
Jam 10.30, malam.
Yusuke tidak bisa berkata apa-apa saat dia mengenakan piyama kuning dengan gambar lebah madu.
'Sangat lucu, mengapa aku memakainya?'
"Sangat cocok dengan Yusuke-kun," kata Rena sambil bertepuk tangan.
"Lebih baik aku tidak memakai piyama, bukankah seharusnya kamu malu karena aku memakai piyamamu?"
"Mmm..."
Rena mengutak-atik piyama birunya.
Kainnya lembut dan dingin, dia tidak merasa risih dengan piyama yang dikenakannya, hanya ada lipatan khas menunjukkan piyama perempuan di kerah piyamanya.
Rena berusaha untuk tidak tertawa karena semakin dia melihat Yusuke semakin lucu.
"Jangan tertawa Rena-chan, aku akan mencubitmu jika kau tertawa."
Rena mengangguk dua kali.
"Mmm..."
"Karena ini piyama punyamu, bukannya ini sangat menguntungkan?"
Rena berkedip.
Yusuke memulai dengan bahasanya yang tidak sopan. Rena menahannya dengan berpura-pura tidak mendengar semua yang dikatakan Yusuke.
Ada kamar khusus untuk tamu, tapi Rena tidak menunjukkannya, dia kangen tidur di satu ranjang.
'Aku juga punya pikiran nakal dan memalukan...'
Yusuke menyeringai dan berbicara.
"Ayo nonton film horor?"
"Tidak. Aku tidak menyukainya."
Rena ingat ketika dia berada di bioskop, dia sangat ketakutan
Yusuke menyilangkan tangannya.
"Rena-chan sudah bisa banyak menolak ya?"
"Yusuke-kun..."
Rena menggaruk kuku jempol kanannya dengan jari telunjuknya.
Yusuke mendekat dengan senyum curiga.
"Ayo nonton film horor," kata Yusuke sambil mendekat.
"Nonton film yang lain, oke?"
"Oke. Film..."
Rena berkedip menunggu.
"Apa?"
Rena memilih menyerah, dan memilih menonton film horor daripada film yang direkomendasikan Yusuke. Rena enggan menonton film tersebut, dia lebih menikmati tidur di sebelah Yusuke. Rena menutup matanya ketika ada bagian yang menakutkan.
Yusuke mengusap kepala Rena.
'Maafkan aku kekeke...'
Yusuke menemukan hobi baru, tak lain mengolok-olok Rena yang takut dengan film horor.
Rena menghela napas lega dengan film yang sudah selesai.
Mereka saling memandang dan tidak ada yang berbicara.
Tangan kanan Rena bergerak dan mengelus pipi Yusuke.
"Ayo tidur."
"Aku tidak mau tidur kecuali aku bisa tidur denganmu," kata Yusuke, dengan maksud tidak sopan.
Rena yang malu dan langsung menepuk dahinya Yusuke.
"Pergi, pergi."
"Hah, kamu ingin aku pergi?"
"Aku ingin pikirkan seperti itu pergi."
"Bagaimana bisa tidak berpikiran seperti itu, kalau posisiku sendiri bersebelahan dengan gadis cantik yang statusnya pacarku?"
"Sudahlah, jangan bicara tentang itu-itu saja, bisa yang lain, kan?"
"Kamu harus mengerti kalau aku seperti itu," kata Yusuke menyudutkan Rena.
Rena berpikir lagi; bahwa hal itu wajar bagi laki-laki.
"Saya akan berusaha..."
"Kamu harus berusaha sangat keras, karena sangat penting bagi seorang wanita untuk mengenal prianya dengan baik."
"Cara bicaramu terlalu berlebihan."
Rena mengernyit saat Yusuke berbicara terlalu banyak tentang wanita yang harus menuruti pria.
"Tidak. Aku tidak setuju."
__ADS_1
"Mengapa?"
"Kalau aku menuruti bagaimana dengan aku yang rugi?"
"Kamu tidak akan rugi."
"Hah? Aku tidak rugi? Bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa, karena kamu bisa mendapatkan untung dengan memiliki bayi?"
- Blush!
***
Rena bertahan dengan semua yang Yusuke bicarakan. Rena tertidur pulas sampai suara dengkuran halus dapat Yusuke dengar.
Pagi harinya Rena bangun lebih dulu dan memandangi Yusuke yang masih tidur.
Awal saat ia bangun terkejut karena bukan dia yang lebih dahulu bangun, ia malu dan pura-pura tidak melihat tongkat ilahi yang tegak itu.
Rena merona merah sambil mengamati cukup lama.
"Aneh, kenapa dia bangun, padahal tuannya sedang tidur..."
Rena menepuk dahinya sendiri.
Rena menepuk pipinya dua kali, dan beranjak pergi dari tempatnya.
Dia harus segera mandi dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
'A-aku seperti seorang istri saja, ini mendebarkan."
Setelah selesai mandi, ada pilihan yang sulit ia tidak bisa berganti pakaian.
"Pakai piyama saja, aku harus cepat sebelum dia bangun," kata Rena.
Dia cukup banyak waktu untuk mengeringkan rambut, ia bergegas pergi untuk membuat Sup Miso adalah yang paling mudah untuk dibuat, ia lihat sudah ada bahan yang lengkap di kulkas. Rena tersenyum senang, lauk dan nasi sudah matang, ia langsung menyiapkannya di atas meja makan.
"Aku tinggal membangunkan Yusuke-kun."
Rena buru-buru naik untuk membangunkannya.
Saat membuka pintu dan yakin kalau Yusuke masih tertidur, Rena sampai lupa menutup mulutnya.
"Wah, kenapa kamu tidak ketuk pintu?"
"Maaf—!"
Rena menutup pintu dengan terburu.
"Aku sudah selesai, masuklah."
"Permisi..."
"Kekeke kenapa wajahmu memerah begitu?"
"Tidak, mana mungkin wajahku merah?"
Rena berdeham, menutup mulutnya dengan kepalan tangan dan bicara.
"Ayo turun, waktunya sarapan."
"Wah, sudah siap?"
"Sudah, hanya sederhana; Sup Miso, tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa. Aku sangat berterima kasih, kamu sangat perhatian."
Rena melihat dengan senang hati, ia tersenyum bahagia.
Yusuke melangkah maju, dan memeluk Rena yang sempat terkejut lalu membalas pelukannya.
"Kita harus segera sarapan."
Dengan melihat pakaian yang Yusuke pakai, Rena merasa sangat tidak rela jika pagi ini Yusuke akan pulang.
Sarapan diawali dengan ucapan: 'Selamat makan', dan menikmati sarapannya.
Yusuke mengikuti tradisi, ia menyeruput kuah yang ada dalam mangkuk dan mengambil 'tahu putih' dengan sumpit, yang cukup sulit karena ia harus melakukannya dengan cara yang sungguh tidak familiar.
"Mau nambah nasi?"
"Boleh," jawab Yusuke.
"Segini, lagi?"
"Sudah cukup, terima kasih."
Setelah selesai sarapan.
Yusuke membantu Rena mencuci. Setelah semuanya selesai, yang tidak mau Rena terima adalah Yusuke akan pulang.
Yusuke memperhatikan saat dia membuka pintu.
'Apakah kamu tidak ingin aku pulang?'
Yusuke memastikan.
"Apakah kamu ingin aku tinggal di sini sampai siang?"
Rena berkedip dan tersenyum sedih; jika dia setuju sama saja jika dia sangat egois.
"...tidak, Yusuke-kun..."
Bibir gemetar karena bingung harus memilih.
__ADS_1
"Berciuman?"
Rena tersenyum, dia tidak memikirkan masalah ciuman itu.
Dia meraih Yusuke dengan kedua tangan; mereka berciuman.
'Sudah kubilang bakatmu adalah berciuman, gadis lugu ini punya bakat terpendam.'
20 detik berlalu, mereka saling berpandangan dengan perasaan tidak menentu.
"Apakah kamu bahagia Yusuke-kun?"
Pertanyaan Rena yang penuh ingin tahu.
"Aku sangat bahagia dan menikmati semuanya."
Telapak tangan kanan Rena menyentuh dada Yusuke.
"... aku senang kalau kamu merasa bahagia."
"Kamu cantik sekali hari ini..."
Rena mengigit bibirnya.
"... terima kasih Yusuke-kun. Kamu juga, kamu tampan hari ini."
"Aku sangat kesulitan," gumam Yusuke.
"Kesulitan?"
Yusuke bicarakan blak-blakan tanpa rasa malu.
"Aku sangat kesulitan dengan menahan diri; pacarku sangat cantik, dada montok, bibirnya mungil yang lihai."
Rena bicara dengan berani.
"Kumat lagi mesumnya ..."
Rena menyelipkan rambutnya di telinga kiri.
Yusuke tersenyum dan meletakkan telapak tangan di kepala Rena.
"Terima kasih sudah sabar dengan kelakuanku."
{Heart Points: 8 > 9/10}
Rena memperhatikan Yusuke pergi dan bergumam dengan arti; 'semoga selamat sampai tujuan.'
"... iterasshai, Yusuke-kun..."
***
Saat naik angkutan umum; Yusuke merasa kesal karena yang ia lihat adalah tindakan tidak bermoral: Yusuke mendecakkan lidah, dia tidak bisa mengabaikan meskipun ini adalah dunia game R-19 yang punya sisi gelap.
"Wah, maaf," kata Yusuke mendorong dengan tangan kirinya: Pria paruh baya yang kaget dan hampir jatuh itu memilih pergi.
"Cih!"
"Kamu?"
"Mengapa diam saja?"
"..."
Yang sedang berbicara dengan Yusuke adalah Watanabe Chiya.
"Kenapa mereka hanya menonton..."
"Kamu berbicara seperti kamu tidak tahu..."
Chiya mengamati sekelilingnya, dan berbicara lagi.
"Aku beritahu; aku bisa menjadi piala mereka, jika aku melawan, sialan untuk mereka yang ingin gratisan."
Yusuke tersenyum canggung.
Chiya tersenyum kecut.
'Untung dia menolong, tidak mengecewakan...'
"Jika kamu hanya melihatnya, aku akan sangat malu jika kamu melihatku."
"Wah, kamu punya malu?" respon Yusuke.
"Kamu bajingan, tentu saja aku punya."
Chiya melirik diam-diam, dan berbicara lagi.
"Tetangga?"
"Hah?"
"... thank you ."
"You're welcome."
'Aku tidak tahu mengapa ketika dia ada di sekitarku, suasana hatiku tidak sedih ...'
Yusuke tersentak karena Chiya menepuk bokongnya.
Chiya tersenyum manis dan berkata.
"Gratisnya masih berlaku, kamu mau?"
"Benar-benar kau ini..."
__ADS_1
Yusuke menjewer telinga kanan Chiya.
Chiya terkekeh.