
Goo Jun sangat menikmati hal ini sehingga ia sangat puas menggoda Seol Won yang bersih keras menyangkal perasaannya. Apalagi ditambah dengan kepolosan sekretaris Roiy, membuat suasana hati Seol Won semakin kesal.
Dua pria ini, kata Seol Won dalam hati yang menahan rasa kesal.
Namun, perhatiannya teralihkan dari kedua orang tadi. ‘’Yoon Song Ki … Tidak biasanya kau diam seperti ini.’’
Kedua pria yang memojokkan Seol Won tadi bersamaan menoleh ke arah Song Ki.
‘’Benar juga. Padahal situasinya sangat bagus. Biasanya kau akan ikut memojokkan Seol Won. Tapi apa ini?’’ tanya Goo Jun.
‘’Sejak tadi Tuan Song Ki seperti memikirkan sesuatu. Apakah seserius itu?’’ tanya Sekretaris Roiy.
Song Ki yang menyilangkan sebelah kaki hanya tersenyum seperti biasa. ‘’Ah itu, ada sesuatu yang membuatku sedikit tertarik.’’
‘’Hee~ sekarang siapa wanita baru ini lagi yang membuatmu sampai mengabaikan kami?’’ goda Goo Jun.
Mata Seol Won memicing karena Song Ki menatapnya sekilas sebelum pria itu menjawab.
‘’Tidak penting. Kalian tidak perlu memikirkannya,’’ senyum Song Ki.
Meski berkata seperti itu, tanpa menoleh ia tahu betul bagaimana reaksi Seol Won saat ini.
Aku merasa ada aura hitam yang sedang memantauku dari jauh. Dia termakan dengan mudah seperti biasa, kata Song Ki dalam hati.
__ADS_1
Seol Won mengerutkan dahi melihat tingkah Song Ki.
Kenapa dia menyeringai? Selain itu, tatapannya barusan, kenapa dia melirik ke arahku sebelum menjawab? Apakah dia sengaja memberiku kode kalau wanita yang membuatnya tertarik adalah Kim Sae Ju? Stt, kenapa juga aku harus peduli? Dasar, kata Seol Won dalam hati.
Song Ki yang melihat Seol Won kembali membuka berkas, membuatnya tersenyum puas.
Setelah Goo Jun mengirim pesan seperti itu, aku mulai menyadari sesuatu yang menarik, ucapnya dalam hati.
......................
Kediaman Go
Nyonya Hae Ri menghampiri koki di ruang dapur. Begitu ia datang, para koki langsung menghampirinya dan memberi hormat.
‘’Aku akan mengatakannya sekali saja. Siapkan air cabai dan panaskan jika aku memintanya. Dan juga, jangan sampai Kepala Pelayan mengetahui hal ini!’’ perintah Nyonya Besar.
Para koki saling bertatapan bingung setelah kepergian nyonya Hae Ri. Meski begitu, mereka tidak akan mempertanyakan perintah wanita tersebut dan hanya menurut.
......................
Sebelum makan malam tiba, saatnya tubuh Sae Ju kembali dihangatkan sesuai arahan dokter. Kepala pelayan hendak menyuruh para bawahannya untuk mengambil air hangat, tapi niatnya terhenti begitu nyonya Hae Ri datang.
‘’Tidak perlu menyuruh mereka. Air hangat itu sudah ada di sini,’’ kata Nyonya Hae Ri mengkode para pelayan di sampingnya.
__ADS_1
Para pelayan yang datang bersama nyonya Hae Ri tadi meletakkan baskon berukuran besar berisi air hangat di lantai hadapan Sae Ju.
‘’Dia sudah cukup bergerak, jadi tidak perlu membantunya. Biarkan dia sendiri yang melakukannya,’’ perintah Nyonya Hae Ri.
‘’Tapi Nyonya Besar, kalau hanya Nona Muda sendiri yang melakukannya, itu akan memakan banyak waktu,’’ kata Kepala Pelayan.
Tidak ingin situasi semakin buruk membuat Sae Ju menyela pembicaraan. ‘’Tidak apa-apa Ajumoeni. Aku bisa melakukannya.’’
Ia pun menuruni kasur dan merendam bagian tangannya terlebih dahulu.
Deg!
Mata nyonya Hae Ri memicing saat melihat perubahan wajah Sae Ju. Kepala pelayan yang melihatnya juga mengerutkan dahi.
Butiran air mata gadis itu mengalir jatuh membuat semua yang ada di dalam kamar memasang wajah bingung.
Nyonya Besar mem-beriku a-ir mendidih, bu-kan air hangat. Selain itu, ra-sanya sangat pe-rih karena air-nya terasa pedas. Apakah i-ni air ca-bai? Akh, kata Sae Ju dalam hati.
‘’Nona Muda baik-baik saja? Kenapa Anda gemetar sampai menangis?’’ cemas Kepala Pelayan.
Mata Sae Ju kembali berair, tapi ia tersenyum. ‘’A-Ah, tanganku menjadi keram. Mungkin karena airnya sudah meresap ke dalam kulitku.’’
Terukir senyuman di bibir nyonya Hae Ri tanpa ada yang menyadarinya.
__ADS_1