
Yusuke memesan pizza untuk makan malam, dan Rena memakannya dengan sangat gembira. Rena melihat dengan hati-hati, melupakan kesedihan yang dia pikirkan.
"Yusuke-kun, kamu suka pizza, ya?"
"Hmm, aku sangat menyukainya," jawab Yusuke.
Yusuke menyodorkan pizza untuk menyuapi Rena. Rena tersenyum canggung karena Yusuke sedang menatapnya; Rena mencoba untuk tetap tenang, dan menarik napas beberapa kali.
"Kamu kenapa, apa tidak nyaman aku melihatmu?"
"T-tidak. Aku hanya sedikit tidak terbiasa, kamu tahu bahwa terkadang perasaan menjadi tidak menentu karena suatu alasan," kata Rena, ia semakin malu.
Yusuke tertawa ringan saat melihat Rena sedang makan pizza.
"Haha..."
"K-kenapa kamu tertawa?"
"Benar-benar seperti kelinci."
"Mulai. Aku bukan kelinci."
Yusuke tersenyum puas saat Rena pergi ke kamar mandi dia berganti piyama biru langit; dengan gambar kotak dan lingkaran hampir memenuhi piyamanya.
"Kamu sangat suka warna biru muda," kata Yusuke.
"Yeah, karena warna langit sangat cantik."
Rena menatap Yusuke.
"Kamu tidak mengganti bajumu Yusuke-kun?"
"Tidak. Aku biasanya langsung tidur."
Rena pergi untuk tidur hanya di satu tempat tidur dan tidak ada tempat tidur lain. Yusuke menonton televisi.
Rena melihat sesuatu di lantai, dia fokus ke arah itu karena objek yang dilihatnya seperti yang dia lihat saat menggunakan internet, ada iklan di sebuah website.
'I-itu, itu!'
"Ah, ternyata jatuh ..."
"Yusuke-kun, kenapa kamu memiliki sesuatu seperti itu?"
"Apakah kamu tahu untuk apa barang ini digunakan?"
"Tentu, tentu saja aku tahu kegunaannya untuk tidak ham—"
Suasana menjadi Awkward.
"Ham?"
"Hambar! Ya untuk tidak bersikap hambar dalam pengaturan tertentu, kamu tahu itu untuk orang yang sudah menikah untuk tidak—! Aah bodoh! Aku akan tidur."
Rena langsung tertidur dengan punggung membelakangi Yusuke.
'Mulut ini punya kebiasaan bicara omong kosong, bodoh, bodoh. Aku tidak boleh seperti ini, kenapa aku banyak bicara dengan omong kosong di mulutku!'
Yusuke mematikan televisi, dan pergi tidur. Rena terkejut karena yang dilakukan Yusuke menindih; meletakkan tangannya di atas tubuhnya.
"Lihat ini?"
Rena tidak menoleh, matanya bergerak mengikuti apa yang dipegang Yusuke.
Yusuke melemparkan apa yang dia pegang. Rena berbalik dan melihat Yusuke.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah membuangnya."
__ADS_1
"Mengapa kamu membeli sesuatu seperti itu, itu mencurigakan."
"Aku tidak membelinya, seseorang memberikannya kepadaku."
"Orang macam apa yang memberimu sesuatu seperti itu, dasar orang yang tidak bermoral!"
'Jika aku mengatakan itu adalah ayahnya, dia akan malu.'
Rena yang sudah sangat kesal ingin bertemu dengan orang itu dan memarahinya. Yusuke menatap Rena yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Rena memandang Yusuke dengan curiga, Rena sedih untuk beberapa detik, dan kembali fokus.
"Apakah kamu pernah menggunakan benda itu?"
"Belum. Aku juga tidak butuh yang seperti itu. Ayo tidur lebih awal, kamu tidak bisa tidur terlalu larut. Itu tidak baik untuk anak-anak."
"Eh, aku bukan anak kecil, kamu bisa melihat aku ini sudah dewasa."
Yusuke mengerutkan kening.
"Dewasa? Kamu?"
Rena mengatupkan bibirnya, dia bisa melihat tatapan Yusuke yang mulai mengolok-oloknya.
Rena terbangun dari tidurnya, dia mendengar suara wanita dan pria yang sangat ribut di tengah malam.
Ia berusaha bersikap normal, ia melihat Yusuke sedang tidur sangat nyenyak.
'Suara mereka sampai sini ...'
Rena menutup telinganya dengan guling dia susah tidur kembali.
"Kamu terbangun ya?"
"Iya," jawab Rena.
"Aku akan pergi sebentar," kata Yusuke.
***
⟨ Watanabe Chiya ⟩
Yusuke menatap tajam seorang gadis remaja bernama Chiya, yang kini sedang menggaruk-garuk rambut pirangnya dengan kasar.
"Bisakah kalian tenang? Kalian berisik sekali, apa perlu berteriak seperti itu, huh?"
"Ya-ya, saya minta maaf jika saya mengganggu Anda tetangga. Saya akan mencoba—"
"Sungguh sial, sebelumnya tidak ada tetangga yang berisik sepertimu."
"Hey, kenapa kamu marah?"
"Bagaimana aku tidak marah? Ada yang sedang kesusahan tidur."
"Ooh, apa ini tentang gadis yang tadi bersama paman itu? Yang datang ke kamarmu," kata Chiya yang bertanya dengan nada akrab.
Yusuke menjadi emosional, dia menatap lebih mengerikan dari sebelumnya.
"Ooh maaf. Aku tidak bicara lagi, aku akan mencoba memberitahunya untuk—?"
Yusuke pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Apa ada masalah? Kita baru satu ronde."
"Kita selesai sampai sini. Aku tidak mau lanjut lagi, aku tidak mood."
Kembalinya Yusuke disambut oleh Rena yang khawatir. Senyum meyakinkan. Yusuke menjelaskan bahwa semua itu terjadi karena tetangga barunya yang selalu membawa laki-laki asing.
"Lebih baik kita tidur lagi Rena-chan, jangan memikirkan orang seperti dia."
__ADS_1
"Ya," jawab Rena, mengangguk dan pergi tidur.
"Kamu kenapa?"
"Aku tidak bisa tidur."
"Cobalah untuk menciumku, kamu akan bisa tidur."
"Tidak mau."
Dengan bunyi gedebuk; Rena terbangun dan melihat Yusuke jatuh dari tempat tidur.
"Hahahaha, kenapa kamu jatuh, dasar."
"Haha, aku bermimpi, kamu meminta pernikahan."
Rena tersipu malu.
“Ah, bohong. Kamu bilang saja kamu ceroboh, haha…”
“Sepertinya aku harus tidur lebih dekat denganmu Rena-chan.”
"Lebih dekat, yah... tidak apa-apa, daripada kamu jatuh."
Mereka tidur berdekatan; Rena memejamkan mata, dia merasa gugup dengan sesuatu yang mendebarkan dan dia pikir tidak akan buruk jika itu semakin dekat dengannya.
"Yusuke-kun sedang tidur?"
Rena melihat untuk memastikan, dan Yusuke sudah tertidur dan tidak mendengar panggilannya dua kali.
"Dia sudah tidur, selamat malam Yusuke-kun."
Rena memejamkan matanya.
Di pagi hari mereka pergi berkencan setelah dari Restoran. Yusuke menggandeng Rena saat mereka berjalan bersama. Rena yang malu hanya terdiam sambil merasakan sentuhan di telapak tangannya. Gadis remaja ini berharap semuanya berkembang menjadi lebih baik dengan hubungan perasaan yang terus maju tanpa ada hambatan dan pasang surut.
"Karena kita belajar di malam hari, kita harus berkencan, kan?"
"Kamu terlalu santai. Aku sudah diberitahu bahwa kita harus belajar untuk naik kelas, dan lulus."
"Akan kupastikan nanti kita akan satu kelas dan juga lulus."
"Huh, apa itu mungkin? Bisakah Yusuke-kun melakukannya?"
"Tentu saja, jika aku tidak bisa, aku tidak akan menjanjikan pacarku yang cantik."
Kencan mereka tidak jauh berbeda dengan pasangan lain, mereka pergi berbelanja, pergi ke taman, menonton film dan berfoto bersama.
Namun, ketika hari sudah malam, kenyataannya besok semuanya akan normal karena Rena pulang dan fokus pada belajarnya hingga liburan musim panas berakhir.
"Kita beli baju terlalu banyak, dan mahal..."
"Kamu tidak menyukainya?"
"Aku menyukainya tapi, itu membuatku merasa tidak nyaman seperti sedang memerasmu..."
"Normal untuk pria seperti ini," kata Yusuke sambil berbaring di lantai dan mengangkat kedua tangannya.
Rena menarik napas, dan menghembuskan napasnya.
Yusuke bangkit dan mendekat, dia membimbing Rena untuk melihatnya.
Rena yang sedang banyak berpikir, ia terkejut dengan sentuhan di bibirnya.
'Dia curang, terlalu tiba-tiba...'
"Jangan terlalu banyak berpikir."
Rena menunduk malu sambil membasahi bibirnya.
__ADS_1
"Baiklah Yusuke-kun. Aku akan melakukannya."