Menyelamatkan Hashimoto Rena

Menyelamatkan Hashimoto Rena
Tetangga Baru Watanabe Chiya


__ADS_3

⟨ Apartemen Watanabe Chiya ⟩


Bel berbunyi.


Chiya yang sibuk dengan V-tube, bangkit dengan marah, berharap yang datang tidak mengganggu orang.


Ketika dia membuka pintu, dia terdiam, seorang remaja berkacamata yang tampan kini tersenyum padanya.


"Maaf mengganggu, saya tetangga baru."


"Oh..."


'Wah, apa-apaan ini? Apakah dia seorang model?"


Tetangga barunya adalah orang yang ramah, dia memperkenalkan dirinya bahwa dia adalah seseorang dari luar negeri, dari negara K.


Anehnya, Chiya semakin curiga ketika dia selalu mendatanginya.


Chiya menghabiskan waktunya untuk berlari pagi, dia mulai melakukan hal seperti itu sejak Yusuke pindah ke rumah Rena.


"Oh, Shin. Apakah kamu suka jogging juga?"


"Ya. Aku suka joging sejak SMP."


'Bajingan ini tidak kalah tampan dari Yusuke.'


Hubungan mereka semakin dekat, bahkan selama seminggu ada banyak kesenangan bagi Chiya untuk melupakan perasaan rindunya pada Yusuke.


"Aku membawa sesuatu yang bisa kamu coba."


"Apa itu?"


Chiya bertanya karena perasaan.


"Ini ayam bumbu pedas, kalau suka pedas pasti suka."


"... Aku sangat suka pedas."


Chiya ingat saat Yusuke menegaskan: 'Saat pria asing datang, tidak diizinkan membawanya ke rumah.


Namun, Chiya berpikir cukup lama, dia juga menyimpulkan bahwa untuk Shin yang terlihat baik dan cukup polos dia mengizinkan Shin untuk masuk.


"Ini sangat merah seperti yang kamu katakan, seperti sangat panas."


"Di tempat saya tinggal ini sangat populer kadang disertai dengan minuman."


"Oh, kamu suka minum juga?"


"Tidak juga, hanya karena kesopanan."


Saat dicoba rasanya benar-benar sangat pedas, rasanya yang enak dan pedas membuatnya semangat dan meminta cola setelahnya.


"Pwaah~"


"Kamu sepertinya menyukainya?"


Dia menunjukkan gigi putihnya sambil tersenyum.


Senyum yang begitu jelas membuatnya mengingat Yusuke.


'Bajingan ini tersenyum seperti dia ...'


Saat di kelas untuk pertama kalinya, Ayumi penasaran.


Chiya lebih sibuk dengan ponselnya saat jam istirahat.


"Mengapa kamu tersenyum seperti itu?, betapa anehnya."


Chiya pun menjawab pertanyaan dari Ayumi.


"Aku punya teman yang sangat tampan, dia orang luar negeri."


Minami juga berbicara sebagai seseorang yang menganggapnya enteng.


"Sepertinya seseorang berpaling."


"Kekeke, tentu saja tidak. Dia hanya temanku. Aku masih menyukainya," kata Chiya mengarah kepada Yusuke.

__ADS_1


Suatu ketika momen yang paling tidak terduga adalah ketika dia sedang makan di kedai yang tidak jauh dari apartemennya, bersama Shin.


'Kencan?' 


Dia tidak menyangka Shin akan berbicara seperti itu, dia cukup kagum dengan pemuda yang kini sedang mengelus belakang lehernya sambil berbicara.


"Aku tahu ini belum sebulan, pasti terdengar konyol."


"Kamu terlalu mudah menyukai seseorang, aku menolak."


Shin tersenyum seperti pemuda yang menyedihkan, Chiya memandangnya dan merasa kasihan. 


Namun, dia tetap bertahan dengan pendiriannya.


Di ambang pintu apartemen Chiya.


Shin juga berbicara.


"Terima kasih telah menerima undanganku."


"Sama-sama, ayolah kenapa kamu begitu sedih?"


Shin tersenyum dan menjawab.


"Saya merasa ceroboh dengan hasil yang ceroboh."


Saat berada di balkon.


Chiya merenungkan dan merenungkan semua yang dia alami akhir-akhir ini.


Konyol baginya yang tidak bisa berbicara kasar seperti biasanya, dia merasa bahwa dengan Shin, dia menjadi gadis yang baik.


"Sepertinya dia belum pernah pacaran, sayang aku langsung menolaknya, kekeke..."


Satu lagi pagi yang tak terduga terjadi ketika Shin terlihat lebih modis dan tidak memakai kacamata.


"Wow, kamu terlihat lebih baik dengan itu."


"Benarkah? Menurutku ini sangat aneh, bukankah ini terlihat konyol?"


***


Sejak saat itu sepertinya ada jarak antara Shin dan Chiya.


Perasaan tidak enak yang Chiya rasakan.


Suatu kali Shin, yang banyak berubah dan membawa seorang wanita ke apartemen, membuat Chiya terdiam.


Chiya yang tidak tahan, memberanikan diri untuk bertanya dan mendapatkan jawaban yang mengejutkan.


"Semua karena aku!"


Dengan senyum pahit dan sedih, Chiya menyalahkan dirinya sendiri, semuanya karena dia, dan akibatnya Shin mencari pelarian dengan tidur dengan banyak wanita.


"Bajingan, kamu seperti ini karena aku menolak."


Chiya menyentuh keningnya sendiri dengan frustasi, dia memilih untuk kembali ke kamarnya.


Shin yang tinggal di kamar apartemen Chiya yang sebelumnya.


Chiya benar-benar bisa mendengar suara itu.


"Anak baik menjadi bajingan karena aku, sial, apakah ini masuk akal, kamu langsung berubah karena aku menolak?"


Dia bergumam di kamar dan merasa bersalah.


⟨ Kafetaria Sekolah ⟩


"Mengapa kamu terlihat sangat tertekan?"


Pertanyaan Ayumi dijawab dengan senyum tipis dari Chiya.


Sesuatu yang tidak bisa dia katakan kepada siapa pun bahwa dia telah mengubah seseorang menjadi bajingan.


Dia merasa semakin buruk oleh suara yang ada di seberang ruangan.


"Sialan, berapa lama kamu akan menjadi seperti bajingan ..."

__ADS_1


Chiya menggigit bibirnya dengan erat, dia merasa sangat marah dan marah.


Dia tidak akan peduli jika Shin sudah seperti itu sejak awal, tapi karena suatu alasan; 'Semuanya karena dia?'


Chiya mengayunkan tangannya untuk membentur dinding dan berteriak.


"Kamu bajingan Shin, berisik sekali!"


Dia tidak bisa menahan omongan kasarnya yang biasa.


15 menit kemudian.


Mereka sedang berbicara di ambang pintu.


Shin dengan tegas berbicara.


"Apakah ada masalah denganmu Chiya?"


Chiya menunduk sambil menjawab.


"Kamu sangat berisik, kamu seperti gigolo. Wanita yang kamu bawa semuanya lebih tua darimu."


"Bukankah kamu sama dengan yang kudengar kamu adalah sesuatu yang memikat pria ke kamarmu?"


Mata Chiya bergerak panik.


"..."


"Aku sangat frustasi mendengarnya, sungguh aku menghilangkan rasa kecewa dengan mengikuti jejakmu."


"Ha-ha-ha!"


Chiya tertawa mendengarnya.


Shin menunjukkan layar ponselnya.


"Aku dengar kamu juga menyukainya? Sayang sekali, kamu ingin melahap pacar seseorang? Bahkan kalian berdua adalah teman?"


Chiya tersenyum sedih karena kata-kata itu hampir sama dengan saat dia berbicara dengan Minami.


"Sialan kau gila..."


"Aku akan mencoba juga, akan menarik jika aku juga melakukannya sepertimu? Bahkan akan sangat berani untuk tidak bermain halus, aku juga penasaran seperti apa rasanya Hashi—"


- Plak! Suara tamparan.


"Jangan membuat alasan untuk omong kosongmu dengan melakukan apa yang aku lakukan?! Kamu pikir kamu harus jadi sepertiku?"


Shin mengalihkan pembicaraan.


"Aku seseorang yang kamu sakiti bukan? Sungguh kamu adalah cinta pertamaku, kamu mengecewakanku dan aku menjadi seperti ini?"


Chiya tersenyum miring, dan berbicara dengan kasar.


"Dasar bajingan, gigolo. Kau tidur dengan banyak wanita dan mengatakan kau mencintaiku? Wanita bodoh mana yang akan mempercayai hal sialan itu?"


Shin melangkah maju untuk membawa Chiya ke kamar apartemennya.


Pintu dikunci dengan suara 'klik'.


Tatapan Chiya memelototi Shin.


"Kamu sudah menjadi bajingan besar Shin."


"Semuanya berkat kamu Chiya?"


Chiya mengatupkan bibirnya, dia semakin kesal dan ingin menamparnya dengan keras.


"Aku—"


"Karena aku bajingan, aku akan memuaskan kamu Chiya."


Chiya tersenyum sedih.


"Sial, kalian sama kecuali Yusuke ..."


"Sungguh aku harus keras padamu."

__ADS_1


__ADS_2