Menyelamatkan Hashimoto Rena

Menyelamatkan Hashimoto Rena
Sikap Yang Berubah


__ADS_3

"Tidak baik seperti itu Yusuke-kun, kamu tidak malu dengan hantu, hantu itu melihat kita, mereka bukan hantu sungguhan jadi itu sangat memalukan, j-jadi tidak—"


Yusuke berusaha untuk tidak tertawa ketika mendengar Rena berbicara sampai dia tergagap bingung dengan apa yang ingin dia bicarakan.


"Ayo, jangan lakukan itu. Kamu tidak perlu gugup Rena-chan."


"Meskipun..."


Rena berpikir untuk menghindari masalah yang selalu mengarah ke arah yang diinginkan kekasihnya yang memiliki pikiran monoton menjadi tidak sopan, dia berharap itu tidak berlanjut.


Rena berhenti menyilangkan tangannya, dia benar-benar tidak bisa tegas dengan Yusuke. Rena merasa dirinya benar-benar berbeda dengan saat pertama kali bertemu dengan Yusuke.


"Yusuke-kun, apakah kamu senang melanjutkan seperti ini? Maaf, aku hanya merasa itu benar-benar tidak baik..."


"Apakah kamu sangat terbebani?"


Rena berpikir dan menggelengkan kepalanya.


Rena berdiri gelisah saat Yusuke menyentuh pipi kirinya. Rena tampak malu-malu dan tidak menolak Yusuke menyentuh wajahnya.


"Apakah kamu membencinya?"


"... aku tidak membencinya..."


Rena melihat tidak ada orang yang menuju ke arah mereka. Rena kembali menatap Yusuke yang baru saja menatapnya. Rena menyentuh dada Yusuke.


"... kita terlalu dekat..."


"Apakah kamu tidak suka kalau aku begitu dekat denganmu? Kita adalah sepasang kekasih, wajar saja jika dekat satu sama lain, bukankah aku benar Rena-chan?"


Rena menyerah.


'Aku tidak bisa berdebat dengannya...'


Menurut Rena; berpacaran itu sangat sulit, banyak hal yang harus ia atasi, namun ia senang dengan apa yang ia alami begitu menyenangkan mewarnai hidupnya.


'Sangat jauh berbeda dengan yang saya bayangkan di masa lalu, saya sekarang belajar banyak dan bisa belajar memahami seseorang lebih baik dari sebelumnya... Yusuke-kun...'


Rena memejamkan matanya, dia memeluknya senyaman mungkin. Rena termenung sambil memeluk Yusuke yang begitu menghangatkan hatinya.


'Bahkan jika kamu seperti itu, aku mencintaimu ...'


Rena memeluknya dengan gemas.


Rasa cinta yang jauh berbeda dengan saat dia mengira dia mencintai Takeru. Rena lebih mengerti bahwa ini adalah kebenaran, jika dibandingkan sebelumnya.


Rena tidak tahu seperti apa cinta di mata orang lain, apakah dia mencintai itu benar atau salah, dia juga bisa memastikan dia hanya yakin jika dia benar-benar memiliki debaran untuknya.


Sesuatu yang mengganggu terkadang datang mengetuk pikirannya jika dia hanya sesuatu untuk dijadikan tempat pelampiasan, tapi dia menepis semua itu. Dia yakin bahwa Yusuke mencintainya.


Rena tersenyum ketika melihat Yusuke, merona merah?


'Sangat menggemaskan dia sangat, sangat imut ...'


"Yusuke-kun kenapa?"


"Tidak kenapa-kenapa ..."


"Sungguh?"


"Ya..."


'Dia tampan...'


Yusuke menunduk, dia membenamkan wajahnya di bahu kiri Rena.


"Yusuke-kun?"


"Aku tidak kuat, kamu terlalu cantik.


- Blush!


"K-kamu tidak kuat kenapa?"


"Saudaraku..."


"Mmm? Saudara Yusuke-kun?"


Rena melihat sekeliling seperti orang yang penasaran, dan dia yakin Yusuke tidak punya saudara kandung.

__ADS_1


"Di mana?"


"... ha-ha-ha..."


"Mengapa kamu tertawa?"


"Lupakan apa yang aku katakan."


Rena mengusap kepala Yusuke.


"Kamu aneh, jangan bercanda di saat seperti ini Yusuke-kun bodoh sekali."


'Apakah aku harus menangis atau tertawa sekarang, aku jadi idiot ...'


Rena bergerak mendekat dan ada sesuatu yang mengganggunya. Rena berpikir dan berpikir, dia baru menyadari sesuatu yang familiar, dia melihat ke arah lain.


"Yusuke-kun ... punya kamu bangun ..."


"Ya seperti itu..."


"Ini memalukan..."


"Cobalah untuk membiasakan diri karena pacarmu ini bajingan mesum..."


"Yusuke-kun bukan bajingan, hanya tidak sopan saja..."


***


Menghilangkan rasa lapar dengan hamburger. Rena menikmati sensasi nikmat karena yang dihadapinya bertingkah aneh karena ulahnya sendiri meski sudah beberapa jam yang lalu.


"Yusuke-kun, apa yang kamu lakukan lagi?"


"Aku sangat bingung, aku minta maaf sekali lagi."


Rena tersenyum dan menatap para pengunjung sambil menikmati apa yang dia makan.


"Sangat lezat..."


Rena mengganti topik pembicaraan agar tidak canggung, ia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa malunya demi harga diri pasangan yang sudah kandas di lantai.


Dengan suara rendah dan tersipu Rena berbicara.


"Apa yang tidak cocok?"


"Yusuke-kun yang nakal jadi pemalu sangat tidak cocok," kata Rena.


Yusuke makan hamburger, dia menikmatinya dan berusaha bersikap senormal mungkin. Rena mengernyit heran.


'Aku tidak mengerti dia menjadi seperti ini ...'


"Masih ada waktu sebelum sore, kita harus mencoba wahana lain."


Rena mendengar suara Yusuke yang penuh kecanggungan.


'Ini baru... Yusuke-kun belum pernah seperti ini sebelumnya.'


'Sungguh aneh merasa canggung seperti ini, aku benar-benar tidak bisa tenang untuk saat ini, apakah karena Rena? Dia membuatku kehilangan akal sehat.'


"Yusuke-kun?"


"Ya?"


"Kamu tidak makan dengan benar, kamu banyak melamun."


Rena tersenyum dan berbicara lagi.


"Jangan pikirkan itu lagi, kamu jadi aneh."


"Apakah kamu tidak menyukainya?"


Rena tersenyum.


Rena berkedip melihat penampilan konyol Yusuke yang cukup sulit dimengerti.


"Ya ampun..."


"Mengapa?"


"Yusuke-kun, kamu benar-benar imut sejak tadi menjadi seperti ini."

__ADS_1


⟨ Ferris Wheel ⟩


Rena sedang menikmati pemandangan indah dari dalam gerbong kincir ria, dia menoleh ke pacarnya yang gugup. Rena menatapnya dengan hati-hati.


'Dia sangat lucu, kamu lucu hari ini.'


Yusuke sedang sekarat dalam pikirannya yang gelisah, dia benar-benar akan menjadi bajingan terburuk.


'Mengapa aku ingin melakukannya... aku gila, otakku rusak.'


"Dari sini semuanya terlihat sangat kecil ya Yusuke-kun?"


"Ah, ya seperti itu."


Rena menggembungkan pipinya, dia tidak tahan lagi dan ingin menggerutu.


"Yusuke-kun sedang memikirkan itu lagi, apakah kamu tidak bosan?"


"Inilah susahnya menjadi seorang gentleman Rena-chan, kamu masih muda jadi kamu tidak tahu beban yang aku rasakan."


"Begitu, aku benar-benar tidak tahu akan sulit bagi Yusuke-kun... aku ingin membantu jika aku bisa a—"


Yusuke langsung tersentak.


"Rena-chan mau membantuku?"


"Kita harus memilih tempat, kurasa yang tepat adalah warnet. Rena-chan sudah pernah di sana, aku harus mencari tempat lain, hotel lebih baik, tidak-tidak."


"Tunggu, warnet, hotel?"


Rena bertanya untuk memastikan.


"Yusuke-kun tolong jelaskan dulu."


"Kita akan melakukannya, kamu bilang ingin membantuku?"


"Ya, aku ingin membantu Yusuke-kun."


"Kita harus cari tempat untuk melakukannya."


Rena terdiam, termakan kata-katanya sendiri, apalagi pacarnya begitu bersemangat menjalankan apa yang ada di pikirannya.


'Aku belum siap ..."


Rena gugup.


"Bajingan..."


Yusuke tersenyum, akal sehatnya baru bekerja saat melihat Rena yang terlihat ketakutan.


"K-kenapa Yusuke-kun?"


"Jangan takut, aku akan mencoba menahannya."


Rena menatap Yusuke.


"Benarkah? Apa kamu yakin? Kamu tidak akan marah padaku karena masalah ini, kan?"


"Tidak-tidak, aku tidak akan marah padamu Rena-chan."


"Syukurlah, sejujurnya aku belum siap..."


Yusuke menekan dahinya, dia pusing, dia pikir dialah yang akan paling menyakiti Rena.


"Aku merasa tidak pantas untukmu."


"Aku tidak mengerti Yusuke-kun?"


Rena gelisah, kata-kata itu seperti bencana yang menghampirinya.


"Aku terlalu buruk, betapa menyebalkan."


"... Yusuke-kun?"


Rena berbicara lagi.


"Yusuke-kun selalu berpikir seperti itu jadi wajar saja."


Ferris Wheel berhenti berputar; mereka harus turun dari tempat itu.

__ADS_1


Yusuke tersenyum.


__ADS_2