
Perjalanan…
Sejak tadi Sae Ju hanya diam dan menunduk terus. Saat ini tubuhnya begitu gemetar. Ia tidak menyangka nyonya Hae Ri akan datang menjemputnya secara langsung.
‘’Kim Sae Ju?’’ panggil Nyonya Hae Ri.
‘’I-Iya Nyonya Besar?’’ tanya Sae Ju tanpa merubah posisinya.
‘’Aku melihatmu menuruni mobil putih dari arah berlawanan. Kau habis dari mana?’’
Entah kenapa, Sae Ju merasa ingin menangis. Ia ingin menjawab pertanyaan itu, tapi bibirnya sangat sulit digerakkan. Seketika ketakutan langsung menyelimuti dirinya.
Nyonya Hae Ri menoleh dan melihat gadis di sampingnya terdiam seribu bahasa. Matanya memicing dengan raut wajah kusut.
Habislah aku, kata Sae Ju dalam hati sambil memegang sebelah lengannya.
......................
Kediaman Go
Begitu mereka tiba, nyonya Hae Ri langsung menyeret Sae Ju masuk. Pelayan yang hendak memberi salam terdiam.
‘’Oh tidak, kali ini apa lagi?’’
‘’Nyonya Besar terlihat begitu marah.’’
__ADS_1
‘’Selama satu minggu ini, aku lega karena Nona Muda bisa beristirahat dengan tenang. Tapi sepertinya Nyonya Besar akan menyiksanya lagi.’’
‘’Bagaimana ini?’’
......................
Kamar Nyonya Hae Ri
Bugh!
Sae Ju membentur lantai begitu keras saat nyonya Hae Ri mendorongnya. Ia pun mendongakkan kepala dan melihat wanita itu terlihat sangat marah. ‘’A-Aku bisa jelaskan. Tolong ampuni aku.’’
Nyonya Hae Ri berjalan menghampiri laci lalu membukanya. Ia pun mengambil sebuah cambuk dan kembali berjalan ke arah Sae Ju. ‘’Nyalimu besar juga mengabaikan pertanyaanku di mobil.’’
Bunyi cambuk.
Sae Ju melotot dan langsung histeris saat tubuhnya terkena cambuk. ‘’Sakit hiks….’’
‘’Kim Sae Ju, bukankah aku sudah bilang jangan berkeliaran selain di sekolah?!’’ seru Nyonya Hae Ri mencambuknya.
‘’Hiks! Hiks! Aku bersalah Nyonya Besar hiks,’’ tangis Sae Ju.
Nyonya Hae Ri melampiaskan satu minggu ini tidak menyiksa gadis itu dengan mencambuknya bertubi-tubi. Perban yang menyelimuti tubuh Sae Ju bahkan robek saking kerasnya ia memberi cambukan.
Tangisan Sae Ju menjadi-jadi karena rasa sakit yang diterimanya. ‘’Tidak! Hiks! Kumohon hentikan! Hiks! Hiks! Sangat sakit Nyonya Besar! Hiks!’’
__ADS_1
Ceklek!
Saat itu juga pintu terbuka dan memperlihatkan sosok kepala pelayan. ‘’Nyonya Besar, apa yang Anda lakukan?! Hentikan! Nona Muda kesakitan.’’
‘’Satu minggu ini aku hanya diam, tapi kelakuannya menjadi-jadi. Dia pantas diberi hukuman!’’ marah Nyonya Hae Ri tidak berhenti mencambuk.
Kepala pelayan berusaha menghentikannya, tapi wanita dewasa itu tidak mendengar. ‘’Jika Nyonya Besar tidak berhenti, saya akan memberitahu Tuan Muda saat ini juga!’’
Bunyi cambuk.
Tangan nyonya Hae Ri langsung terhenti. Ia menatap kepala pelayan dengan wajah tertahan. ‘’Ajumoeni….’’
Sae Ju terkapar di lantai tanpa bergerak sedikitpun. Tubuhnya terasa remuk dan tidak bisa bangun lagi. Hanya butiran bening yang mengalir deras dari sudut matanya.
Kepala pelayan menyuruh bawahannya untuk membawa Sae Ju pergi, sambil menatap nyonya Hae Ri. Tidak lama kemudian, ia pun berbalik dan berjalan keluar.
Nyonya Hae Ri yang melihatnya langsung membanting tali cambuk ke lantai. Ia menghela nafas kasar sambil menyangga kedua tangannya di pinggang. Ia benar-benar meluapkan semua kekesalannya selama satu minggu ini kepada gadis itu.
......................
Kamar Seol Won
Para pelayan yang membantu Sae Ju ke kamar, hanya meringis dan merasa iba. Padahal kondisi tubuh majikannya itu belum sembuh total, dan sekarang malah bertambah buruk. Dilihatnya seluruh tubuh gadis itu terluka dan berdarah karena cambukan tadi.
‘’Nona Muda,’’ sedih Kepala Pelayan.
__ADS_1