak mantan kekasih. Ibunya pergi setelah itu dia pergi ke kamar Yusuke.


"Hikari-san?"


"Ayo bicara."


Yusuke mengikuti.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"... saya baik-baik saja."


"Tidak demam?"


"Maaf?"


Ibu Rena menyentuh kening Yusuke untuk memastikan.


"Baguslah kamu tidak demam, terima kasih atas pengobatannya untuk Rena."


Yusuke merasa canggung karena ketahuan mencium Rena. Cara yang diklaim sebagai cara klasik para kekasih untuk meredakan demam pasangannya, membuat Hikari teringat masa lalu.


'Dia sangat mirip dengan putrinya, tapi tentang sifatnya sendiri sangat jauh berbeda, karena Rena sangat pemalu dibandingkan ibunya ... aku kira tidak begitu pemalu lagi ...'


Yusuke mengingat kejadian tadi malam memang cukup intens, mereka berciuman dalam waktu yang tidak wajar, satu hal yang menurutnya adalah kekasihnya yang sekarang begitu bergairah.


'Apakah karena dia demam?'


Yusuke mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaan tentang keberadaan Hashimoto Handa; yang berangkat kerja lebih awal. Hikari mengakui bahwa suaminya adalah seorang 'Workaholic', yang dikenal juga sebagai seorang yang gila kerja.


Yusuke sudah menduga ayah Rena adalah orang seperti itu. Pria yang berbicara tentang masa depan dan pekerjaan yang layak di masa depan pasti sudah Yusuke tebak seperti demikian.


Setelah mengamatinya dari dekat, ibu Rena menyadari satu hal bahwa Yusuke lebih tinggi dan memiliki tubuh yang bagus seperti pria yang atletis sebagai seorang siswa SMA.


'Putriku sangat beruntung.'


Yusuke gugup karena sedang diawasi. Calon mertuanya sangat teliti dalam menilai seseorang, Yusuke berharap disukai sebagai calon menantu.


"Kamu terlihat sangat sehat."


"Maaf...?"


Yusuke tersenyum kaku mendengar pertanyaan calon ibu mertuanya. Seorang wanita dewasa yang bertanya; kenormalan seseorang dalam hubungan serius. Yusuke tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.


'Apakah karena aku belum melakukannya, jadi dia bertanya apakah aku sehat atau tidak? Game R-19, aku benar-benar bisa memahaminya, tapi saat ini tidak ada bedanya dengan dunia nyata.'


Semakin tidak normal jika dibandingkan dengan dunia aslinya, sangat sulit untuk berkencan bahkan semakin sulit karena untuk mencocokkan sama sekali tidak mungkin.


Suara rendah dari Rena membuat keduanya menoleh. Hashimoto Rena melihat Yusuke, dan mulai mendekat. Namun, ibunya segera membawanya kembali untuk beristirahat.


Sore harinya Yusuke berniat pulang, ia melihat Rena sudah sembuh dari demam. Yusuke tersenyum saat melihat Rena yang tidak rela.


'Sangat lucu ...'


Ada perdebatan ringan antara ibu dan putrinya. Rena terdiam setelah ibunya menentang keegoisannya.


'Rena kami masih sangat labil mengutamakan cinta sebagai yang utama ..:


Rena mengantar Yusuke keluar gerbang rumah. Mereka saling berpandangan, Rena menyentuh dada Yusuke.


"Hati-hati saat pulang..."


"Kamu sangat tidak rela aku pulang?"


Rena mengangguk.


"Cepat sembuh, aku akan mengajakmu melakukan banyak hal menarik."


Rena tersipu, dan bertanya.


"Melakukan apa?"


Yusuke berbisik, Rena tiba-tiba merinding.


"Aku pulang dulu."


Rena berkedip menunggu, Yusuke tersenyum penuh arti.


"Minta ciuman lagi?"


Rena menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"TIDAK."


"Sungguh?"


Rena mengangguk mantap.


"Ya..."


"Cepat sembuh, aku pulang."


Rena melihatnya.


'Seharusnya kamu tidak bertanya begitu, bodoh...'


***


Yusuke merasa hatinya sangat baik dalam hubungannya dengan Rena, membuatnya semakin tidak tahan dengan hal-hal mesra.


"Mengapa melamun?"


Yusuke berbalik.


"Kamu ..."


Yusuke masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Chiya yang masuk tanpa izin.


"Selama satu hari belakangan kamu pergi kemana?"


"Aku tinggal di rumah pacarku."


"Oh~" Chiya ber'oh ria.


Chiya angkat bicara untuk memulai percakapan.


"Aku punya pekerjaan baru..."


"Kau bekerja paruh waktu?"


Chiya tersenyum puas atas jawabannya.


"Lihat ini," kata Chiya sambil menunjukkan ponselnya.


Yusuke tersenyum kaku karena itu adalah semacam aplikasi yang sangat diminati di mana seseorang memposting aktivitas dan menghasilkan uang dari tampilan.


"V-tube?"


"Perhatikan baik-baik, ada banyak yang menontonnya."


'Semua orang yang menonton adalah laki-laki, bagaimana dia bisa bergoyang erotis seperti yang dilihat banyak orang, dia masih tergila-gila dengan aktivitasnya.'


"Bagaimana, aku hebat kan?"


Chiya terus berbicara.


"Ini lebih menguntungkan, aku sudah seperti artis, hahaha!"


'Apa ada artis yang memamerkan goyangan seperti itu, tapi ya itu benar-benar terlihat mantap.'


"Jadi kamu pamer goyangan payah seperti itu?"


"Hah? Payah katamu?"


Chiya meletakkan tangannya di pinggangnya, dia membusungkan dadanya.


"Aku ahlinya, apakah kamu gila mengatakan goyanganku payah?"


"Kamu masih jauh dari pacarku, kamu bukan apa-apa."


"Begitu, lalu coba buat pacarmu bergoyang di depanku, aku ingin melihat."


Chiya tidak mau kalah dan memberikan tantangan.


"Goyangnya hanya untukku, ini privasi kita."


Yusuke tidak mau peduli, dia mendorong Chiya keluar dari rumahnya.


"Aku mau mandi, kamu pulang."


"Kamu mau mandi?"


"Ya, kamu cepat pulang."


Chiya menempelkan dadanya ke Yusuke, mereka saling menatap.


"Apakah kamu memamerkan dadamu kepadaku?"


"Apakah mereka sangat lembut?"


"Biasa saja."


"Keke kamu impoten."


Yusuke menyunggingkan senyum terburuknya, Chiya tersenyum melihat senyuman itu.


"Wow, kamu terlihat seperti bajingan sungguhan, huh?"


"Gunung longsor."


"Bajingan ini, siapa yang kau panggil gunung lorong? Apa kau mau lihat ini secara langsung?"


Mata Yusuke melebar dengan Chiya yang benar-benar nekat yang langsung meraih bajunya dan memamerkan dadanya.


"Lihat! Apakah ini yang kamu sebut longsor?!"


"Mereka tidak ..."


'Gila! Mantap!'


Yusuke menarik baju Chiya ke bawah, dan berbicara.

__ADS_1


"Lain kali pakai..."


"Sial, kenapa wajahmu merah, kamu bukan perjaka, kan?"


"Pulanglah, pulanglah."


"Hahaha, kamu perjaka impoten!"


Yusuke menyilangkan tangannya, Chiya masih tertawa sampai air matanya keluar, dia menikmati sesuatu yang sangat tidak terduga.


"Aduh perutku kram bajingan, kamu masih perjaka?"


"Bising."


"Kamu tahu mereka sangat 'Soft' untuk dipijat, dan dinikmati, kamu bisa memegangnya jika kamu benar-benar mau, bagaimana dengan itu?"


"Mengapa aku harus memegangnya, aku bisa memegang pacarku semauku."


"Hahaha, kamu pasti gemetar saat memegangnya, hahaha!"


"Aku bahkan berani mengisap mereka," kata Yusuke.


"Cobalah," kata Chiya sambil memegangi dadanya dengan kedua tangan.


"Hanya punya pacarku, aku tidak berminat untuk mencoba punya wanita lain. Aku bukan bajingan tanpa akal."


"Dasar munafik."


"Aku tidak peduli."


"Bahkan jika aku menyebutmu bajingan, kamu lebih baik dari kebanyakan bajingan," kata Chiya.


"Aku hanya bajingan untuk pacarku."


Yusuke mengantarnya keluar dari rumahnya.


Yusuke langsung pergi ke kamar mandi setelah dia menutup pintu.


"Aku tidak bisa menahan diri."


Setelah mandi dia melihat ponselnya, ada dua panggilan tak terjawab.


Yusuke tersenyum sambil mengirim pesan ke Rena:


'Apakah kamu merindukanku, belum lama kita berpisah, kan?'


Yusuke terkekeh.


Rena membalas pesan itu.


'Yusuke-kun... apa yang sedang kamu lakukan?'


Yusuke berpikir sejenak dan menulis pesan:


'Dia sedang sibuk, jangan ganggu dia lagi.'


'?'


Panggilan video:


"Ha-ha-ha!"


"Jahat...!"


"Hahaha, kamu nangis karena itu, hahaha!" kata Yusuke, dia tertawa puas.


"Jahat-jahat! Kenapa bercanda seperti itu!"


"Kamu sangat bodoh, tulisan tidak jelas dianggap serius ha-ha-ha!"


Rena marah, wajahnya penuh kekesalan.


"Tidak suka..."


"Tidak suka aku?"


"Bukan begitu..."


Yusuke mengubah topik pembicaraan.


"Nanti kalau kamu sudah sembuh total, aku akan datang meminta izin untuk mengajakmu kencan."


"!...kamu berani minta izin?"


"Tentu saja berani."


"Aku akan segera sembuh dan aku—"


"Kita akan pergi ke rumah hantu, itu akan sangat menyenangkan."


Rena jadi merinding.


"Kenapa, kenapa rumah hantu?"


"Aku ingin mencobanya denganmu," jawab Yusuke.


"Apakah tidak ada tempat lain? Aku tidak suka tempat yang menakutkan..."


"Bukannya ada aku? Tidak ada yang menakutkan selama ada aku, kan?"


"Meskipun begitu,"


Yusuke memohon.


"... aku ingin pergi dengan pacarku, sayang sekali kamu tidak menyukainya."


Rena melihat Yusuke semakin sedih.


"Aku ingin, kita akan pergi, kamu jangan sedih ..."

__ADS_1


'Yes, mudah sekali membujuknya hahaha!'


__ADS_2