Menyelamatkan Hashimoto Rena

Menyelamatkan Hashimoto Rena
Perasaan Minami


__ADS_3

Mereka turun di halte yang sama dan pergi ke apartemen mereka. Selama perjalanan, Chiya sering menggoda Yusuke dengan kata-katanya.


"Senang punya pacar, kamu pasti sangat puas, kan?" tanya Chiya, dia membuat lingkaran di tangan kanan, dan menggerak-gerakkan jari telunjuk di tangan satunya.


"Sangat puas sehingga aku tidak ingin berhenti."


"Wow, kamu benar-benar melakukannya dengan pacarmu?"


"Tentu saja," jawab Yusuke.


Chiya menaiki anak tangga lebih dulu diikuti oleh Yusuke yang cukup sibuk dengan ponselnya membalas pesan.


Sosok familiar kini berada di depan, dia adalah Keiko Minami.


"Yusuke-kun?!"


"Oh, Minami-chan, kamu ada di sini?"


"Aku akan mampir... aku baru saja pulang dari liburan," kata Minami, dia juga menatap Chiya.


Chiya menutup mulutnya, dia menyenggol lengan Yusuke, dan pergi ke kamar apartemennya.


"Apa kenalan Yusuke-kun?"


"Ya, kami cukup mengenal satu sama lain."


Minami berjalan di samping Yusuke sambil bercerita tentang liburannya bersama Ayumi.


"Bolehkah aku mengunjungi rumahmu?"


"Ya. Anda boleh berkunjung."


Chiya diam-diam mengintip, dia penasaran ingin tahu hubungan Yusuke dengan gadis selain Rena.


'Kamu benar-benar, denganku menolak tapi dengan gadis lain kamu begitu menerima.'


Yusuke melihat bahwa pakaian kasual Minami bahkan lebih berani daripada pakaian Rena. Yusuke paham kalau pacarnya masih terlalu naif untuk berpakaian yang membuatnya heboh.


"Apakah kamu dan Rena-chan sangat cocok, kalian tidak dalam kesulitan, kan?"


"Tidak," jawab Yusuke, dia duduk di bantal khusus duduk.


"Ngomong-ngomong, bisakah aku sering datang?"


Yusuke merasa kesulitan, karena Minami juga teman Rena, dan Minami sendiri adalah gadis yang baik.


"Boleh."


"Terima kasih, aku senang kita masih bisa dekat."


"Ya, aku juga senang."


'Ini sangat canggung.'


Bel berbunyi dua kali, saat Yusuke melihat ke peta yang bisa melihat keberadaan Rena; Yusuke menghela napas lega, dan menuju ke pintu.


"Bolehkah aku masuk?"


"Kamu? Ya, masuk saja."


'Ada Minami, jadi bisa santai.'


Chiya yang merupakan tipe blak-blakan tidak segan-segan untuk berkenalan dan berbicara dengan Minami.


"Kamu teman pacarnya? Wah, kamu makan pacar teman sendiri?"


"Eeh...?"


"Jangan bicara seperti itu Chiya, dia tidak seperti kamu yang hanya makan bubur pria."

__ADS_1


"Hahaha, cara bicaramu keren sekali."


Minami merasa tidak nyaman, kehadiran Chiya cukup mengganggu dirinya yang berniat untuk bisa berbicara berdua saja dengan Yusuke.


Selama pengamatan Minami, Yusuke dan Chiya rukun; dia hanya mengira itu mungkin karena mereka berdua adalah tetangga yang sering bertemu.


"... threesome pasti bagus kan?" tanya Chiya dengan maksud yang tidak pantas.


"Kamu gila?"


“Kekeke, aku hanya menanyakan pendapatmu.”


Chiya menatap Minami yang gugup.


'Dia tahu apa artinya itu?'


Chiya menjulurkan lidahnya, dan membasahi bibirnya. Chiya duduk untuk mendekati Minami.


"Kamu tahu apa artinya threesome?"


Minami memainkan ujung rambutnya.


"..."


"Kekeke tahu?" tanya Chiya.


Minami yang sering membaca novel dewasa, dia sudah tahu artinya.


Yusuke menggaruk belakang lehernya, dia menyesal membiarkan Chiya masuk.


"Jika kamu terus berbicara seperti itu, aku akan menendangmu keluar."


"Wow, tendang aku dari belakang, itu artinya sangat keras."


"..."


"..."


Yusuke yang marah membawa Chiya keluar dari kamarnya.


"Aduh," Chiya mengeluh.


"Aku tidak melakukan apa-apa, ada apa denganmu?"


"Tidak masalah."


"Ada apa dengan tanganmu?"


"Oh, aku jatuh di kamar mandi tadi malam."


Setelah meminta maaf, Yusuke membawa Chiya keluar dari kamar apartemennya.


"Bukannya aku tidak sopan, dia polos di dalam, dan itu salahmu sendiri karena bertindak seperti itu."


"Membosankan, aku akan pulang saja."


"Rawat tanganmu, pergilah ke rumah sakit."


"Terima kasih sudah khawatir, kamu sama seperti pacarku."


"Hah, apakah kamu punya pacar?"


"Punya banyak."


"Aku bersumpah, semua wanita di dunia malu padamu."


"Kekeke, aku tidak peduli yang penting aku bahagia!"


Yusuke tersenyum pasrah.

__ADS_1


Yusuke duduk dan tersenyum lesu, dia mulai berbicara dengan Minami.


"Maaf atas gangguannya, dia memang aneh seperti itu."


"Dia terlihat sangat tidak baik, menurutku, dia adalah gadis nakal."


"Kamu benar, dia gadis nakal bahkan nakal saja tidak cukup."


"Akan berbahaya jika kamu terlalu dekat dengan gadis nakal."


"Bahaya? Kupikir itu tidak berbahaya, lagipula dia tidak berbahaya."


"Yusuke-kun, apa Rena-chan tahu kalau kamu dekat dengan gadis seperti itu? Sebaiknya kamu menjauh darinya, alangkah buruknya jika Rena-chan mengetahuinya."


Yusuke tersenyum dan mengangguk, dia tidak bisa menjawab jika dia sepenuhnya setuju; Namun, Chiya tidak melakukan kesalahan dan tidak buruk berteman dengan gadis agresif seperti Chiya, bahkan sebagai hiburan untuk menghilangkan kebosanan.


Minami tidak nyaman dengan perdebatan itu, dia memilih diam sejenak dan bertanya tentang rutinitas harian Yusuke selama liburan musim panas.


Ia berusaha menikmatinya meski yang sedang kini dibicarakan adalah Hashimoto Rena. Hubungan semakin baik dan kisah cinta yang manis membuat Minami tersenyum penuh arti.


"Dia beruntung punya pacar sepertimu... aku cukup cemburu," kata Minami sambil menggigit ujung lidahnya dengan ringan.


"Aku yang merasa beruntung, kau tahu dia sangat penurut dan menggemaskan hahaha..."


Yusuke melihat Minami yang dengan sangat jelas menutup mulutnya menahan rasa sedihnya.


Yusuke mengusap kepala Minami.


"Maaf, kamu pasti sudah mencoba yang terbaik."


"Kamu harus tahu bahwa aku menyukaimu, itu sangat menyedihkan bagiku ..."


Yusuke terkejut karena Minami tiba-tiba bangun dan memeluknya. Gadis remaja itu menangis dalam pelukan, yang pada awalnya ragu-ragu untuk dibalas oleh Yusuke.


'Kalau begini aku seperti bajingan, disini aku memeluk wanita lain sementara wanitaku sibuk belajar dan membayangkan cinta sejati... maafkan aku Rena-chan...'


"Itu membuatku sedih seperti yang dia katakan saat aku memakan pacar temanku... kamu bisa membenciku karena aku punya niat untuk memilikimu."


"Tiba-tiba kamu menyukaiku, dan bisa sampai sejauh ini, aku merasa beruntung, namun kita tidak ditakdirkan, jangan terlalu sedih dan yakinlah akan ada seseorang yang cocok untukmu di masa depan."


Minami semakin memeluknya dan semakin menangis, dia berusaha menjaga jarak sejak festival, tapi dia semakin merindukannya.


Yusuke mengusap punggung Minami agar dia tidak terlalu sedih, dan benda sialan itu seperti Dejavu: pengaitnya terlepas. Minami tidak menanggapi bahwa dia akan protes, dia terus memeluk Yusuke dengan perasaan campur aduk. Yusuke mencoba membantu dengan meraba-raba memasang pengaitnya agar terkancing kembali.


"Aku akan berbalik, kamu tidak akan bisa memasangnya dengan benar."


Yusuke menelan ludah, tenggorokannya tiba-tiba terasa sangat kering.


'Apakah kamu tidak memilih yang di depan? Apa belum ada yang model semacam itu? Aku tidak boleh ceroboh di masa depan, betapa sialnya bagi orang yang tidak berpengalaman sepertiku!'


Yusuke menjadi bingung dengan pikirannya yang semakin tidak menentu: Yusuke menggertakkan giginya, dia benar-benar berusaha untuk tidak tergoda oleh punggung mulus itu.


'Kamu juga harus tenang bro...'


Rasanya seperti dia ingin menghancurkan saudara laki-lakinya, tetapi dia tidak ingin menjadi 'Kasim' selama sisa hidupnya; Yusuke mencoba bersikap tenang dan tenang, dia mengaturnya dengan menarik napas.


Yusuke lega karena semuanya berakhir dengan damai. Minami yang tersenyum malu-malu dia bangun dan berpamitan untuk pulang.


"Terima kasih untuk mendengarkan yang kurasakan."


"Terima kasih kembali."


Yusuke berbicara sekali lagi.


"Maaf barusan—"


Minami menggelengkan kepalanya.


"Itu tidak sengaja, kamu tidak perlu merasa bersalah."

__ADS_1


"Baiklah jika kamu berkata begitu."


Yusuke mengantarnya keluar dari apartemen. Minami membungkuk dan berbalik dari Yusuke. Sebuah suara yang familiar sedang tertawa; Yusuke menatap Chiya yang menutupi mulutnya dengan telapak tangan.


__ADS_2