
Suasana canggung yang tidak menyenangkan kedua gadis yang hanya saling diam. Yusuke merasa kepalanya menjadi sakit kepala karena ia harus berurusan dengan sesuatu yang sulit untuk ia atasi.
"Kamu datang ada keperluan apa?"
Pertanyaan yang langsung pada intinya, Rena menatap Chiya.
"Ya ampun, apakah begini cara tuan rumah memperlakukan tamunya?"
Yusuke memilih diam ia pergi ke dapur untuk membuat teh.
'Sungguh tidak masuk akal satunya pacarku, satunya lagi gadis yang menyukaiku... parah sekali...'
"Yusuke-kun biar aku saja, kamu diam di sini dulu ya?"
Yusuke tersenyum.
"Apakah aku harus menonton kamu menyeduh teh?"
"Lalu, apa kamu mau menemui dia, dan membiarkan aku di sini sendiri?"
Yusuke menekankan bibirnya ke daun telinga kiri Rena.
"Apakah kamu cemburu lagi?"
"... Aku tidak cemburu. Aku cuma bilang kamu di sini temani aku."
"Chiya cuma temanku, kami tetangga dan tidak ada hubungan spesial apa pun."
Rena mengerutkan keningnya.
"Apakah kamu tidak percaya?"
"... aku percaya, semua yang Yusuke-kun katakan pasti aku percaya."
Yusuke menunggu Rena yang sedang menyeduh teh.
"Kamu tahu kalau cemburu berlebihan itu tidak baik, orang bilang kalau itu akan jadi penyakit."
"Ahem, itu cuma omongan orang saja. Yusuke-kun masih percaya saja dengan sesuatu yang seperti itu."
"Rena-chan?"
"Ya?"
"Kamu yang sekarang sangat imut dengan bawelmu."
"Apakah Yusuke-kun tidak suka kalau aku jadi seperti itu? Aku banyak bicara karena aku ingin ja—!"
"Wajahmu lucu sekali, ha-ha-ha..."
"Kamu curang! Aku belum siap!"
"Sudah-sudah, kamu selesaikan dulu menyeduh teh. Kamu nanti akan dapat lagi yang lebih banyak."
"Sungguh?"
'Sungguh. Kamu sudah kecanduan...'
"Tentu."
"Hehehe..."
'Dia tertawa genit seperti itu sungguh...'
"Ah ya ... Yusuke-kun, aku punya cara mengikat yang baru."
"Jangan lakukan lagi, harga diriku seperti akan jatuh ke lantai setiap kamu melakukannya."
"Padahal kamu lucu kalau diikat seperti itu aku suka melihatnya."
"Kamu bahkan sekarang lebih mesum dariku, seperti sudah akut."
"Kamu mengatakannya seperti penyakit saja. Aku hanya mulai dengan hobi itu."
'Yang aku heran adalah harusnya dia jadi penurut tapi tidak selalu menuruti yang ku mau ia menolak jika itu benar-benar tidak dia sukai... Rena yang tidak suka aku dekat dengan gadis lain.
Apakah semua gadis-gadis di dunia seperti dia kalau punya pacar? Ayolah Kim Chul, dunia ini bukan dunia asalmu jadi sesuatu yang aneh akan banyak terjadi.'
Yusuke melihat Rena dan Chiya secara bergantian, persaingan yang aneh dengan mereka berdua yang hanya saling memandang.
__ADS_1
'Cuma saling menatap sudah seperti terjadi perang... aku harus bersyukur aku meratapi nasib karena jadi rebutan?'
Chiya menoleh dan bertanya pada Yusuke.
"Apa yang kamu kerjakan baru-baru ini Yusuke?"
'Dia mulai dengan pertanyaan basa-basi?'
"Kerjaanku hanya bercinta dengan Rena-chan."
Raut wajah Chiya berubah gelap.
'Bajingan! Impoten!'
Rena berkedip seakan menunggu kelanjutan dari ucapan Yusuke.
'Aduh! Apakah kamu tidak malu? Rena-chan, kenapa kamu begitu bersemangat?'
Chiya menopang kakinya dengan kaki satunya. Ia bicara dengan sombongnya.
"Aku sangat ahli dengan yang kalian lakukan, posisi apa saja yang sudah kalian coba?"
Yusuke tidak ingin menjawab karena semua posisi hanya Rena yang mengaturnya.
Rena bicara dengan acuh tak acuh.
"Aku hanya berbaring."
Chiya melihat Rena, ia tersenyum kaku.
"Lalu apa lagi?"
"Hanya itu saja."
"Hahaha! Sialan kau kasihan sekali, ha-ha-ha!"
Yusuke bersandar dan memalingkan wajahnya.
'Tertawalah sepuasmu bajingan.'
Chiya melihat Yusuke dengan tatapan merendahkan dan bicara tanpa suara.
'Payah, pecundang, impoten, bajingan?'
Yusuke tersenyum canggung saat kedua gadis yang saling membicarakan masalah yang tidak seharusnya.
'Kenapa kalian membicarakan itu secara terbuka, aku yang seorang pria sampai malu mendengar kalian membicarakannya.'
"Apakah tidak ada yang lain yang bisa kalian bicarakan? Rena-chan kamu juga kenapa begitu memamerkan hobimu?"
Rena menatap Yusuke.
'Apa dia marah?'
Chiya tersenyum.
"Apakah kamu sehat?"
"Maksudmu?"
Rena tak memahami maksud Chiya.
"Kamu tadi bilang kalau kalian sudah sering, dan sangat aneh kalau kamu tidak hamil sampai sekarang, apakah kamu tidak ingin memeriksanya?"
Rena berpikir dan berpikir ia melupakan yang paling penting.
"Bahkan kalian tidak memakainya bukan?"
"Chiya, kau menakutinya."
"Yusuke, aku cuma bicara untuk kebaikan kalian."
"Apa kamu bodoh, yang semacam itu bukan manusia yang menentukan."
"Memang benar."
Rena menjadi cemas saat mendengarkan Yusuke dan Chiya saling bicara.
"Yusuke-kun, ayo kita pergi ke rumah sakit."
__ADS_1
"Huh? Kamu mau kita ke rumah sakit?"
"Ya, kita harus ke rumah sakit. Aku penasaran juga kenapa aku belum hamil juga."
'Matanya yang seperti itu kadang menakutkan...'
"Tidak. Kita masih pelajar. Kita hanya perlu menunggu, jika kamu tidak hamil berarti belum waktunya kamu hamil. Kamu harusnya merasa beruntung karena belum hamil karena kita masih pelajar."
'Sialan! Aku salah bicara bajingan!'
"Aku pergi dulu, terima kasih atas tehnya!"
Chiya membungkukkan badan.
"Kamu hebat sekali, aku kagum kekeke..."
Chiya bicara dengan suara rendah saat di dekat Yusuke.
Yusuke mengantar Chiya sampai keluar rumah.
"Kau sengaja melakukannya?"
"Tidak. Aku cuma berpikir itu sangat aneh, normalnya dia akan segera hamil."
"Kenapa kamu sangat tahu tentang itu."
Chiya tersenyum.
"Apakah aku harus menjawabnya?"
"Kamu tidak perlu menjawabnya."
Chiya tersenyum.
"Aku senang bisa melihatmu."
"... aku juga tapi sebagai teman."
"Ayolah, apakah hanya teman kekeke..."
"Hati-hati di jalan, jangan naik kereta api."
"... Aku mengerti, terima kasih sudah mengingatkanku."
Yusuke menoleh dan yang dilihatnya adalah Rena yang terlihat sedih. Yusuke meyakinkan bahwa tidak perlu pergi ke rumah sakit.
"Kita harus pergi ke rumah sakit, apa kau tidak penasaran?"
"Apakah kamu tidak malu? Nanti orang akan berpikir buruk tentangmu?"
"Itu benar ..."
"Maaf jika cara bicaraku benar-benar buruk, aku tidak ingin orang menjelek-jelekkanmu, lebih baik tunggu saja."
"Ya," jawab Rena lesu, seolah-olah dia tidak bersemangat.
"Apakah kamu sedih karena aku berbicara seperti aku tidak menginginkan anak?"
"Ya... kupikir kamu tidak ingin punya anak..."
"Aku ingin memilikinya, ingat jangan terlalu memikirkannya."
Rena mendekat dan memeluknya, dia masih memikirkannya dan rasa ingin tahunya semakin kuat untuk membimbingnya pergi ke rumah sakit.
Rena melihat Yusuke, dia tersenyum.
"Apa kamu lapar?"
"Aku lapar sekali, apa kamu mendengar perutku keroncongan tadi? Perutku sangat menginginkan masakanmu Rena-chan."
"Kamu berbicara sangat manis, aku akan memasak."
Yusuke meraih tangan Rena, dan memeluknya.
"Jangan sedih, aku tahu kamu ingin pergi ke rumah sakit."
"Aku tidak ingin pergi ke rumah sakit ..."
"Ayo ke dapur, aku akan membantumu memasak."
__ADS_1
"Benarkah? Aku sangat senang jika Yusuke-kun membantu, itu akan sangat menyenangkan!"
Rena berkedip saat pipinya disentuh.