Menyelamatkan Hashimoto Rena

Menyelamatkan Hashimoto Rena
Rena Menginap (1)


__ADS_3

Rena takut dengan apa yang didengarnya, dia takut Yusuke bosan dengannya. Namun, dia punya pilihan harus mengikuti kemauan itu.


"Yusuke-kun, aku mau, kita—"


Rena melihat senyum Yusuke.


"Lupakan saja, aku linglung. Rena-chan tidak perlu khawatir."


Rena tersenyum bahagia sambil mengikuti Yusuke.


"Begitukah, b-benarkah?"


"Senyum."


"S-sudah ..."


Rena tersenyum, matanya berkaca-kaca.


"Aku menjadi bodoh karena keinginan yang bodoh, maaf Rena-chan."


'Apakah ini kesulitan yang dikatakan sistem? Yang paling sulit adalah sikap kita sendiri.'


"Yusuke-kun bilang saja apa yang diinginkan, a-aku janji akan mengikutinya. Aku bersumpah."


Dengan dua jari mengarah ke langit, Rena berjanji akan patuh dan patuh.


"Kalau begitu ayo pergi," Yusuke mengulurkan tangannya.


Rena berdebar-debar.


Yusuke bicarakan sekali lagi.


"Kita pulang."


Rena berkedip.


"Pulang ke rumah?"


"Lihat, sudah mulai gelap?"


“Ya…” Rena menatap langit.


Rena bertanya.


"Bukankah Yusuke-kun ingin aku melakukannya?"


Yusuke merasa malu.


"Aku terlalu jadi sampah. Aku terlalu terbawa oleh keinginanku sendiri."


Rena menempelkan telunjuknya ke bibir Yusuke dan melarang untuk bicara dengan menjelekkan diri sendiri.


"Jadi," Rena penasaran.


"Berciuman?"


Rena tersenyum bahagia dan memeluknya.


"Aku takut kamu membenciku karena aku tidak patuh ..."


Yusuke tersenyum untuk dirinya sendiri, dia terlalu malu untuk kembali menjadi sosok yang tidak stabil.


"Sudah-sudah, jangan menangis..."


"... aku sudah tidak menangis..."


Alis kiri Yusuke ke arah atas, beberapa pengunjung terdekat melihat ke arah mereka berdua.


"Ayo kita pulang?"


"Sebenarnya aku tidak ingin pulang..."


"Kamu harus pulang."


"... Yusuke-kun..."


Yusuke memulai lelucon untuk menggoda Rena.


"Jika kamu tidak pulang, aku akan membawamu pulang ke apartemen dan menggigitmu ..."


Rena merinding.


"Jangan..."


"Ayo kita pulang," ajak Yusuke sambil mengandeng Rena.


Rena menggenggam tangannya Yusuke.


"Tangan Yusuke-kun hangatnya..."


"Ada yang lebih hangat selain tanganku."


"Selain tangan, apa itu?"


"Di bawah."


Rena berhenti dan menunduk.


"Bawah...?"


"Ha-ha-ha!"


Rena berusaha tidak tertawa dengan pipi merona, dia berpura-pura bodoh untuk menghibur Yusuke.


"..."


"Kamu melakukannya dengan sengaja?"


"T-tidak."


"Jangan bohong, bibirmu gemetar ingin tertawa?"


Rena memeluknya.


Setelah Rena selesai memeluknya dia terkejut karena digendong oleh tangan Yusuke.

__ADS_1


"Hari ini kita saling membuat malu?"


"Aku mengikuti keinginanmu Yusuke-kun," jawab Rena.


Mereka menunggu taksi yang lewat, dan Rena masih dalam posisinya, kedua kakinya saling bergantian berayun-ayun.


"Yusuke-kun sangat kuat ..."


"Ada yang lebih kuat lagi, kamu ingin tahu?"


"Ehem, yang bawah? Saudara?"


"Kamu bisa menebaknya, kamu baik-baik saja dengan hal semacam ini Rena-chan."


"Aku malu, bolehkah aku turun?"


"Taksi belum lewat."


"Harus menunggu?"


"Ya, kamu harus menunggu."


"Wow, apa itu yang mereka lakukan?"


"Hey, lihat mereka."


Yusuke mengabaikan orang-orang. Rena menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Yusuke-kun, aku ingin turun."


"Tidak boleh."


"Ouch..."


Rena merasa seperti anak kecil, dia sangat malu dan merasa akan menjadi beban bagi tangan Yusuke.


"Apakah aku tidak berat?"


"Kamu tidak berat, kamu sangat ringan seperti kapas."


"Bohong, aku cukup berat, aku juga banyak makan."


"Sangat baik untuk kesehatan, kamu bisa makan lebih banyak."


Menurutnya bahwa Yusuke sangat menyebalkan, dia menepuk Yusuke, meminta untuk diturunkan.


“Aku, aku ingin turun, tolong turunkan aku…”


"TIDAK."


"Ouch, kamu menyebalkan."


"Ibu, kakak perempuan digendong oleh kakak laki-laki, apakah dia sakit?"


"Jangan lihat mereka, kedua kakak itu sedang bermain mengendong putri."


"Sangat menyenangkan... aku juga mau."


Yusuke tersenyum puas sambil menghentikan taksi yang lewat dengan memberi aba-aba dari tatapannya. Sopir taksi itu tersenyum, menurutnya anak muda zaman sekarang sangat hebat.


⟨ Rumah Hashimoto Rena ⟩


07.12, malam.


"Saya sampai di rumah..."


"Selamat datang di rumah."


Rena menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan makan malam.


"Kamu sangat bahagia, bagaimana kencannya?"


"Sangat baik..."


Ibunya tersenyum.


"Papa sibuk lagi?"


"Ya, seperti biasa, dia selalu sibuk."


"Mama..."


"Apa?"


"Bisakah aku bertanya?"


"Ya, apa yang ingin kamu tanyakan?"


Rena berdiri dengan gelisah.


"Apakah Mama menyukai Yusuke-kun? Apakah Mama menyukainya?"


Ibunya berpikir sambil menyentuh sisi pipi kirinya.


"Mama menyukainya, tampan dan sangat cocok untukmu."


- Blush!


"Mmm..."


"Kalau saja Mama jadi kamu, Mama akan mengambil inisiatif."


"Inisiatif?"


Ibunya menyunggingkan senyuman penuh minat.


"Putriku tidak mengerti cara menyenangkan laki-laki."


Rena penasaran.


"Menyenangkan?"


Ibunya mengganti topik pembicaraan, dia harus lebih bijaksana dan tidak boleh menunjukkan terlalu banyak ketidaksesuaian.


"Kamu bawa ini ke meja."

__ADS_1


"Ah, ya!"


Mereka menikmati makan malam yang lezat bersama, ketika makan malam selesai: Hashimoto Hikari meminta putrinya untuk berbicara lebih detail tentang hubungan antara pria dan wanita.


"Katakan pada Mama, apa yang telah kamu lakukan dengan Yusuke-kun?"


Ibunya menatapnya dengan mata ingin tahu, dan Rena berbicara.


"Mama ini memalukan, aku tidak mau mengatakannya."


"Ya ampun," gumam ibunya, dia ingin menertawakan putrinya sendiri.


'Mengapa dia harus mengambil kepolosan masa laluku?'


Ibunya mendengar semua yang dikatakan, dari kesimpulannya jelas bahwa Yusuke adalah tipe orang yang santai sampai pada akhirnya menjadi konyol.


"Jadi sampai sana?"


Rena berbicara sambil menggerakkan tangannya.


"Tentang ukuran ini ..."


Hikari melihat, dia merasa sangat tidak terduga.


"Begitu, kamu yakin itu sebesar itu?"


"Ya," jawab Rena dengan suara rendah.


"Kalian hanya melakukannya sekali dengan mulut? Dia tidak menyuruhmu melakukannya lagi?"


Rena menggelengkan kepalanya dengan rasa malu yang luar biasa.


"Mungkin dia punya cara untuk mengatasinya."


Rena mengerjap.


"Mengatasi?"


"Biasanya anak laki-laki tidak seperti dia," kata ibunya, berpikir lagi.


'Mama sangat berbeda?'


"Aku akan membantumu, jadi kamu bisa tinggal di tempatnya."


Rena menundukkan kepalanya dengan gembira, dia akan bersama Yusuke lagi.


'Kita akan tidur bersama lagi?'


Pipinya menghangat.


'Yusuke-kun...'


Rena pergi tidur setelah mandi, pembicaraan dengan ibunya memalukan, pipinya masih sangat hangat.


"Mengapa Mama begitu memalukan?"


Rena mengambil ponsel untuk mengirim pesan.


'( >⁠ .⁠ <) Yusuke-kun, aku akan memberikan kejutan!'


'Kejutan apa itu?'


'Rahasia, tunggu saja ...'


'Apakah aku akan dilahap...?'


'( >⁠ .⁠ <) Mulai... nakal, nakal!'


'( ^⁠ _⁠ ^) Aku akan menunggu dilahap.'


'( >⁠ .⁠ <) Kamu, kamu berpikir ke sana terus!'


Panggilan video:


"Yusuke-kun?"


"Gantian aku sesekali, kamu terlihat sangat bahagia?"


"Kelihatan ya...?"


"Sangat."


Yusuke melihat dan bicara lagi.


"Kamu sibuk belajar?


"Aku tidak sibuk, aku tidak berlebihan."


Yusuke mendengarkan sambil menonton televisi, dia segera mematikan televisi dan fokus pada Rena.


"Kalau sudah selesai langsung tidur, waktunya hanya sampai 2 jam."


"Tidak bisa diperpanjang?"


"Ayo, jangan serakah, kamu bisa melakukannya besok, aku tidak akan pergi."


"Aku tahu, tapi aku masih merindukanmu."


Yusuke tersenyum.


"Jika kamu rindu, buka kancingnya?"


Rena berkedip, dia tersenyum penuh pengertian.


"Kamu selalu pergi ke sana ..."


"Kamu tahu kepribadianku, kan?"


Rena mengangguk.


"Yusuke-kun ... apakah kamu akan tetap seperti ini di masa depan?"


"Aku akan jauh lebih buruk dari sekarang."


"Jangan ... jika kamu lebih buruk, aku dalam masalah."

__ADS_1


__ADS_2