
Ruang Makan
Nyonya Hae Ri dan Seol Won menyantap makanan tanpa bicara satu sama lain. Ibu dan anak itu hanya diam dengan tenang seperti biasa.
Sae Ju yang tidak bisa meninggalkan kamar karena kondisi tubuhnya, membuat kepala kepala menyuruh beberapa bawahannya untuk membawakan makan malam kepada gadis itu.
‘’Tidak perlu. Aku yang akan membawanya,’’ kata Seol Won membuat sang ibu terbelalak.
Ia pun meneguk air lalu berdiri. ‘’Aku sudah kenyang. Berikan itu kepadaku.’’
Beberapa pelayan tadi menyatukan makan malam dalam satu nampan, sebelum menyerahkannya kepada Seol Won.
Nyonya Hae Ri yang melihat kepergian putranya langsung memasang wajah kusut. Padahal ia berniat mengajak Seol Won bicara, tapi putranya itu malah pergi, membuatnya tidak menyukai reaksi Seol Won yang seolah-olah mengabaikannya.
Kim Sae Ju … Ini semua salahmu, ucapnya dalam hati.
......................
Kamar
Ceklek!
Sae Ju membuka mata saat mendengar suara pintu yang terbuka. Ia pun menoleh dan melihat Seol Won datang sambil membawa nampan berisi makan malam. Dilihatnya pria itu meletakkan nampan tadi di atas meja lampu dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
Tanpa mengatakan apa pun, Seol Won menyuapinya secara tiba-tiba.
‘’Um, kenapa melakukan ini?’’ tanya Sae Ju.
‘’Kau belum makan malam,’’ jawab Seol Won.
‘’Kenapa bukan pelayan yang membawanya?’’ tanya Sae Ju.
Seol Won kembali meletakkan sendok di piring sambil memasang wajah bodohnya. ‘’Kenapa? Kau tidak suka aku yang melakukannya?’’
‘’A-Ani … Bukan seperti itu, maksudku kau tidak perlu repot sampai membawanya dan melayaniku,’’ kata Sae Ju.
‘’Siapa yang melayanimu? Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang suami,’’ kata Seol Won.
Jantungku berdebar lagi. Yang benar saja, ucapnya dalam hati.
Seol Won menghela nafas sambil meletakkan piring di atas nampan lalu berdiri. ‘’Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin kamarku dipenuhi banyak orang, jadi aku sendiri yang membawanya kemari.’’
Sae Ju menunduk dengan wajah sedih. Yang dikatakan Seol Won benar juga, mengapa ia begitu berharap sampai menganggap pria itu menyukainya. Ia pun tersenyum sendu.
Apa yang kuharapkan? Hanya karena tindakan kecil sampai membuatku terlihat bodoh. Seharusnya aku tahu diri, ucapnya dalam hati.
Ia pun sedikit menggeser tubuhnya dan meraih sendok makan.
__ADS_1
Seol Won yang bersandar di kepala kasur, menolehkan kepalanya ke samping melihat gadis itu membelakanginya sambil makan.
Aku tidak sadar membawa nampan itu sendiri kemari. Kurasa aku sudah gila, ucapnya dalam hati.
......................
Keesokan harinya…
Sae Ju membuka matanya dan melihat sisi kasur di sampingnya sudah kosong, yang menandakan Seol Won sudah berangkat. Ia pun bangkit dengan tubuh yang masih terasa nyeri.
Dengan sekuat tenaga, ia menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Luka melepuh di tangannya yang meletus langsung terasa perih begitu menyentuh air.
Matanya kembali berair, meski begitu Sae Ju tetap menahannya. Tidak lama kemudian, ia pun keluar dan saat itu juga nyonya Hae Ri sudah berdiri di hadapannya.
‘’Nyo-Nyonya Besar?’’ tatap Sae Ju.
Plak!
Nyonya Hae Ri menampar gadis itu tanpa belas kasih. ‘’Siapa kau sampai berani memotong ucapanku tadi malam? Selain itu, tidak ada yang memintamu untuk menyelamatkanku dari pertanyaan putraku.’’
Plak!
Sekali lagi ia menampar Sae Ju membuat gadis itu berhasil menangis. ‘’Sampai menyuruh Seol Won membawakan dirimu makanan, nyalimu besar juga Kim Sae Ju.’’
__ADS_1