
Matanya dipenuhi kesedihan, merasa cemburu pada Ayumi yang tidak tahu bagaimana mencintai seseorang yang dia inginkan seperti Ayumi yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan media sosial, dan ingin menghilangkan perasaannya pada Yusuke.
Saat kembang api meledak di langit malam, Minami mendengarkan Ayumi dengan ekspresi sedih bukannya senang.
"Kamu benar-benar harus melupakannya dan menemukan pacar."
"Aku tidak ingin pacar."
"Lalu apakah kamu ingin terus menyiksa dirimu sendiri?"
Sangat memalukan ketika orang yang memberi ceramah mengatakan: 'Mencari pacar,' nyatanya Ayumi bahkan belum pernah menjalin hubungan, dan menyarankan agar dia segera mencari pacar dan menjauh dari Yusuke.
Ketika dia terlalu tenggelam dalam pikirannya untuk melupakan Yusuke dan tidak bisa melarikan diri, dia menabrak seseorang yang sekarang berdiri di depannya.
"Kita bertemu lagi."
"Aah!"
Minami menatapnya ketakutan. Karena yang dia lihat adalah Akuma Kento.
"Kenapa kamu sendirian?"
Saat Minami melihat sekeliling, Ayumi tidak terlihat
Sebagai orang dewasa, lucu untuknya tersesat, ia merasa panik, dan ia mencoba lari, ia merasa seperti tersesat. Tidak ada kenalan, tidak ada Ayumi, tidak ada Rena, tidak ada Yusuke. Minami tersenyum pahit dan berusaha menjauhkan kakinya dari sosok berbahaya itu.
"Kamu mau kemana, lebih baik kamu ikut aku, kita bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan."
Saat Kento meraih pergelangan tangan kirinya, Minami menoleh ke belakang dengan ngeri.
Minami digandeng oleh Kento, yang membawanya pergi, dan saat Kento bertanya padanya, dia ketakutan.
"Aku punya pertanyaan untuk kamu jawab. Ya, apakah kamu masih perawan?"
Senyum Kento menjadi lebih menakutkan dari sebelumnya.
"Biarkan dia pergi..."
Suara Ayumi mengubah tatapan Kento menjadi jengkel dan marah.
Kento membebaskan Minami yang langsung berlari ke Ayumi, dan mereka yang benar-benar buru-buru meninggalkan Kento yang hanya tersenyum miring.
"Aku akan membiarkanmu pergi, yang akan menjadi mainan masa depanku."
Keduanya menemukan tempat yang jauh dari Kento dan berbicara satu sama lain, dan Ayumi berbicara lebih dulu dan bertanya pada Minami.
"Mengapa kamu bersama dengannya?"
"Entahlah, aku hanya berjalan dan menabraknya..."
"Untungnya aku melihatmu dan kamu tidak pergi terlalu jauh jika tidak ada aku akan berbahaya. Kamu memiliki banyak hati untuk menjadi seperti ini ..."
Ayumi menghela napas lelah dan berbicara lagi.
"Minami, kamu harus berhati-hati agar tidak sembrono lagi."
"Oke, aku mengerti aku tidak akan jauh darimu."
__ADS_1
"Kenapa kau begitu takut Minami?"
Minami dan Ayumi melihat seorang gadis berambut hitam dengan wajah yang familiar menyapa mereka, tapi yakin mereka tidak mengenalinya.
Ayumi angkat bicara dan bertanya.
"Kamu?"
"Kekeke, kamu bahkan tidak mengenalku. Aku benar-benar Watanabe Chiya."
"Eh, Chiya?"
Minami dan Ayumi melihat seorang remaja berdiri di samping Chiya.
Minami bahkan Ayumi sampai tercengang karena Chiya pacaran dengan Park Shin.
Ayumi yang biasanya dengan sikap tenang tak peduli, sampai memijat dahinya sendiri ia butuh bernapas lega untuk menerima sesuatu yang mengejutkan.
Sementara Minami berpikir kalau Chiya yang mudah di tebak menyukai Yusuke kini berpaling pada Park Shin yang sebagai remaja yang tidak baik.
'Apakah dia menyerah dan jadi lebih nakal lagi...?'
Minami dan Ayumi mulai menilai Park Shin sosok remaja laki-laki yang tampan.
Keduanya mulai membanding-bandingkan Park Shin dengan Nakajima Yusuke.
Keduanya sama-sama tampan, dan mereka menilai kalau Chiya tertarik dengan ketampanan tidak peduli kalau kekasihnya yang sekarang bahkan tidak jauh dari sikap seorang preman.
***
Yusuke yang lelah kini merebahkan diri di tempat tidur. Dia mengacaukan hampir segalanya karena amarahnya.
Yusuke masih memiliki perasaan yang tidak dewasa secara naluriah.
"Aku harus lebih realistis. Aku akan mencari kerja paruh waktu untuk mengumpulkan banyak uang untuk liburan musim panas selama sebulan. Aku tidak bisa mengandalkan sistem yang memberikan tugas yang tidak pasti."
Mencari pekerjaan paruh waktu berselancar di internet sambil melihat layar ponsel, yang paling dekat adalah kasir minimarket.
"Tidak ada salahnya menjadi kasir. Banyak orang melakukannya dalam kehidupan sebelumnya juga sama, karena semua orang akan melakukannya selama liburan musim panas."
Yang harus dia pilih adalah apakah akan bergabung dengan perusahaan di masa depan atau menjadi guru bahasa Inggris. Sulit rasanya jika tidak mempersiapkan diri dari sekarang. Nakajima Yusuke ingat apa yang dikatakan Hashimoto Handa saat itu, mengatakan bahwa kantor akan lebih baik. Tapi Yusuke masih mempertimbangkannya dulu.
"Tidak boleh asal-asalan karena hidup cuma sekali ada kesempatan juga hanya beruntung."
Dia menemukan hidupnya sulit sekarang karena ada begitu banyak hal yang sangat berbeda, terutama ketika ayah dan ibu Rena tampak seperti orang asing.
"Aku masih menganggap diriku beruntung, karena Rena-chan tidak banyak berubah seperti orang tuanya. Mungkin karena cintanya kuat, positif, dan memiliki cinta yang terlalu protektif."
Di balik pintu, terdengar ketukan di pintu berlawanan dengan yang Yusuke kira, yang ternyata adalah Hashimoto Hikari.
Hashimoto Hikari masuk dan mulai berbicara.
"Yusuke-kun, maafkan jika aku tidak sopan. Aku hanya orang tua, jadi hanya memiliki banyak pemikiran."
Dengan tatapan bersahabat, Hashimoto Hikari berbicara dengan lebih jujur.
"Ini salahku karena aku terlalu banyak bicara dengan suamiku dan mempersulit kalian."
__ADS_1
"..."
"Aku harap kamu tidak menyimpan dendam. Bisakah kamu menerimanya?"
"Aku bisa menerimanya Hikari-san."
"Syukurlah, kamu anak yang baik."
Hikari membelai dada Yusuke.
Yusuke mencoba untuk tenang meskipun wanita di depannya memiliki wajah cantik seperti pacarnya.
Satu hal yang mengejutkan adalah ketika calon ibu mertua kini memeluknya dan berkata:
"Kamu adalah anak yang sehat dan akan beruntung untuk putriku."
“Terima kasih, hahaha.”
Wajah mereka cukup dekat, dan senyum Hikari sendiri membuat Yusuke bertanya dengan canggung.
"Hikari-san, tidak apa-apa untuk berlebihan seperti ini?"
"Tentu saja kamu bisa berpelukan dengan calon menantumu, itu tidak aneh, kan?"
'Jika Rena membuka pintu dan melihat apa yang kita lakukan, itu akan berbahaya. Dia akan marah dan melemparkan sesuatu ke arahku untuk menyakitiku... itu tidak mungkin.'
Yusuke menghela napas lega ketika Hikari meninggalkan ruangan.
'Ini benar-benar gila ...'
Suara pintu dibuka diikuti oleh suara Hashimoto Rena.
"Yusuke-kun~"
Dia mengamati bahwa Rena tidak memiliki ekspresi yang menunjukkan bahwa dia kesal padanya. Beruntung apa yang terjadi antara dia dan calon ibu mertua tidak diketahui oleh Rena.
"Mengapa kamu tidak mengetuk pintu ketika kamu memasuki kamarku?"
"Kurasa itu tidak perlu karena kita suami-istri?"
"Itu hanya kata-kata sayang, kita bukan suami-istri yang sah."
Rena duduk di sebelah kanan Yusuke dan berkata dengan nada sedih.
"Aku sedang menstruasi dan ini berita buruk."
"Mengapa ini berita buruk?"
"Jelas, ini berita buruk. Jika aku sedang menstruasi, berarti aku tidak hamil."
"Kamu bersikeras ingin hamil terus..."
"Ayo pergi ke rumah sakit Yusuke-kun."
"Kamu tidak butuh itu. Bukankah kamu sudah tahu kamu butuh proses?"
"Ha... kamu..."
__ADS_1
'Dia bahkan sedang haid, kenapa meminta pemeriksaan ...'