
Seorang gadis remaja yang masih belum berubah sikapnya memang membuat sakit kepalanya semakin parah, tapi dia selalu berusaha untuk tidak jatuh dan tenggelam karenanya.
Tatapannya selalu menerawang jauh, melihat seorang remaja laki-laki, kekasihnya, tunangannya, sibuk berolahraga di halaman. Melihat pacarnya begitu aktif, dia tersenyum.
Angin di musim gugur terasa relatif dingin, semua orang tahu jika sudah memasuki musim dingin, akan terasa waktu berlalu dengan cepat.
"Yusuke-kun, kamu sudah berolahraga terlalu lama, apa kamu tidak kedinginan?"
"Tidak, aku malah merasa hangat, karena badanku sangat hangat."
Kekasihnya berbicara main-main, tersenyum.
Rena tersipu, hanya tersenyum dan menatap Yusuke yang masih melanjutkan pekerjaan ringannya, dan duduk di sampingnya hingga ia benar-benar selesai.
Dia mengatakan bahwa dia ingin pergi kencan, apa yang dia inginkan sudah tercapai, permintaan itu mudah diterima oleh pacarnya, dan dia berterima kasih.
Taman hiburan yang mereka kunjungi tidak terlalu ramai dan mereka bersenang-senang di sana sambil mengenang banyak hal yang mereka lakukan saat itu.
Beberapa orang ingat pernah melihat kejadian yang telah berlalu, karena ada seorang ibu yang mengingatnya di depan umum, dan sekarang dia mengulanginya dan bergabung dengan Rena mencoba Korsel.
"Aku masih ingat Yusuke-kun dulu sangat malu."
"Uhuk, uhuk, sekarang aku juga malu karena kamu, aku tidak akan malu karena seseorang merasakan yang sama."
Ketika dia mengendarai kuda mainan, dia merasa seperti anak kecil yang tidak punya masa kecilnya, dia tersenyum, dan dia ingat betapa dia menikmati masa kecilnya yang bahagia.
Saat mereka masuk ke Gerbong Bianglala, mereka mengingat sesuatu yang sangat tidak nyaman yang telah mereka lalui, dan Rena memperhatikan Yusuke dengan hati-hati.
"Yusuke-kun, apakah kamu masih ingat bahwa kamu pernah berpura-pura marah kepadaku untuk menakutiku?"
“Iya, maaf, aku benar-benar tidak bermaksud saat itu, aku hanya ingin kamu serius denganku, niatku tidak buruk, sayangku.”
"Aku masih kesal pada saat itu, aku kaget dan kamu egois pada saat itu aku mencoba meyakinkan dan menuruti keinginan kamu."
"Yah, apakah aku egois dan menyusahkan kamu tanpa pilihan?"
Yusuke tersenyum sangat puas.
Rena tersenyum dan mengungkapkan pikirannya.
__ADS_1
"Aku senang kita masih bersama pada akhirnya, kita berkencan dan kita saling mencintai."
Rena melanjutkan: "Sekarang aku tidak bisa hidup tanpamu, aku benar-benar tidak bisa. Jika hal seperti itu terjadi lagi dan tidak dapat dihindari, aku pasti akan sangat sedih."
"Kamu jangan mengingat hal buruk apa yang aku lakukan, itu benar-benar jahat, terlalu berlebihan untuk menjahilimu, aku minta maaf lagi. Sayang, aku benar-benar keterlaluan, dan aku tidak akan melakukannya lagi, meskipun aku ingin sekali menggertakmu untuk menggodamu."
Saat Bianglala berhenti, mereka keluar dari sana sambil bergandengan tangan, dan kini mereka tersenyum bahagia, Rena-lah yang mengambil kesempatan untuk mencubit pinggang Yusuke.
"Apakah sayangku ingin dicium? Menggoda sekali, seperti meminta sesuatu yang penuh gairah?"
Rena tersenyum dan menepuk lengan Yusuke.
Terkejut.
Yusuke mengangkat tubuh Rena dengan kedua tangan dan membawanya untuk mencari taksi, banyak orang melihat bahwa mereka tidak berbeda dari sebelumnya.
Keheningan Rena hanya untuk membuatnya tidak lagi malu seperti dulu, dan sekarang dia hanya merasa nyaman dan merasa hangat.
"Berat badanmu naik, ahemm ..."
Rena sangat marah, dia berjuang keras dan meminta kekasihnya untuk menurunkannya.
***
Di kelas olahraga, Yusuke dan Dai berpacu satu sama lain, dan mereka berdua
berkompetisi dalam lari 100 meter.
Dai tidak mau kalah, dia sangat ingin menang dari seniornya yang disegani dalam segala hal yang dia lakukan.
Suara keras para gadis memberi lebih banyak dorongan kepada Yusuke yang berada di depan Dai sekarang.
Rena hanya tersenyum, dia berusaha untuk menahannya, dia tidak ingin para gadis-gadis itu satu per satu dengan absurd.
Takeru yang berada di peringkat kesepuluh diam-diam merasa kesal dengan kemampuan atletiknya yang lemah, hanya Midori yang memberinya semangat.
Seorang gadis rambut hitam panjang sebahu dan berkacamata mendekat, dan membawakan air mineral untuknya yang haus dan rakus akan air.
Dia masih sangat iri dengan apa yang Yusuke miliki, banyak siswa-siswi yang mendukung Yusuke.
__ADS_1
Tak jauh darinya, Midori berusaha menghiburnya, namun ia sengaja menjauhkan diri dan perlahan menjauh dari Midori.
Dia merasa lebih rendah dari Yusuke, yang membuatnya semakin marah dengan apa yang terjadi, dan dia menjadi lebih emosional, terkubur di dalam hatinya.
Sebuah suara yang akrab menghangatkan dadanya, itu adalah suara Rena, yang memanggil Yusuke, dan sekarang Yusuke menjawab sambil tersenyum.
Menyadari hal tersebut, Midori hanya terdiam sambil tersenyum kecut, ia berpikir lagi bahwa ia tidak tahu apakah keadaannya saat ini sebagai kekasih atau sebagai pelarian.
Midori mengerti bahwa dia lebih rendah dari gadis lain, dia tidak memiliki penampilan cantik untuk menarik pria, dia merasa rendah diri.
Ia menjauh karena ingin mencari tempat sepi untuk melampiaskan kesedihannya agar tidak ada yang tahu bahwa ia menangis karena cinta.
Apa yang dia rasakan sekarang adalah dia diberi banyak kata-kata kosong, ribuan godaan, dan akhirnya berpikir bahwa Takeru akan tulus padanya.
Orang yang melihatnya adalah Dai, yang sedang pergi ke kamar mandi saat melihat Midori sangat sedih dan meminta untuk bersabar dengan pilihannya.
Dai pergi setelah mengucapkan beberapa patah kata yang terdengar sangat bijak, jelas Dai sudah banyak berubah.
Hingga menilai kalau Dai dan Yusuke itu bersama, merubah Dai jadi orang baik yang dulunya suka menghajar orang.
Dai berkata jika dia ingat bahwa Midori tidak pernah sesedih ini, karena itu masalah cinta, apa yang dia lihat sebelumnya sangat menyedihkan. Dia berpikir bahwa situasi Midori dan Takeru tidak terlalu baik.
Yusuke tidak ingin ikut campur dalam hubungan orang lain, karena jika Yusuke sudah curiga bahwa Midori dan pacarnya tidak akan bahagia, masalah cinta akan naik turun.
"Yusuke-kun, apa kamu yakin tidak mau membantu Midori?"
Rena bertanya pada Yusuke yang baru saja memesan sebotol air mineral.
"Kamu tidak seperti biasanya, bagaimana jika aku mendekati Midori. Rena-chan pasti cemberut dan kehilangan kesabaran padaku lagi? Aku akan mendapat masalah."
"Aku berjanji tidak akan marah, aku berjanji pada Yusuke-kun, aku merasa kasihan pada Midori, dia sedih, mari kita bicara dengannya untuk menghiburnya?"
"Ya, dia terlihat seperti kamu katakan, dan itu adalah risiko yang harus dia ambil karena kita berteman, kita masih berteman, dan entah bagaimana kita harus membantu."
"..." Rena meraih tangan Yusuke untuk mengajak.
Yusuke mengikuti Rena untuk mencari Midori, yang terkejut karena mereka memanggilnya.
“Ayo bicara, aku ingin bicara denganmu.” Rena tersenyum manis, membujuknya untuk pergi bersama, dan Midori mengikutinya.
__ADS_1