
Yusuke bisa bernapas lega dengan kesuksesannya, dia telah menghajar para pengganggu sekolah yang suka membully.
Ia merasa bersalah dengan Rena yang kini menatapnya sedih.
Air mata menumpuk di matanya, Rena menunjukkan kesedihan karena tidak ingin melihat kondisi Yusuke yang sakit.
Yusuke berbicara dengan suara rendah.
"Jangan menangis, aku tidak ingin melihatmu seperti itu..."
"Kamu membuatku menangis, saat di kelas aku terus memikirkanmu..."
Yusuke mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Rena.
"Aku bangga karena kamu menahan diri untuk bersabar dengan apa yang aku lakukan, apakah kamu sedih ketika aku tidak selalu punya banyak waktu untukmu?"
Rena menyentuh punggung tangan Yusuke.
"Aku benar-benar tidak suka kamu mengabaikanku, yang lebih tidak aku suka adalah kamu menyakiti dirimu sendiri seperti ini Yusuke-kun..."
Yusuke tersenyum.
"Pacarku yang cantik sangat perhatian, aku sangat terharu..."
Yusuke bangkit untuk duduk bersandar di tempat tidur. Ia merasa sangat bersalah dan meminta maaf sepenuhnya kepada Rena yang hanya tersenyum. Dengan ekspresi cemberut sambil menyilangkan tangan, Yusuke melihat tingkah Rena yang sangat imut dan jauh dari tingkah laku Rena di dalam game.
"Aku akan sangat marah jika kamu seperti itu lagi! Aku akan marah dan memerahi kamu setiap hari Yusuke-kun!"
"Apakah kamu tega memarahi aku setiap hari?"
Rena menurunkan pandangannya, dia menggelengkan kepalanya dengan lemah.
Rena tersenyum ketika Yusuke menyentuh kepalanya, dia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh hatinya.
Tatapan Yusuke tertuju pada Rena yang sedang tersenyum.
Sulit baginya untuk menilai seberapa cantik kekasihnya.
"Apakah hanya perasanku saja, kalau kamu semakin cantik?"
- Blush!
"Masih banyak yang lebih cantik dariku, ingat bahkan jika ada yang lebih cantik dariku, kamu tidak boleh melihat mereka, mengerti?"
"Caramu bicara itu seperti pengingat untukku?"
"Sebenarnya sangat membuatku takut jika kamu bosan dan pada akhirnya menemukan gadis lain."
"Sial... aku tidak bisa seperti itu sayang."
"Yusuke-kun aku jadi ingin menciummu, berhentilah menggodaku."
Yusuke tersenyum menggoda Rena yang tidak mungkin menciumnya.
"Bibirku sakit, terlalu buruk ..."
Rena menggigit bibirnya sendiri, dia menginginkannya.
"Caramu memandangku seperti memikirkan sesuatu yang tidak normal, jangan bilang kamu ingin mencium pacarmu yang terluka ini?
Rena tersipu.
Rena yang terlihat kesal, dia langsung bangun. Yusuke memutuskan untuk istirahat dan sambil berpikir kalau ia terlalu banyak mengubah segalanya pada akarnya.
'Yang penting kami sangat dekat...'
Dia memikirkan semua yang harus terjadi, banyak yang tidak muncul seperti di cerita aslinya. Orang-orang yang seharusnya muncul di awal sekolah juga tidak hadir.
__ADS_1
'Aku ingin tahu di mana bajingan gila itu, sekolah yang cukup normal dengan hanya para pengganggu.'
Dia masih tidak ingin membuat kesalahan karena dia ceroboh, ia memilih tetap waspada.
Yusuke yang merasa dirinya lebih baik, ikut makan malam dan banyak menjelaskan semuanya. Dia mendapat tatapan simpatik dari ibunya Rena.
Dengan suara yang lebih ramah dari biasanya Handa, meminta Yusuke untuk tidak terlalu memaksakan diri meski dengan niat yang baik, namun dikhawatirkan akan mendapatkan masalah di masa depan.
Yusuke tersenyum dan menjawab dengan anggukan kepala. Ia melihat Rena yang kini balas tersenyum. Ibu Rena tersenyum pada mereka berdua.
Dua hari kemudian Yusuke sudah bisa memakai seragam sekolahnya, ia sudah bisa bergerak bebas, menurutnya tubuhnya sangat tidak normal dengan kecepatan sembuhnya.
"Bukankah cukup curang bahwa dalam dua hari aku bisa pulih sepenuhnya?"
***
Pagi yang lebih dingin dari biasanya. Yusuke menebak jika musim dingin sudah dekat, yang dia tunggu adalah liburan musim dingin.
"Akan ada liburan panjang dan aku bisa santai."
Yusuke mengintip ponsel Rena.
Gadis remaja itu sibuk dengan ponselnya, dia membalas pesan dari Minami dan Ayumi.
"Apakah itu grup? Aku juga ingin ikut."
Rena menoleh.
"Yusuke-kun mau ikut gabung grup?"
"Ya, kelihatannya sangat menyenangkan."
"Tidak boleh."
Yusuke berkedip seperti Rena.
"Yusuke-kun sangat imut."
"Apa aku terlihat lebih tampan?"
"Kamu selalu tampan."
Yusuke merasakan sesuatu yang hangat dan dingin mengalir di dadanya. Dia terdiam dengan kata-kata sederhana yang membuat jantungnya berdebar.
'Sial, aku benar-benar ...'
Semua siswa sibuk dengan belajar dan serius ketika di kelas, siswa nakal menjadi aktif dan mencari cara licik untuk menyontek.
Yusuke masih bisa tersenyum bangga saat semua orang sedang dalam masalah di pikirannya masing-masing. Rena melihat jelas Yusuke yang kini tersenyum puas.
Banyak yang heran dengan Yusuke yang selalu mendapat nilai bagus, dia tidak terlihat seperti siswa kutu buku, banyak yang penasaran, termasuk Midori.
"Yusuke-kun selalu bisa melakukan apa pun, aku bangga."
"Kamu terlalu berlebihan Rena-chan. Kamu tahu kalau tulisanku jelek, bisa bagus juga karena bantuanmu."
Rena tersenyum.
⟨ Rumah Hashimoto Rena ⟩
"Sudah mau liburan musim dingin, apakah kalian benar-benar tidak ingin pergi bersama kami?"
"Tidak Maa, aku ingin di rumah bersama Yusuke-kun."
Rena berbicara terlebih dahulu sebelum Yusuke membuka mulutnya untuk berbicara. Mata Handa melihat Yusuke merasa sangat canggung.
Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya dan mungkin tidak akan percaya jika Rena lebih aktif. Yusuke mengantar kedua calon mertuanya keluar rumah.
__ADS_1
'Selama liburan aku mungkin menjadi tanaman kering, ini antara kesenangan dan siksaan...'
"Rena-chan kita harus bicara."
"Apa itu?"
Rena duduk antusias penasaran.
"Aku tidak ingin diikat."
Rena menggembungkan pipinya.
"Mengapa?"
"Itu sangat tidak menyenangkan, aku mulai merasa tidak nyaman dengan hobimu."
"Yusuke-kun bilang aku bebas melakukan apa saja?"
"Aku hanya tidak ingin kamu tersesat. Kamu tidak bisa seperti itu."
Rena bersandar di sofa sambil menyilangkan lengannya.
"Dia bilang aku bisa melakukan apa saja..."
"Mengapa kamu berbicara seperti kamu marah? Kamu tidak menuruti apa yang diinginkan calon suamimu?"
Rena bergerak untuk bersandar padanya.
"Aku akan menurut. Aku akan menjadi istri yang baik."
Yusuke berusaha menahan diri sementara Rena ada di pangkuannya. Dengan gaya menghadapinya bisa membuat dia melakukan apa pun yang dia mau.
"Sekarang kamu begitu berani kekeke..."
'Aku merasa seperti pecundang...'
"Yusuke-kun, kamu tidak terlihat antusias meskipun seperti ini?"
'Ayolah, kamu membuatku seperti ini, kan?'
"Apa Yusuke-kun sakit lagi?"
Rena menyentuh dahi Yusuke.
Bel berbunyi, yang datang adalah Chiya.
"Hai."
Chiya merasa canggung dengan tatapan curiga Rena.
Chiya membuka mulutnya dan bertanya.
"Bolehkah saya masuk?"
"Ya, silakan," jawab Rena dengan acuh tak acuh.
Rena kesal karena banyak urusan dengan Yusuke yang gagal karena datangnya Chiya.
Yusuke yang melihat Chiya, dia langsung angkat bicara.
"Aku tidak menyangka kamu yang datang, kupikir Minami."
Yusuke merinding dengan tatapan Rena.
Chiya tersenyum canggung.
'Bajingan ini punya pacar yang posesif...'
__ADS_1