
Malamnya Seol Won pulang, dan pria itu terbelalak seperti biasa. Padahal waktunya tidak pernah menentu, tapi mengapa ia selalu saja mendapati Sae Ju mengobati dirinya yang memperlihatkan seluruh sisi punggungnya tanpa sehelai kain. Namun, beruntung karena gadis itu membelakanginya seperti biasa.
Dahinya berkerut karena baru sadar sebagian tubuh Sae Ju telah diperban. ‘’Bukankah seluruh tubuhmu dipenuhi luka melepuh?’’
Deg!
Sekali lagi Sae Ju juga tersentak gara-gara kedatangan pria itu. ‘’Haa, kenapa kau selalu saja muncul secara tiba-tiba? Membuat kaget saja.’’
Namun, ia tersadar kalau saat ini dirinya tidak mengenakan sehelai kain pun. Saat itu juga Sae Ju menjerit sambil menarik selimut untuk menutupi dirinya.
‘’Kenapa kau selalu saja berteriak untuk hal yang tidak penting?’’ risih Seol Won.
‘’I-Itu karena kau tidak memiliki rasa malu. Di sini ada gadis yang tidak mengenakan apa pun karena mengobati dirinya. Seharusnya kau mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar,’’ kata Sae Ju.
‘’Aku sudah melihat seluruh inci dari tubuhmu dan menidurimu. Selain itu aku adalah suamimu, jadi kenapa harus minta izin kepadamu dulu kalau mau masuk? Ini juga kamarku,’’ kata Seol Won.
Sae Ju memasang wajah masam mendengar ucapan Seol Won. Yang dikatakan pria itu memang benar. Justru dirinya yang harus tahu diri kalau rumah tersebut milik pria itu. ‘’Eish, dia sangat cerewet.’’
‘’Aku bisa mendengarmu,’’ kata Seol Won dengan wajah datar.
__ADS_1
‘’Arasseo(Aku mengerti)! Aku yang salah. Kau tidak perlu meminta izin untuk masuk dan bisa melihat setiap inci tubuhku, karena kau pemilik rumah ini dan juga suamiku,’’ kata Sae Ju yang tidak sadar.
Seol Won yang mendengarnya terbelalak. Entah kenapa wajahnya merona mendengar ucapan gadis tadi.
Sae Ju yang baru sadar dengan ucapannya langsung merona bukan main. Ia pun menarik selimut dengan kasar dan menyembunyikan dirinya. ‘’Akh! Rasanya sangat sakit. Seharusnya aku pelan-pelan.’’
‘’Heh, dasar,’’ senyum remeh Seol Won.
......................
Keesokan harinya, setelah sekretaris Roiy memberitahu Sae Ju tentang situasi di sekolah, membuat gadis itu mau tidak mau harus masuk.
......................
Sekolah
Sae Ju merasa sedikit tidak nyaman karena semua tatapan menuju ke arahnya. Kenapa tidak, setelah tidak masuk beberapa hari, ia muncul dengan hampir seluruh tubuh yang diperban.
‘’Omona! Kim Sae Ju!’’
__ADS_1
Dilihatnya Oh Yong berlari menghampirinya dengan nafas terengah-engah.
‘’Apa ini? Ada apa dengan tubuhmu? Kau tidak masuk beberapa hari, dan sekarang muncul dengan kondisi seperti ini. Apa yang terjadi? Kau juga tidak mengangkat panggilanku.’’
Sae Ju tersenyum dengan wajah bodohnya. ‘’Seperti biasa, kau melontarkan begitu banyak pertanyaan, tanpa memberiku kesempatan bicara.’’
‘’Yak! Aku ini sedang cemas. Teganya kau berkata seperti itu,’’ kata Oh Yong.
‘’Mian, dan terima kasih Yong-ah, hanya kau satu-satunya yang sangat peduli padaku,’’ senyum Sae Ju.
‘’Eish, tentu saja karena aku sahabatmu. Tapi kau saja yang tega selalu membuatku khawatir,’’ omel Oh Yong.
‘’Mian, mian. Kulitku hanya terkelupas, jadi akan lebih baik kalau semua orang melihat tubuhku dibaluti perban, daripada melihat kulit keringku terkelupas,’’ kata Sae Ju.
Oh Yong memasang wajah masam. ‘’Semenjak pindah ke apartemen yang kau bicarakan, kondisimu selalu berakhir buruk. Jangan-jangan apartemen yang kau tempati tidak bersih sehingga selalu terkena penyakit seperti ini.’’
Sae Ju hanya tersenyum kaku. Tidak ingin sahabatnya itu berpikiran yang tidak-tidak, membuatnya menarik Oh Yong menuju ke kelas. ‘’Oh iya, aku dengar ada menu spesial dari café sekitar sekolah. Ayo mampir ke sana saat pulang nanti.’’
‘’Jinjja? Kalau begitu ayo mampir setelah pulang sekolah,’’ kata Oh Yong.
__ADS_1