
Ceklek!
Pintu terbuka lebar dengan masuknya sosok ke dalam kamar. Sosok tersebut melangkahkan kakinya tanpa ragu, hingga berhenti di depan kasur.
Sae Ju yang tidak menyadari hal itu, hanya membalikkan posisinya dan tertidur pulas.
Byur!
Saat itu juga, ia langsung bangkit karena terkena siraman air. Matanya terbelalak melihat nyonya Hae Ri yang mengenakan piyama setelan satin sutra jubah berwarna hitam baru saja menyiramnya dengan air es dalam ember.
‘’Ibu hem! Maksud saya Nyonya Besar, ada apa tiba-tiba datang kemari?’’ tanya Sae Ju gemetar.
‘’Tentu saja untuk membangunkanmu. Memangnya apa lagi?’’ tanya Nyonya Hae Ri.
Sae Ju bangkit dan menuruni kasur sambil menggigil kedinginan. Air es yang dipakai ibu mertuanya tadi langsung membuatnya seperti langsung membeku. Namun, nyonya Hae Ri memberi kode untuk mengikuti.
......................
Ruang Tamu
Nyonya Hae Ri menghampiri pintu utama sambil masih diikuti oleh Sae Ju. Bahkan wanita itu berjalan hingga gerbang tanpa rasa takut sedikitpun, berbeda dengan Sae Ju yang cepat merasa takut akan gelap, meskipun lampu bangunan bertingkat di belakangnya menyinari seluruh sisi halaman.
__ADS_1
Pria yang bertugas menjaga gerbang langsung bangun terburu-buru saat melihat nyonya Hae Ri dan Sae Ju datang. Ia pun langsung keluar dari bangunan untuk memberi hormat kepada kedua wanita itu. ‘’Salam Nyonya Besar, Nona Muda.’’
‘’Buka gerbangnya!’’ perintah Nyonya Hae Ri.
Petugas itu hanya bingung membuat wanita dewasa tadi kembali menegaskan. Tanpa membuang waktu, gerbang pun terbuka.
Sae Ju yang masih bingung dengan sikap nyonya Hae Ri meminta penjelasan. ‘’Kita akan melakukan apa Nyonya Besar?’’
‘’Bukan kita ... Tapi hanya kau,’’ kata Nyonya Hae Ri.
Sae Ju mengerutkan dahi tanda bingung, sampai akhirnya nyonya Hae Ri menyuruhnya melakukan hal-hal konyol di luar nalar dengan menangkap ikan di luar sana, dan tidak boleh kembali sampai menyelesaikan tugasnya.
Wanita dewasa itu pun menyuruh sang petugas untuk menyeret gadis tadi agar mengeluari gerbang.
‘’Itu urusanmu. Kenapa bertanya kepadaku? Cepat seret dia dan tutup gerbangnya! Sebelum gadis ini menemukan ikan, jangan pernah membuka gerbang untuknya!’’ perintah Nyonya Haeri.
Sae Ju berusaha meminta nyonya Hae Ri agar tidak melakukan hal itu. Sang petugas yang tidak tega pun juga terpaksa menyeretnya keluar lalu menutup gerbang.
‘’Hiks! Tidak ibu! Kumohon buka gerbangnya! Hiks! Aku sangat ketakutan!’’ teriak Sae Ju memukul gerbang.
Tanpa sadar menggunakan tangannya memukul begitu keras, luka melepuh itu kembali terasa sakit. Sae Ju meringis dan kembali berteriak. Dengan tubuh gemetar, ia berbalik menatap jalanan kosong tanpa cahaya meneranginya. Kalau pun ada, itu hanya deretan lampu tiang yang berjarak 1 km.
__ADS_1
‘’Hiks! Hiks! Ibu, tolong buka gerbangnya hiks, hiks, hiks … Siapapun tolong buka gerbangnya,’’ tangis Sae Ju gemetar bukan main.
......................
Ruang Tamu
Nyonya Hae Ri yang baru saja menutup pintu dan berbalik langsung tersentak begitu melihat kepala pelayan sudah ada di belakangnya. Ia pun membuka matanya sambil menghela nafas panjang.
‘’Apa yang Nyonya Besar lakukan? Kenapa menyuruh Nona Muda keluar di jam segini?’’ tanya Kepala Pelayan.
‘’Bisakah kau tidak ikut campur dengan urusanku? Apa yang aku lakukan terhadap gadis itu adalah hakku sebagai ibu mertuanya,’’ kata Nyonya Hae Ri.
‘’Tapi Nyonya Besar tidak pernah memperlakukannya seperti menantu yang layak, melainkan hanya seperti binatang,’’ kata Kepala Pelayan.
Nyonya Hae Ri menarik nafas dengan urat leher yang menegang. ‘’Dengar, aku tidak pernah berniat bersikap kasar kepadamu karena aku menghormatimu sebagai orangtua.’’
Ia pun berjalan pergi meninggalkan kepala pelayan yang masih memandanginya.
‘’Kalau Tuan Muda sampai tahu hal ini, apa yang akan Nyonya Besar lakukan?’’ tanya Kepala Pelayan berhasil membuat langkah kaki wanita tadi terhenti.
Nyonya Hae Ri memasang wajah serius dengan urat leher menegang. Ia pun bicara tanpa merubah posisinya. ‘’Sebaiknya kau tidak melakukan itu jika masih ingin bekerja di rumah ini.’’
__ADS_1
Kepala pelayan hanya memasang wajah sendu melihat wanita itu menaiki tangga. Ia pun menoleh ke arah gerbang lalu menghela nafas.