
⟨ Perpustakaan Sekolah ⟩
Yusuke memandangi Rena yang sangat fokus belajar. Calon istrinya yang sangat rajin membuatnya tidak bisa berhenti memandanginya.
"Yusuke-kun ... kenapa kamu menatapku seperti itu?, aku tidak bisa fokus..."
"Bagaimana aku tidak menatapmu?, kamu sangat cantik."
Rena tersipu, dia ingin lari dari perpustakaan.
"Ya ampun ... kenapa bibirmu begitu menggoda, aku ingin menciumnya."
"... tolong berhenti menggodaku, kamu sengaja melakukannya, aku malu...,"
Rena menatapnya.
"Kamu lebih baik mengajariku IPS, aku akan sangat berterima kasih."
"Aku ingin saja mengajarimu... apa yang aku dapatkan? Kamu tahu tidak ada yang gratis?"
"... menjengkelkan, bukankah kamu sudah mendapatkan ..."
"Hanya memegangnya di mana aku puas,"
Yusuke tersenyum nakal.
"Aku ingin lebih, kamu harus memberi lebih banyak."
Rena menangis di dalam, baginya sangat sulit untuk mengikuti pacar yang tidak tahu tempatnya. Yusuke menunggu dengan sabar dengan senyum bahagia.
"..."
"Bagaimana?"
"Aku tidak mau, aku terlihat sangat mudah untukmu ..."
"Meskipun kamu bilang begitu~ saat kamu memegang kendali, kamu sangat liar~"
Rena mengangkat tangannya siap memukulnya dengan sebuah buku.
Yusuke terkekeh saat dia menghindarinya. Rena duduk kembali dengan wajah kesal.
"Tolong fokus kembali, kita di sekolah, kita harus serius."
"Baik Bu, saya serius."
Saat tengah serius Yusuke berbicara lagi.
"Apakah kamu masih menyukai Takeru?"
Rena menoleh.
"Rena-chan?"
"Kenapa kamu menanyakan itu, sudah jelas ..."
"Apanya yang sudah jelas?"
Yusuke bersandar di bahu kiri Rena.
"Sudah jelas, jika hanya kamu yang aku cinta,"
Rena tersipu.
"Aku tidak menyukainya lagi."
Yusuke duduk tegak, terlihat serius dari raut wajahnya. Rena jadi penasaran dengan perubahan sikap Yusuke.
"..."
"Ada apa Yusuke-kun?"
"Aku baru ingat kalau ada murid yang di-bully di sekolah."
Rena berkedip.
"Apakah ada siswa yang di-bully di sekolah."
"Sato Midori... kamu kenal Sato Midori, Rena-chan?"
"Aku tahu namanya, tapi aku tidak dekat dengannya, apakah dia di-bully?"
"Ya, aku melihatnya ketika aku berada di pintu toilet."
Rena yang mendengarkan, dia merasa kasihan. Yusuke bermaksud membantu Midori agar tidak di-bully oleh siswa di sekolah.
"Mungkin akan sulit," gumam Rena.
Rena menatapnya dan berbicara lagi.
"Para pengganggu sangat kasar, kamu akan mendapat masalah jika ikut campur Yusuke-kun."
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa hanya duduk diam."
Rena tersenyum dengan niat baik pacarnya yang ingin membantu orang lain, namun yang akan Yusuke bantu adalah seorang gadis culun yang terkenal pendiam.
"Bagaimana kalau aku ikut? Yusuke-kun akan kesulitan sendirian dan bertanya padanya.. Aku bisa membantunya percayakan padaku."
Yusuke tersenyum.
"Kamu yakin?"
"Sangat percaya diri."
"Percaya diri?"
Yusuke pun mengajak Rena untuk ikut menemui Midori yang tidak ada di kelasnya, saat mereka berdua mencarinya, ternyata Midori ada di pojok belakang sekolah.
Rena buru-buru membantu Midori untuk bangun, seragam sekolah gadis berkacamata itu terlihat sangat kotor.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit."
"... terima kasih... UKS saja sudah cukup..."
Yusuke mengikuti mereka berdua.
'Terlalu banyak pada tahap ini karena bagaimanapun yang diganggu adalah seorang gadis ...'
Sesampainya di Ruangan UKS.
Penjaga UKS itu hanya tersenyum kecut melihat keadaan Midori.
"Tidak mungkin untuk melaporkannya, kamu tahu ini juga akan mempengaruhi nama sekolah."
Wanita penjaga di UKS mengatakan semua yang dia pikirkan tentang risikonya.
Yusuke tersenyum kecut, dia mengalami hal serupa karena alasan yang sama. Dia hanya punya satu cara, yaitu melawan para pengganggu.
Yusuke ingin tertawa ketika mengetahui bahwa yang membuat onar adalah siswa baru yang nakal membuatnya ingin pergi dan segera menendang mereka satu per satu.
Murid nakal dengan tubuh besar dan jauh lebih tinggi dari Yusuke.
'Apakah bajingan ini ...?'
"Apa senior mencariku?"
"Betul. Aku ingin bertanya apakah kamu yang merundung Sato Midori?"
"Benar. Aku yang melakukannya, apakah senior akan menjemputku untuk berkelahi?"
Siswa bernama Dai itu segera melemparkan tinjunya, yang dihindari Yusuke dengan mundur beberapa langkah.
'Tidak buruk, dia bukan tong besar semata...'
"Senior? Tidak berani melawanku?"
Yusuke hanya menghindari serangan berulang dari Dai. Yusuke menilai Dai sudah memiliki pengalaman bertarung yang sesungguhnya.
'Wow~ hampir saja~"
Yusuke menahan tinju Dai, Yusuke bisa merasakan betapa berat pukulan Dai.
“Ternyata senior jago bertahan, aku jadi semangat menjadikan senior sebagai bubur."
"Kekeke..."
Dai melihat Yusuke sebagai sesuatu yang harus dia kalahkan. Dai sudah tahu bahwa semua siswa di sekolah bukanlah tandingannya sampai dia bertemu Yusuke.
"Yusuke-kun...!"
Yusuke menghindari pukulan itu, dan menatap Rena.
"Mengapa kamu di sini?"
Semua orang di kerumunan memandang Rena.
Dai tiba-tiba berbicara.
"Cantiknya..."
"Oi, apa kau bilang cantik pada pacarku?"
"Si cantik itu pacar senior sungguh aku ingin mencobanya."
"..."
Yusuke menatap tajam.
"Setelah aku mengalahkan senior, aku ingin pinjam pacar senior seminggu."
"Kau memaksaku menghitung gigimu."
"Menghitung gi—!"
__ADS_1
Dai langsung dihajar oleh Yusuke yang langsung mengincar wajahnya.
Semua orang terbelalak termasuk Rena.
"Terlalu keras, muka batu ..."
Yusuke kecewa, dia masih jauh dari masa SMA-nya di kehidupan sebelumnya.
"Hanya dua gigi ..."
"Yusuke-kun tanganmu berdarah!"
"... aku sangat lembek..."
Para guru yang datang langsung mengamankan dan memerintahkan siswanya untuk masuk ke kelasnya. Yusuke pergi ke UKS diantar oleh Rena.
"Syukurlah itu tidak terlalu buruk ..."
Yusuke tersenyum saat Rena membalut tangannya.
"Jangan sedih pacarmu baru saja menang dalam satu gerakan, kamu harus bangga."
Rena melihatnya.
"... aku tidak bangga, sangat berbahaya."
"Sama sekali tidak berbahaya. Kamu lihat aku baik-baik saja?"
"Tapi yang kamu lawan itu menakutkan ..."
"Apakah karena wajahnya yang terlihat seperti Gorila?"
Rena berkedip, dia hampir tertawa.
"Pacarmu sangat kuat, aku bisa melawannya dengan mudah meski ada lima Gorila seperti dia, aku masih bisa menang—"
sela Rena.
"Jangan sombong...!"
Rena menutup mulutnya sendiri dengan satu tangan, dia menatap Yusuke dengan menyesal.
"Maaf... Yusuke-kun, aku hanya tidak ingin kamu bicara seperti itu..."
"Aku marah."
"J-jangan..."
"Aku sangat marah. Aku membelamu dengan mengalahkan Gorila."
Rena hampir tertawa.
"Kamu tahu Gorila itu tangguh?"
"Kamu bahkan memukulnya sekali. Dia langsung jatuh."
"Mungkin karena dia masih anak Gorila."
Rena tersipu.
“Yusuke-kun ... kita masih di sekolah…”
"Hanya berciuman, berciuman, kamu tidak mau?"
"..."
Sepanjang perjalanan pulang Yusuke tersenyum puas sementara Rena tersipu malu.
"Kamu bohong, kamu bilang hanya berciuman ..."
"Bukankah tadi sambil berciuman?"
"..."
Rena merasa lelah selalu dibodohi.
"Kesal punya pacar mesum?"
Rena tersenyum.
"Aku tidak kesal hanya... lelah mengikuti kemauanmu."
"Kekeke kasihan sekali pacarku ha-ha-ha!"
Rena mempercepat langkahnya.
Yusuke mengikutinya dan berjalan di sampingnya.
"Tolong mengerti karena pacarmu adalah seorang pria."
"... pria mesum ..."
__ADS_1
"Kekeke benar-benar sangat kesal."