
Yusuke merasa kasihan pada Rena yang rajin belajar di liburan musim panas yang seharusnya ia nikmati. Rena mengeluh karena cemburu pada Ayumi dan Minami yang bisa bermain bersama.
Yusuke mendengarkan saat video call dengan Rena yang sedang belajar.
"Jangan makan terlalu banyak ramen tidak baik untuk kesehatan."
"Baik Nyonya."
"Kenapa kamu memanggilku Nyonya?!"
"Karena kamu cerewet seperti Nyonya."
"Kenapa kamu tidak belajar, kamu hanya nonton film terus?"
"Aku sudah pintar, bisa santai, tidak seperti mereka yang belajar untuk menjadi pintar.”
"Jahat, aku akan menjadi sepertimu jika aku pintar!"
"Kekeke, semoga berhasil mencoba yang terbaik Nyonya."
"Yusuke-kun, aku tidak suka dipanggil nyonya, aku belum tua."
"Oke, aku akan memanggilmu Kelinci, Rusa Betina?."
"Tidak mau ... tidak suka ..."
"Terus kamu sukanya dipanggil apa?"
"Panggil seperti biasanya saja," jawab Rena.
Yusuke melihat Rena yang mulai bosan dan mencoba untuk tetap fokus, saat hendak mematikan video call, Rena melarangnya.
"Jangan."
"Kamu tidak akan bisa fokus, kita akan melakukan video call lagi nanti."
"Mau kemana? Lebih baik untuk seperti ini, kan?"
"Manja sekali, aku matikan ya?"
"Tidak boleh. Kamu sangat jahat..."
"Bagaimana bisa terus seperti ini, kecuali kamu terbuka," kata Yusuke dengan banyak makna tersembunyi.
"Menakutkan kalau kamu tersenyum seperti orang mesum."
Yusuke terkekeh.
"Itu nama laki-laki sejati, kalau aku tidak melakukan ini aku akan menjadi waria."
"Alasannya benar-benar pintar..."
Rena melihat Yusuke sedang memikirkan topik yang akan dibicarakannya.
"Bosan?"
"Sedikit, sangat tidak nyaman karena jauh."
Rena mengangguk.
"Lebih nyaman kalau ketemu langsung, aku tidak bisa pergi..."
"Aku akan kesana, apa rumahmu sepi?"
"Tidak. Memangnya kenapa?"
"Sayang sekali..."
"Eh, kenapa sayang sekali?"
Yusuke pergi untuk membuang wadah ramen dan kaleng cola.
Rena melihat ketika Yusuke masih membawa ponselnya dan terus bicara yang lebih ke arah yang tidak baik untuk sebagai contoh obrolan.
"Kenapa bicara seperti itu, kau menjadi seperti orang cabul, kan?"
"Ya, daripada tidak yang diomongin lagi."
"Seharusnya romantis, kenapa harus jadi masalah posisi tidak jelas seperti itu..."
Rena cemberut.
"Anggap saja untuk pelajaranmu nanti, haha..."
"Aku... aku tidak terlalu kesal, aku hanya tidak suka kalau kamu seperti itu..."
"Terus? Bukankah kamu menikmati mengisap seperti waktu itu?"
"Jangan bahas itu!"
__ADS_1
Rena mulai muak.
Ia mencoba bersabar agar tetap bisa melakukan video call.
- Blush!
Rena menutupi wajahnya dengan satu tangan, dia mengintip di antara jari-jarinya. Yusuke melepas kemeja ungu yang dia kenakan sebelumnya.
Yusuke tersenyum melihat apa yang dilihatnya dan mulai melakukan tarian bodoh, yang langsung membuat Rena tertawa hingga buku yang ada di meja belajar jatuh ke lantai.
"Kenapa tarian itu aneh sekali, hahaha..."
Yusuke terlihat semakin bodoh dengan tarian seperti bebek berjalan dengan goyangan konyolnya.
Yusuke berhenti karena Rena buru-buru pergi.
"Kenapa dia kabur?"
Setelah beberapa waktu berlalu Rena kembali dan duduk diam.
"Jangan menari seperti itu lagi..."
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya?"
"Aku menyukainya ... jangan lakukan itu lagi," kata Rena.
Yusuke yang pura-pura bodoh dan terus-menerus bertanya, dan melanjutkan tarian konyolnya sampai Rena angkat bicara.
"Aduh! Yusuke-kun aku tidak tahan, jangan menari—! "
Rena kabur lagi.
Saat kembali langsung diserang oleh olok-olokan dari Yusuke.
"Hahaha, aku menemukan sesuatu yang menarik. Kamu tidak tahan dengan hal-hal lucu? Bagaimana kamu puas mondar-mandir ke kamar mandi? Tidak sampai ngompol, kan?"
"Bodoh! Aku membencimu!"
Rena mengakhiri video call-nya.
Rena kembali belajar dengan perasaan bosan yang mendera.
Ponsel berdering dan pesan dari Yusuke:
'(^ _ ^) Aku mencintaimu Rena-chan.'
Rena membalas pesannya:
Pesan berikutnya berbunyi:
'(^ ~ ^) Semangat belajar Rena-chan.'
Rena membalas pesan:
'(T - T) Yusuke-kun…'
Rena melihat layar ponsel, dia tidak mendapatkan pesan baru, dia merasa ingin pergi ke tempat Yusuke.
Rena mulai resah dengan sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan, menyebut nama Yusuke seketika itu juga ada yang aneh di dadanya, ia terus memanggil namanya dan itu terasa.
Dia menekan dahinya dengan telapak tangannya, dia pikir itu konyol untuk terburu-buru menikah.
Mata Rena menjadi sedih saat mengingat perkataan ayahnya jika Yusuke tidak menjadi orang sukses, Rena pasti akan menjadi istri orang lain.
Rena ingat pertanyaan itu saat berada di taman bermain; 'pertanyaannya adalah jika ada yang menyukai Yusuke apa adanya?' Rena menggigit bibirnya dengan kuat, ia terbayang wajah gadis bernama Chiya itu.
Rena menghela napas, dia melihat begitu banyak buku yang harus dipelajari. Liburan musim panas yang panjang dihabiskan hampir seluruhnya untuk belajar. Rena mulai takut tumbuh dewasa, dia menerima hari dia akan melihat bahwa Yusuke gagal menepati janjinya. Pemikiran positifnya turun, faktanya tidak mudah menjadi orang sukses.
Ponsel berdering.
Panggilan untuk melakukan video call.
"Masih belum selesai?"
"Belum."
"Jangan terlalu banyak memaksakan diri, istirahatlah."
"Aku belum selesai, aku harus menyelesaikannya."
"Lupakan saja. Aku akan membantumu, kamu bisa menyontek."
"Ah, tidak ..."
Rena malu saat harus curang, dan tidak mudah juga melakukannya.
"Tidurlah. Kamu mengantuk dan kamu terlihat sangat lelah."
"A-apa begitu jelas?"
__ADS_1
"Ya."
Rena membereskan semuanya, ia pergi tidur.
Saking ngantuknya Rena lebih memilih melihat Yusuke daripada banyak bicara. Yusuke hanya diam dan menatap layar ponselnya. Rena berkedip dan berusaha untuk tidak tertidur.
"Tutup matamu, kenapa kamu bangun, masih banyak hari esok."
"Tidak mau."
"Tidak mau? Pilih Tidak atau mau?"
"Hehe... Tidaklah."
Rena merangkak bangkit, ia mematikan lampu.
"Rena-chan?"
"Mmm?"
"Aku akhiri video call-nya."
"Jangan."
Yusuke menunggu dan cukup berbicara tentang apa yang terjadi, Rena terkena ponsel yang jatuh di wajahnya.
"Tidak kelihatan..."
"Mm..."
"Rena-chan?"
"Mm..."
"Buka bajumu."
"Ya ..."
"Dia mengigau seperti orang mabuk."
"..."
"Aku sungguh jadi pengasuh bayi, hah ... Selamat tidur Rena-chan."
"... Yu..."
Yusuke mengakhiri video call.
Rena terbangun dan mencari ponsel yang tidak jauh dari tempatnya.
Ponsel di sebelah kanannya, layarnya sudah hitam, dan Rena tersenyum tipis, dia memutuskan untuk tidur.
"Karena ketiduran..."
Pagi hari kepalanya sakit karena tidak bisa tidur dan tidur saat hampir pagi.
Tidak ada pesan baru dari telepon.
"Rena bangun, sarapan."
Hashimoto Hikari melihat putri satu-satunya yang sedang tersenyum sendiri. Hikari menghembuskan napas mengerti, tapi alangkah buruknya jika membuat Rena tidak fokus belajar.
"Mama, bolehkah aku pergi ke tempat Yusuke-kun?"
"Tidak. Kamu tidak bisa pergi."
'Padahal libur panjang...'
Dia membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah, dan kembali belajar, dia bosan dan bosan.
'Biasanya dia tidak seperti ini, semuanya terjadi karena dia mulai berkencan.'
Sang ibu mulai memberikan nasehat, yang tidak boleh terlalu terpaku dengan yang namanya pacaran. Cinta pertama memang banyak warna dan bisa dipahami oleh ibunya.
"Kamu tahu, dulu Mama juga punya cinta pertama, ya... itu hanya kisah hidup dengan akhir yang kurang pas."
“Mmm…”
Rena mendengarkan tanpa minat, dia bisa menebak bahwa cerita itu tidak menyenangkan.
Ibunya memang pengertian; dukungan yang hanya sampai batas wajar, untuk masa depannya sendiri lebih baik memilih hal-hal yang sudah sangat jelas.
"Pacar dan suami sangat berbeda, kuharap kamu dijodohkan dengan Yusuke-kun..."
"Mama... Papa sepertinya kurang mendukung..."
"Mmm... Papamu lebih melihat realita, apa yang terjadi di dunia yang kejam, hehe..."
Ibunya tertawa canggung.
__ADS_1
'Dunia orang dewasa…'