
Tidak menyenangkan ketika sistem memerintahkannya tanpa imbalan hanya untuk menghindari kematian, tetapi permintaan itu sangat sulit sehingga Yusuke harus mengundang Rena untuk menginap di rumahnya. Diberikan selama dua hari? Bisa dibayangkan bagaimana Yusuke harus memberikan alasan dan meminta izin kepada ayah dan ibu Rena? Bagaimana dia harus melakukannya?
Tentu saja dia tidak bisa dan dia malu untuk mengatakannya, tapi jika dia tidak melakukannya dia pasti akan mati. Yusuke juga menelepon Rena, dan anehnya dia mendapat izin dari ayah dan ibunya?
"Apakah aku mendapat bantuan dari sistem? Kupikir ini terlalu tidak masuk akal, bagaimana dia mendapatkan izin dari ayahnya yang terlihat tegas?"
Yusuke sangat malu karena Rena datang bersama ayahnya, ayah Rena mengajak Yusuke untuk berbicara secara pribadi setelah Rena masuk ke apartemen Yusuke.
"Semua orang tahu ini akan terjadi, aku juga pernah muda, tapi ingat batasanmu Nakajima. Kalian belum dewasa, kamu tidak boleh tanpa pengaman sama sekali."
"Baik. Saya tidak akan mengecewakan Anda."
'Pengaman?'
Yusuke berkedip karena ayah Rena memberikan suatu yang tak terduga.
'Gila! Apakah dia menyerahkan putrinya semudah ini?!'
Yusuke tidak memungkiri bahwa dunia ini adalah game R-19, tapi ini di luar nalar manusia biasa. Dia yakin itu pasti pekerjaan sistem.
"Lakukan dengan bijak," kata ayahnya Rena.
Yusuke heran karena semuanya tidak masuk akal.
'Mungkin kamu tidak tahu bahkan kita lebih dari sekedar berkencan, tapi tidak sampai level ini…'
Hashimoto Handa pikir itu akan jadi kenangan putrinya, jika tak berjodoh dengan Yusuke. Menurutnya, pacaran dan menikah adalah suatu yang berbeda.
Rena tersenyum bahagia, dia adalah sesuatu yang berubah menjadi penurut. Yusuke duduk di lantai, ada meja bundar di tengah ruangan, meja yang Yusuke beli belum lama ini, dan kulkas yang baru dibelinya.
"Apakah itu semangka?"
"Ini akan mendinginkan dari cuaca panas, ayo kita makan."
"Eh...?"
Rena mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya, itu adalah sesuatu yang ia buat dengan banyak usaha.
"Lebih baik makan ini."
"Apa itu?"
"Puding. Aku membuatnya sendiri, mana pujiannya?"
"Rena-chan sangat cantik dan pandai memasak, kata orang itu adalah istri yang ideal."
'Bukannya itu katamu sendiri, dasar…'
Bibir Rena bergetar, dia menahan diri untuk tidak tersenyum seperti orang bodoh yang terlalu gembira. Yusuke menoleh, dia tertawa terbahak-bahak. Rena pura-pura tidak peduli dan menyiapkan puding dengan rapi, dia ingin membuat sesuatu yang lebih baik tetapi berkali-kali gagal, hanya puding yang berhasil dengan sempurna.
'Selain punya bakat berciuman, dia punya bakat memasak, bukankah ini keberuntunganku sebagai laki-laki?'
Rena merasa beruntung akhir-akhir ini Yusuke tidak bertindak terlalu jauh, dia menepati janjinya, akan sangat aman baginya jika dia tinggal bersama.
Rena berpikir dan berbicara pada dirinya sendiri.
'Tidak akan mungkin seperti yang aku baca di internet, kalau sudah seperti ini; pacar kita sudah bosan? Mustahil.'
Mereka menikmati puding dengan gembira. Di tengah percakapan, Rena mulai berbicara dengan aneh.
"Apakah kamu percaya bahwa seseorang yang berkencan, dan salah satu dari mereka akan merasa bosan, Yusuke-kun?"
"Aku percaya. Aku telah melihat berkali-kali yang seperti itu; mereka akan putus dan seperti tak pernah saling mengenal saat mereka saling bertemu."
__ADS_1
"... Begitu..."
"Apa kamu takut putus denganku, pacarmu yang tampan ini?"
"Eh...? Terlalu percaya diri itu benar-benar tidak baik."
Yusuke menghabiskan puding dari wadahnya, Rena tersenyum dan membereskan semua yang ada di atas meja.
Yusuke mengambil remote televisi yang ia tonton hanya acara anak-anak, cukup menghibur dari kebosanan liburan musim panas.
"Rena-chan, jangan angkat rokmu sambil berdiri di depan kipas angin."
"Ah, jangan bodoh, kamu mengira aku anak-anak."
"Apakah masa kecilmu seperti itu?"
"Eh...? Aku tidak seperti itu."
'K-kenapa dia asal bicara begitu! Jelas kalau dulu aku iseng...'
Yusuke menyunggingkan senyumnya, dia berbicara seperti itu karena di dalam game; Rena melakukannya di rumah Takeru.
"Setelah dipikir-pikir itu benar-benar aneh, kamu benar-benar mengikuti apa yang aku inginkan."
Rena berkedip ketika dia melihat Yusuke.
"Aneh bagaimana?"
"Bukankah kamu sekarang dalam bahaya dengan kekasihmu ini?"
Rena pura-pura tidak mendengar dia duduk bersimpuh di depan kipas angin.
'Kamu meminta dengan tulus, bagaimana aku bisa menolak?'
"Hahaha, aku tidak pernah marah padamu."
Yusuke melihat Rena memejamkan matanya sambil menikmati hembusan angin dari kipas angin.
Yusuke menyunggingkan senyum nakalnya, sangat menikmati mengerjai gadis lugu ini.
Yusuke merayap, dia duduk di belakang Rena, dan memeluknya.
"Aduh, Yusuke-kun?"
"Jangan duduk di depan kipas angin terlalu lama, atau kamu akan masuk angin."
"Kamu benar, tapi ini sangat mengasyikkan."
"Dasar anak kecil."
"Hey, Saya bukan anak kecil."
Rena tersipu, lengan Yusuke menyenggolnya; yang seharusnya tidak dia sentuh.
"Ini yang harus kamu tahu bahwa tinggal di rumah laki-laki akan diperlakukan seperti ini, mana minta maafnya?"
"Maafkan aku, aku yakin kamu tidak akan jahat padaku."
"Bodoh," kata Yusuke sambil mencubit pipi kanan Rena; sedikit menarik.
Rena cemberut, dia menyentuh pipinya.
"Sangat jahat, bagaimana kamu bisa jahat pada pacarmu sendiri?"
__ADS_1
"Karena menjahatimu sangat menyenangkan."
"Astaga, bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu? Kamu tahu itu akan menjadi kebiasaan buruk?"
"Apakah aku orang buruk?"
"Kamu sangat buruk, yang terburuk dari yang terburuk."
"Kekeke, itu bencana bagimu untuk memiliki pacar yang buruk, huh?"
Yusuke menunduk dan bicara lagi.
"Sangat hebat."
"Apa yang hebat?"
"Bukankah mereka terlalu besar untuk gadis SMA?"
"Apa?"
Rena melihat tatapan Yusuke, Rena tersenyum canggung dan berbicara.
"Setiap orang berbeda, kamu tahu setiap pertumbuhan manusia tidak sama, kan?"
"Ya, jadi?"
"Jadi, karena aku gadis yang sehat, pertumbuhanku sangat baik."
"Kamu juga memiliki pinggang yang cukup lebar, orang bilang kamu akan punya banyak anak."
"Tidak ada yang seperti itu, kamu jangan mengada-ada," ucap Rena tersipu malu, berpikir terlambat dan baru menyadari arah pembicaraan.
"... Panas, Yusuke-kun bisa berhenti memelukku?"
"Apakah kamu panas?"
"Ya. Aku merasa panas."
"Apakah kamu perlu mandi?"
"Hey, senyummu sangat menakutkan!"
"Hahahaha!"
Rena menepuk kening Yusuke dengan telapak tangannya.
Pada akhirnya mereka berebut membalas saling menepuk kening, dan membalas satu sama lain.
Rena menggosok dahinya, dia merasa tidak nyaman.
"Kita harus pergi ke suatu tempat."
"Ke suatu tempat?" tanya Rena.
"Kita akan pergi ke kolam renang."
"Kolam renang? A-aku tidak membawa baju renang, apakah aku pulang dulu... Ah, aku akan pulang sebentar Yusuke-kun."
"Kamu tidak harus pulang, kita akan membeli baju renang baru."
"Tidak-tidak. Aku tidak ingin menyusahkan Yusuke-kun."
"Kamu tidak perlu khawatir, aku punya banyak uang."
__ADS_1
Pikir Rena; tentang Yusuke yang punya banyak uang jelas sangat tidak mungkin, tapi dia punya furnitur baru, yang bisa jadi Yusuke bekerja paruh waktu.