
Yusuke menyisir rambutnya ke belakang, dia terlalu terbawa suasana egois. Wajah sedih itu membuatnya menyadari apa yang dia tuju dan apa yang dia lakukan di dunia ini?
'Melindungi?'
Dia kadang-kadang berbicara dengan baik, tetapi mengapa dia harus terganggu oleh pemikiran primitif seperti itu?
"Aku minta maaf."
Rena berkedip tidak mengerti, dia hanya mengangguk.
"Kamu tidak bosan denganku, kan? Aku membaca di internet bahwa berkencan juga bisa bosan ... "
"Aku tidak bosan. Ngomong-ngomong kamu kesulitan belajar, bukan? Mata pelajaran apa yang paling sulit?"
"Bahasa Inggris... aku tidak sefasih kamu..."
"Aku akan membantumu, ambil semua bukumu."
"Ah, aku akan mengambilnya dulu!"
Rena buru-buru pergi ke kamarnya.
"Kamu sering lupa di bagian ini; kata dia dibagi menjadi dua. Contohnya: dia (he) ini untuk laki-laki, dan dia (she), kata dia untuk perempuan."
'Aku hanya pura-pura tidak tahu, tidak apa-apa... Yusuke-kun jadi tidak bosan lagi.'
"Mudahnya begini, he berciuman dengan she."
"Eh... kenapa begitu..."
Rena mengerucutkan bibirnya.
Yusuke melanjutkannya.
"Paham?"
"Ya..."
Rena merona merah.
'Cara mengajarkannya sangat mesum…'
Rena berusaha untuk tidak menertawakan.
Yusuke memang pintar tapi tulisannya jelek. Yusuke tersenyum malu-malu, dia dibantu oleh sistem pemahaman tulisan, dan banyak pemahaman tetapi menulis benar-benar kesulitan karena negara J dan K, sangat jauh berbeda dan butuh membiasakan diri.
"Kamu langsung memahaminya dengan benar. Rena-chan punya banyak bakat, sungguh istri ideal."
Rena menggaruk pipi kirinya dengan telunjuk, ia menjulurkan lidahnya untuk membasahi bibirnya dan mengigit dengan lembut.
Yusuke tersenyum karena semua pertanyaan dijawab dengan mudah. Apakah Rena terlalu pintar atau gadis ini membohonginya, Yusuke cukup penasaran.
"Thank you," kata Rena.
"You're welcome."
"Nani?" tanya Rena, yang berarti: 'Apa?'
"Kissing?"
"Ano... Nee... tidak baik ...."
'Yusuke-kun menyebalkan, kenapa kamu selalu seperti ini?'
Rena hanya mengeluh dalam hati, dan mendekat untuk mengecup pipi Yusuke.
"Puas?"
"Tidak sama sekali, hahaha!"
Gumam Yusuke.
"Bibirmu sangat seksi..."
Rena melihat, dengan senyum pengertian; dia berkencan dengan lelaki yang punya bahasa yang tidak sopan, contoh buruk tetapi, ia memakluminya.
Yusuke beralih menonton baseball, ia ingin tidak terlalu fokus dengan pikirannya yang mengembara kesana-kemari.
Rena duduk dan tiba-tiba berbicara.
__ADS_1
"Terima kasih Yusuke-kun."
Yusuke menyunggingkan senyum.
"Hanya terima kasih?"
Rena melihat ke kiri, matanya bergerak gelisah.
Sebuah ide muncul di kepala Rena; dia bertepuk tangan dan berbicara.
"Haruskah kita menonton film?"
"Aku mau, jika film dewas—"
Rena menepuk kepala Yusuke dengan bantal yang ada di sofa.
"Stop, stop!"
Yusuke memegang tangan Rena.
"Bukankah baik bagimu untuk tumbuh dewasa? Mari kita tonton."
"Tidak mau, tidak suka."
Rena membentuk X dengan dua jari telunjuknya.
Dengan tutur kata yang sopan Rena membenarkan.
"Kamu tidak dapat menonton hal-hal seperti itu, kita masih pelajar. Menonton film seperti itu melanggar hukum, kan?"
Yusuke memulai dengan wajah bosan.
Rena menunjukkan ekspresi wajah sedih.
"Ada banyak yang bisa kita lakukan selain itu, mengapa menonton orang seperti itu ... tidak baik."
Yusuke menyeringai, dia bersemangat untuk mengerjai Rena.
"Sedangkan yang lain bahkan lebih dari menonton, mereka bahkan melakukannya, wow, aku sangat cemburu."
"Bagaimana mungkin siswa melakukannya. Kamu bohong!"
"Cukup. Aku tidak suka, diam!"
Rena terkejut dengan kata-katanya sendiri, dia menutup mulutnya, dan berbicara.
"Yusuke-kun, aku tidak bermaksud…”
Yusuke tidak keberatan, dia tersenyum karena Rena merasa salah dengan ucapannya sendiri.
Yusuke menyentuh dan mengusap pipi kiri Rena dengan ibu jarinya.
"Kekeke, kamu masih bisa bertahan meskipun kita telah melakukan sesuatu yang berlebihan."
Rena tersenyum tipis.
"Kita berjanji tidak akan melakukannya lagi."
"Meskipun itu baru setengah jalan."
Rena menepuk kening Yusuke.
Rena bersikap seperti itu karena membaca bahwa jika terlalu mudah didapat, pasangannya akan bosan.
Rena mengenang saat berada di warnet, ia sangat berusaha menikmati sesuatu yang keras dan tebal seperti itu, bahkan rahangnya terasa pegal.
'Jika aku ingat, itu jadi semakin besar, aneh sekali...'
Rena tersipu, dia menutup matanya, dia tidak lagi polos karena ulahnya Yusuke. Namun, dia mengakuinya; salah karena ingin membuat Yusuke bahagia.
Rena memutar otak untuk menyenangkan kekasihnya yang mesum dan menyebalkan itu, tapi tidak berlebihan; Rena merasa terganggu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Rena menjawab.
"Aku memikirkan, kamu keterlaluan Yusuke-kun."
"Benarkah? Apa karena aku sering berubah sikap? Kadang baik kadang menyebalkan, hahaha..."
__ADS_1
Yusuke tersenyum dan melanjutkan ucapannya.
"Kebanyakan dari kami seperti ini. Kamu harus tahu bahwa kebanyakan dari kami biasanya seperti ini," kata Yusuke, membidik sebagian besar pria termasuk dirinya sendiri.
"..."
Rena berkedip mencoba memahaminya.
Saat Rena mendengarkan, dia semakin mengerti bahwa apa yang Yusuke bicarakan adalah bahwa kebanyakan pria adalah orang mesum. Kecewa karena Yusuke juga seperti mereka, Rena cemberut karena laki-laki melihat perempuan seperti itu.
"Ha-ha-ha, jangan menangis, biasanya seperti itu."
"Aku tidak suka ..."
'Kamu pasti membayangkan aku berbeda, sayang sekali, kan?'
Rena merenung, dia harus mencari cara untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Rena ingin melarang Yusuke untuk memiliki kebiasaan buruk, tetapi Yusuke mengatakan bahwa itu normal dan normal untuk laki-laki.
"Jangan terlalu dipikirkan, yang penting kamu sudah tahu bahwa pacaran itu tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Hehe—"
Rena tertawa kaku.
Waktu sore hari.
Rena tertidur di samping Yusuke.
Rena terbangun saat Yusuke terlalu fokus untuk melihatnya.
"Aku ketiduran?"
"Ya."
Rena menyadarinya, dia mengusap wajahnya.
"Aku ke kamar mandi dulu..."
Dia bergegas pergi.
Yusuke merentangkan tangannya, dia merasa sangat pegal karena Rena terlalu lama bersandar.
Yusuke menghela napas, dia terlalu banyak bicara dengan fakta yang seharusnya tidak dia ungkapkan.
"Apakah dia akan mewaspadaiku mulai sekarang?"
Yusuke melihat jam sudah hampir jam 5, dia bangun dan pergi ke arah yang tadi Rena tuju.
Yusuke tidak mendapatkan apa pun dari sistem, tidak ada perintah yang mungkin membuatnya untuk menyerang Rena.
"Rena-chan, aku akan langsung pulang."
"Jangan."
Beberapa waktu kemudian, Rena keluar dari kamar mandi.
"Kamu mau pulang! Kita bisa makan malam. Papa dan Mama akan kembali besok sore."
Yusuke menyeringai saat dia bertanya.
"Bagaimana kalau aku menginap malam ini?"
Rena berpikir sejenak dan mengangguk.
"Tidak apa-apa. Kamu bisa menginap malam ini, aku setuju, ide bagus."
"Betapa cerobohnya, kamu mudah dimanfaatkan."
Rena memainkan roknya.
"Kenapa bicara seperti itu, aku selalu terdengar salah."
"Ya... aku tidak bilang kamu selalu salah karena ada yang bilang wanita selalu benar... menurutku kamu tidak seperti mer—"
"Wah, berarti aku yang selalu benar?"
"Mustahil."
__ADS_1
Rena menggembungkan pipinya, ia merasa sangat kesal dan kesal.