
Zachking Group
Seol Won mengerutkan dahi melihat sekretaris Roiy tidak henti-hentinya tersenyum, sampai-sampai bersenandung kecil. ‘’Kau sepertinya dalam kondisi hati yang baik.’’
‘’Ah, ne Hoejang-nim,’’ jawab Sekretaris Roiy.
‘’Hal baik terjadi?’’ tanya Seol Won.
‘’Sejak kapan Hoejang-nim ikut campur dengan urusan pribadi seseorang?’’ tanya Sekretaris Roiy.
Seol Won langsung memasang wajah bodohnya. ‘’Siapa yang ikut campur? Aku hanya bertanya.’’
Sekretaris Roiy memicingkan mata. ‘’Hoejang-nim pasti sangat penasaran, dan akan menyewa pembunuh bayaran untuk mengetahui rahasiaku. Andwe(Tidak)! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bahkan sampai titik darah penghabisan, aku akan bertahan!’’
‘’Haa, lupakan,’’ kata Seol Won memutar bola matanya malas dan kembali membuka berkas.
......................
Kediaman Go
Sae Ju menahan suara tangisannya sambil menggigit handuk. Bisa dilihat saking sakitnya, butiran air matanya mengalir deras. Lebih dari setengah jarum itu sudah tertusuk di tubuhnya
__ADS_1
Nyonya Hae Ri yang melihat gadis itu tersiksa hanya memasang wajah datar, menunggu Sae Ju menyelesaikan perintahnya. Ia merasa jijik melihat luka melepuh yang ditusuk jarum mengeluarkan nanah. ‘’Sama seperti kotoran itu mengalir keluar dari tubuhmu, seperti itu juga dirimu dimataku Kim Sae Ju. Kotoran yang telah menodai keluarga Go.’’
Hiks, kenapa Ibu mengatakan hal seperti itu kepadaku? Aku hiks, bukan kotoran, tangis Sae Ju dalam hati.
Ia memejamkan mata begitu kuat sehingga memperlihatkan butiran bening yang mengalir karena menahan jarum yang ia tusuk ke tubuhnya.
‘’Aku tidak tahan melihatnya. Membuat nafsu makan hilang saja! Pastikan kau menyelesaikannya, dan jangan lupa bersihkan kamar Seol Won! Ruangan ini sudah cukup menjadi kotor karena dirimu,’’ kata Nyonya Hae Ri berlalu pergi.
Setelah melihat kepergian wanita dewasa tadi, handuk yang digigit Sae Ju terjatuh. Ia pun menangis menjadi-jadi di dalam kamar.
......................
Beberapa saat kemudian, kepala pelayan menuju ke kamar Seol Won. Begitu membuka pintu, ia dan pelayan lainnya terbelalak melihat Sae Ju mengepel lantai. Bukan hanya itu saja, saprai kasur dan hordeng jendela telah diganti.
‘’Apa yang Nona Muda lakukan? Kenapa melakukan semua ini? Nona Muda seharusnya istirahat saja. Ah! Nona Muda, semua luka melepuh Anda telah meletus,’’ kata Kepala Pelayan.
‘’Ahaha benar Ajumoeni. Nanahnya keluar tanpa sadar saat aku masih tidur dan mengenai saprai kasur, jadi aku menggantinya,’’ kata Sae Ju.
‘’Tapi Nona Muda seharusnya menyuruh kami,’’ kata Kepala Pelayan.
Sae Ju tersenyum. ‘’Gwaenchana Ajumoeni. Beberapa hari tidak bergerak membuat tubuhku menjadi kaku. Aku hanya ingin meregangkan ototku.’’
__ADS_1
Kepala pelayan menghela nafas dengan wajah cemas. ‘’Kenapa Nona Muda begitu keras kepala?’’
‘’Hihi, mian,’’ kekeh Sae Ju yang sebenarnya menahan rasa sakit tubuhnya.
‘’Biar mereka yang melanjutkannya. Sekarang waktunya Nona Muda makan siang,’’ kata Kepala Pelayan.
Sae Ju mengangguk dan duduk di sofa sambil kepala pelayan berdiri di sampingnya. ‘’Kenapa Ajumoeni berdiri saja? Ayo duduk juga.’’
‘’Ini sudah tugas saya Nona Muda,’’ kata Kepala Pelayan.
‘’Tapi aku tidak suka Ajumoeni berdiri sedangkan diriku enak-enak duduk makan. Ayolah, aku mohon,’’ kata Sae Ju.
Kepala pelayan tetap menolak secara halus dan menjelaskannya kepada Sae Ju.
‘’Ya sudah, aku tidak akan makan kalau Ajumoeni juga tidak mau duduk. Silahkan bawa kembali makanan ini,’’ kata Sae Ju.
Di saat bersamaan perutnya berbunyi membuat kepala pelayan terbelalak hingga akhirnya tersenyum.
‘’Apakah Nona Muda mendengar sesuatu?’’ tanya Kepala Pelayan menahan tawa.
Sae Ju terkekeh dengan wajah masam karena merasa malu.
__ADS_1