
Sistem tidak memberikan tugas apa pun hingga hari berlalu.
Rena merasa sangat sedih karena ini adalah hari terakhir mereka berdua.
"Nanti sore ayahmu akan menjemputmu."
"Waktu berlalu begitu cepat," kata Rena, nada suaranya lesu.
"Apakah kamu kecewa karena waktu berlalu begitu saja?"
- Berdebar!
Sebagai gadis remaja akan sulit untuk menjawab pertanyaan ini; untuk harga dirinya.
Namun, Rena tidak seperti kebanyakan dari mereka.
"Sangat kecewa," katanya, kini tersenyum dengan gigi putih.
Rena memasukkan semua barang yang dibawanya, dia juga memasukkan baju barunya ke dalam tas yang dibeli Yusuke.
'Maaf, aku pernah menjelek-jelekkan kamu Yusuke-kun.'
Rena tersenyum tipis.
'Sekarang aku dan dia berkencan...'
"Aku akan sering ke rumahmu, kamu tidak perlu menangis karena merindukanku?"
Rena menggigit bibirnya; terlipat, dia sangat malu sampai pipinya menghangat.
"Kamu akan sering datang ke rumahku?"
"Setiap hari aku akan datang agar kamu bahagia."
"Kamu menyebalkan."
"Huh? Aku menyebalkan kenapa?"
"Kamu suka menggoda dengan kata-katamu."
"Terima kasih atas pujiannya, itu tandanya aku serius denganmu."
Yusuke mudah menebak bahwa Rena menyukai banyak kata-kata manis yang terdengar romantis.
'Andai saja sistem memintaku untuk menggodanya seperti saat kami berada di warnet, akan menyenangkan melihat dia melakukannya dengan sangat terampil.'
"Rena-chan, apa kamu ingat apa yang kita lakukan di warnet waktu itu?"
- Blush!
"I-ingat, t-tapi, kamu berjanji tidak akan membuatku melakukannya lagi, kan?"
"Bagaimana mulut mungil itu begitu terampil, astaga, itu terlintas di benakku."
"Kesal... aku melakukannya agar kamu senang saja..."
Rena tersenyum kaku saat melihat Yusuke meniup sesuatu yang tidak seharusnya, bahkan bentuknya yang menyerupai balon pun sangat memalukan.
"Sayang sekali benda ini tidak bisa digunakan pada waktu yang tepat. Bukankah begitu Rena-chan?"
"Bodoh ah, kenapa tanya aku," jawab Rena sebal.
"Marahnya juga terlihat cantik, sangat berbahaya bagiku."
"Begitukah? Saya sangat terhormat menjadi bahaya bagi Yusuke-kun."
Rena pun terkekeh, entah kenapa lelucon aneh menjadi sangat menyenangkan baginya. Sesuatu yang sederhana seperti bergaul dengannya; dia berharap akan bertahan selamanya.
"Haah..."
"Kenapa kamu menghela napas seperti itu?"
"Tidak bisakah aku mendapatkan hadiah dari pacarku yang cantik?" kata Yusuke, dia tersenyum dengan banyak arti.
"Hadiah yang kamu minta sangat merugikanku."
Rena menarik ritsleting tas dan menepuk-nepuk tas. Rena bangkit dan menghampiri Yusuke.
__ADS_1
"Apa yang pacarku inginkan dariku?"
"Wah, kamu berani sekali."
"Ahem, ya daripada kamu akan merengek seperti bayi."
"Coba maju ke depan biar lebih dekat," kata Yusuke yang asyik duduk di ranjang.
"Ya." Rena tersipu.
- Blush!
Wajah Rena memerah.
Yusuke mencium telapak tangan Rena yang terasa semakin geli.
"Bukankah aku sangat beruntung, kamu sangat cantik, tanganmu bahkan sangat halus, dan yang lebih menakjubkan adalah kamu memiliki sesuatu yang montok untuk bisa di his—"
Rena memukul kepala Yusuke dengan bantal.
"Mulut Yusuke-kun sangat membutuhkan sensor." Rena tersipu, dia menutupi wajah Yusuke dengan bantal.
***
Sore harinya ayah Rena datang menjemputnya. Ayah Rena memastikan untuk melihat Yusuke yang meninggalkan kesan dengan gelengan kepala. Ayah Rena tersenyum, tapi dia akan menanyakan segalanya pada Rena. Selama di dalam mobil, Rena berbicara banyak dengan ayahnya. Tentang apa yang mereka lakukan saat berkencan dan betapa menyenangkannya itu.
"Kamu pastikan untuk punya banyak kenangan dengan dia Rena, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya."
"Maksud Papa?"
"Kamu mungkin tidak cocok dengannya di masa depan."
Rena berkedip dan bertanya.
"Tidak cocok di masa depan?"
"Aku sangat menyayangimu, jadi hanya ini yang bisa kuberikan, di masa depan jangan mengeluh ..."
"Aku tidak mengerti..."
Semakin Rena mendapat penjelasan, semakin tidak nyaman dia mendengarnya. Fakta bahwa pacaran bisa putus, tidak ada berkahnya karena pria itu bukan orang yang mapan. Tidak ada yang terjadi selama dua hari yang sangat mengesankan bagi ayah Rena untuk mendengar, dan itu adalah kerugian bagi Yusuke dia berpikir seperti itu.
"Dia bisa melakukannya, Yusuke-kun bisa melakukannya, dia bisa melakukan apa saja..."
"Bisa melakukan apa saja, bagus kalau dia bisa."
'Untuk pertama kalinya Papa banyak bicara tapi tidak menyenangkan...'
Rena merasa sesak dengan banyak yang ia pikirkan.
Keesokan paginya tepat pukul 08.30, Yusuke datang ke rumah Rena.
⟨ Ayunan Taman Bermain ⟩
"Tadi malam kamu bilang kamu tidak bersemangat, apakah kamu masih dalam suasana hati yang buruk?"
Rena mengusap tanah dengan sepatunya.
"Yusuke-kun, maukah kamu menjadi orang yang sukses?" tanya Rena.
"Huh?"
Yusuke tersenyum dan berkata.
"Tentu saja, aku akan menjadi orang yang sukses, kamu ingin aku menjadi orang yang sukses? Rena-chan ingin punya suami yang banyak uang?"
Rena mengigit bibirnya dan berkata.
"Aku ingin kamu punya banyak uang... aku egois ya..."
"Mmm, egois sekali sekarang kamu menunjukkan wajah aslimu Rena-chan, kekeke..." Yusuke terkekeh.
Rena menundukkan kepalanya, batinnya.
'Tidak apa-apa untuk dibenci ...'
Yusuke yang sedang duduk di ayunan, dia melihat langit yang mulai mendung tertutup awan.
__ADS_1
"Akan sangat tidak menyenangkan memiliki pacar yang miskin, jadi wajar saja kamu mulai memikirkannya."
"Yusuke-kun, b-bagaimana jika seseorang menyukaimu dan menerimamu apa adanya, a-apa kamu akan memilih dia daripada aku?"
"Tentu saja memilih yang menerimaku apa adanya ..."
"Yusuke-kun, aku—"
Yusuke yang tidak mendengarkannya melanjutkan kata-katanya.
"Karena aku mencintaimu, aku tetap memilihmu Rena-chan, kamu bahagia, kan?"
Yusuke menoleh dan terdiam.
"Yusuke-kun, aku juga seperti itu," kata Rena dengan air mata berlinang.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Yusuke merasa ada sesuatu yang tidak benar.
Rena berkedip dengan bulu mata yang basah.
"Aku salah bicara maksud bercanda, kamu menangis, apa masalahnya, pertanyaannya juga aneh, tidak seperti biasanya."
"Itu..."
Rena memilih diam.
"Apakah ayahmu tidak menyukaiku karena miskin?"
"Tidak. Papa tidak seperti itu."
"Lalu, kenapa kamu bertingkah aneh? Aku sudah bermain bodoh sejak tadi" kata Yusuke. "Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja, oke?"
Rena mengusap pipinya, dia tersenyum, dia takut akan terjadi sebaliknya.
"Janji, semuanya seperti yang kamu katakan Yusuke-kun."
"Saya berjanji."
Yusuke merapatkan jari telunjuk dan tengahnya sambil mengangkat tangan.
"Janji demi apa?"
"Demi kamu?"
"Ada-ada saja."
Yusuke bangkit dan mendekati Rena, dia mengusap pipi Rena dengan kedua tangan di setiap sisi.
"Tidak sedih lagi?"
"Yeah..."
{Heart Points: 8 > 9/10}
'Aku sangat mencintaimu Yusuke-kun.'
'Tinggal selangkah lagi dia akan benar-benar aku taklukan, sangat mudah jika jadi kenyataan.'
Satu hal yang juga mengganggu Yusuke dengan angka 9, adalah banyak skenario terbuka dan tersembunyi juga akan terbuka.
"Apakah kamu ingin hadiah, Yusuke-kun?"
'Gila, R-19 jangan bilang mulai sekarang?
[Menentukan takdir Hashimoto Rena]
> 1. Ajak Hashimoto Rena ke Love Hotel.
> 2. Mengantar Hashimoto Rena pulang ke rumahnya.
'Ada apa dengan opsi ini? Pilih menentukan takdir Rena-chan?'
Yusuke tersenyum pada Rena, tidak ada hadiah dan hukuman, dialah yang mendapatkan pilihan jalan yang harus dia pilih: Yusuke juga bergumam pada dirinya sendiri.
'Aku memilih nomor 2, karena ini untuk menentukan takdirnya.'
__ADS_1
[Pilihan telah dikonfirmasi, bijak dalam mengambil keputusan! Selamat atas takdir yang Anda pilihkan!]