
Ruang Makan
Nyonya Hae Ri menyantap makanannya seperti biasa tanpa terganggu sama sekali. Kepala pelayan yang memantaunya sejak tadi masih berpikir kalau menghilangnya Sae Ju pasti ada hubungannya dengan dirinya.
‘’Nyonya Besar, saya ti—‘’
‘’Sejak tadi aku tidak melihatnya. Tidak menyambut kedatangan kedua tamu tadi dan menghadiri makan malam, nyalinya besar juga ya. Segera bawa Sae Ju ke hadapanku!’’ perintah Nyonya Hae Ri.
Ia kembali menatap wanita paruh baya yang memegang tongkat di sampingnya. ‘’Tadi kau ingin mengatakan apa Kepala Pelayan?’’
‘’Nyonya Besar tidak tahu Nona Muda menghilang?’’ tanya Kepala Pelayan.
Nyonya Hae Ri tersenyum. ‘’Apakah sempat membuat lelucon seperti ini? Apakah kau berniat menyelamatkan Sae Ju lagi?’’
Kepala pelayan hanya diam sambil menatap nyonya Hae Ri, berharap melihat tingkah mencurigakan dari wanita itu.
Raut wajahnya seperti biasa. Apakah Nyonya Besar sedang bersandiwara? Tidak mungkin Nona Muda tiba-tiba menghilang seperti ini, ucapnya dalam hati dalam hati.
‘’Kepala Pelayan?’’ panggil Nyonya Hae Ri.
‘’Nona Muda sempat bersama dengan Tuan Muda di pohon bonsai. Setelah itu, tidak ada yang melihat Nona Muda lagi sampai saat ini,’’ kata Kepala Pelayan.
__ADS_1
Pohon bonsai? Jadi memang benar Sae Ju yang memberitahu Seol Won mengenai kedatangan dua orang itu, sampai-sampai aku tidak sempat bicara dengan mereka, kata Nyonya Hae Ri dalam hati.
‘’Nyonya Besar … Katakan di mana Nona Muda saat ini?’’ tanya Kepala Pelayan.
‘’Kau baru saja menuduhku dengan alasan menghilangnya Sae Ju?’’ tanya Nyonya Hae Ri dengan wajah kusut.
‘’Maaf kalau saya lancang. Tapi tidak ada yang sangat membenci Nona Muda di rumah ini selain Nyonya Besar. Saya tahu Nyonya Besar pasti melakukan sesuatu lagi kepada Nona Muda. Jadi katakan di mana Nona Muda?’’ tanya Kepala Pelayan.
Nyonya Hae Ri bruxism sambil meletakkan garpu dan sendok makan. ‘’Aku memang membencinya. Tapi bukan berarti kau bisa menuduhku sesuka hati Kepala Pelayan. Aku tidak ingin tahu … Segera bawa Sae Ju ke hadapanku.’’
‘’Mereka tidak akan menemukan Nona Muda karena Nyonya Besar menyembunyikannya di suatu tempat.’’
‘’Kepala pelayan!’’ seru Nyonya Hae Ri.
‘’Itu karena aku memang tidak tahu di mana Kim Sae Ju,’’ jawab Nyonya Hae Ri.
Sekilas, kepala pelayan sedikit menoleh dan mengintip di balik jendela di belakangnya, sebelum kembali menatap nyonya Hae Ri. ‘’Kalau begitu, Tuan Muda yang akan menanyakannya kepada Nyonya Besar sendiri secara langsung.’’
Nyonya Hae Ri mengerutkan dahi. ‘’Apa maksudmu?’’
‘’Tuan Muda baru saja tiba di kediaman.’’
__ADS_1
Mata nyonya Hae Ri membulat besar setelah mendengar ucapan kepala pelayan. Ia pun bangkit dan menghampiri jendela lalu melihat ke bawah, dimana sekretaris Roiy membuka pintu mobil yang tidak lama kemudian menampakkan sosok Seol Won.
‘’Saya rasa Nyonya Besar tidak bisa membuat alasan lagi,’’ kata Kepala Pelayan.
Saat itu juga tangan nyonya Hae Ri mengepal bersamaan urat di lehernya menegang. Ia menoleh dan melihat kepala pelayan memasang wajah serius.
......................
Pintu Utama
Ceklek!
Begitu Seol Won masuk, para pelayan menyambut kedatangannya seperti biasa. Ia juga melihat sang ibu tersenyum kepadanya.
‘’Kau sudah pulang? Bagaimana jalan-jalannya?’’ tanya Nyonya Hae Ri.
‘’Sangat menguras tenaga,’’ jawab Seol Won.
‘’Seperti biasa, kau lebih menyukai ketenangan. Apa kau sudah makan malam?’’ tanya Nyonya Hae Ri.
‘’Belum. Aku langsung pulang sebelum mereka menyajikan makan malam,’’ jawab Seol Won.
__ADS_1
‘’Kalau begitu aku akan menyuruh ko—‘’
‘’Tidak perlu. Aku langsung ingin ke kamar,’’ kata Seol Won memotong ucapan ibunya.