Mertuaku Ibu Suri

Mertuaku Ibu Suri
Bab 32 Kulit Lecet


__ADS_3

30 menit kemudian setelah Sae Ju merendam bagian tubuhnya yang membeku, kepala pelayan menjadi heboh melihat tubuh gadis itu.


‘’Ya Tuhan! Kenapa tubuh Nona Muda melepuh dan seperti terbakar begini?’’


Sae Ju hanya diam tanpa menjawab apa pun. Rasanya, setiap sel dari tubuhnya akan meledak karena rasa sakit yang timbul dari air tadi. Tapi, ia harus menahannya di depan semua orang.


Kepala pelayan yang melihat Sae Ju tidak berdaya di kasur, langsung menatap nyonya Hae Ri.


‘’Apa? Ingin menuduhku lagi atas kejadian ini?’’ tanya Nyonya Hae Ri dengan alis berkerut.


‘’Saya tidak menuduh Nyonya Besar, tapi sebelumnya kondisi Nona Muda baik-baik saja setelah merendam tubuhnya dalam air hangat. Akan tetapi, hari ini Nyonya Besar sendiri yang membawakan air hangat itu. Apakah Nyonya Besar menaruhkan sesuatu di dalamnya?’’ tanya Kepala Pelayan.


Sae Ju mengepalkan tangannya yang gemetar. ‘’Ajumoeni gwaenchana. Tidak ada apa pun dalam air hangat yang dibawa Nyonya Besar. Airnya masih sama seperti biasa.’’


Nyonya Hae Ri tersenyum remeh. ‘’Dengar apa yang dia katakan?’’


‘’Itu mungkin karena Nona Muda takut kepada Nyonya Besar, jadi dia tidak berani mengatakannya. Apakah harus menggunakan Tuan Muda dulu baru Nyonya Besar bisa mengaku?’’ tanya Kepala Pelayan.


‘’Jangan membawa-bawa nama putraku. Seol Won tidak ada hubungannya dengan semua ini,’’ jawab Nyonya Hae Ri dengan wajah kusut.

__ADS_1


‘’Apa yang tidak ada hubungannya denganku?’’


Deg!


Saat itu juga kedua wanita yang berdebat tadi menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Mata nyonya Hae Ri membulat melihat Seol Won sudah berdiri di sana.


Kenapa aku tidak menyadari kedatangan Seol Won? Apakah dia mendengar semua pembicaraanku dengan Kepala Pelayan? Gawat, kata Nyonya Hae Ri dalam hati.


‘’Eomma?’’ panggil Seol Won.


‘’Ne? Ah keuge(itu),’’ kata Nyonya Hae Ri.


Seol Won langsung terbelalak melihat kondisi Sae Ju. Ia pun menghampiri gadis itu dan melupakan pertanyaannya barusan kepada sang ibu.


‘’Kenapa tubuhnya seperti ini?’’ tanyanya meminta penjelasan.


Kepala pelayan hendak menjawab, tapi sekali lagi dihentikan oleh Sae Ju.


‘’Aniya gwaenchana. Tidak perlu memikirkan diriku. Kulitku memang seperti ini, tapi entah kenapa aku tidak merasakan rasa sakit,’’ senyum Sae Ju.

__ADS_1


Nyonya Hae Ri yang melihatnya memasang wajah kusut. Di saat bersamaan, salah satu pelayan datang menyampaikan makan malam yang sudah disiapkan.


‘’Kalau begitu, aku menunggu di ruang makan,’’ kata Nyonya Hae Ri berlalu.


Kepala pelayan beserta bawahannya juga membungkuk hormat sebelum pergi. Kini tersisa Seol Won dan Sae Ju di dalam kamar. Namun, keduanya hanya saling diam tanpa ada yang bicara.


Seol Won juga hanya berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi sambil ditatap Sae Ju.


Begitu pria tadi menutup pintu kamar mandi, sang gadis bersandar di kepala kasur, lalu menengadahkan kepalanya.


Sae Ju memejamkan mata sambil menarik nafas dalam-dalam. Butiran bening langsung mengalir dari sudut matanya yang terpejam. Tubuhnya bahkan masih gemetar karena merasa kesakitan.


Kenapa? Kenapa ibu mertua sangat kejam kepadaku? Satu-satunya kesalahan yang kuperbuat adalah dengan masuk ke dalam keluarga Go. Tapi itu semua bukan kemauanku. Sampai kapan aku akan disiksa seperti ini? Haa, ucapnya dalam hati.


......................


Kamar Mandi


Seol Won hanya membiarkan dirinya terkena air shower. Pikirannya tidak lepas dari Sae Ju, sejak beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Meski tersenyum, bibirnya gemetar. Ada apa dengan gadis itu? Dia seperti menyembunyikan sesuatu, ucapnya dalam hati.


__ADS_2