
Sae Ju menangis tersedu-sedu menyusuri jalanan sepi. Ia sudah berjalan sejauh 3 km sejak tadi. Tubuhnya gemetar hebat karena harus berkeliaran di tempat terbuka seorang diri.
Tiba-tiba matanya menangkap sebuah rumah perikanan, membuatnya menuju ke sana.
Begitu tiba, Sae Ju menatap kolam-kolam yang di dalamnya pasti ada banyak ikan. Meski lampu bangunan di dalam menyala, tapi ia tidak melihat satu orang pun di sekitar. Ia juga tidak bisa membuka pagar sembarangan dan masuk tanpa izin. ‘’Jeogiyo(Permisi)!’’
Tidak peduli berapa kali ia teriak, tetap saja tidak ada yang menjawab. Ia bahkan berjinjit sampai akhirnya hampir terjatuh, dan tubuhnya mengenai pagar.
‘’Tidak terkunci?’’
Sae Ju menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang melihatnya. Ragu-ragu ia pun membuka pagar dan berjalan masuk dengan langkah hati-hati. Ia menghampiri pintu bangunan dan mengetuk beberapa kali. Namun, seperti biasa tidak ada yang menjawab.
Tidak punya pilihan lain, Sae Ju pun membungkuk 90 derajat dan meminta izin kepada pemilik rumah perikanan, kalau ia akan mengambil ikan di kolam mereka.
......................
Setelah mendapatkan satu ikan, Sae Ju pun berjalan kembali ke rumah. Akan tetapi, tiba-tiba seekor anjing menggonggong sambil berlari ke arahnya. Melihat hal itu matanya membulat besar sehingga ia berlari sambil membawa ikan tadi.
__ADS_1
‘’Dari mana datangnya anjing itu?!’’ tanya Sae Ju panik di sela-sela larinya.
Bugh!
Sae Ju tersandung dan meringis melihat lengan, sudut siku dan lututnya berdarah karena terseret ke aspal. Ia kembali menatap anjing yang semakin mendekat ke arahnya. Ketakutannya berlipat ganda saat anjing itu langsung menerjang ujung celana piyamanya.
‘’Pergi! Hei kau! lepaskan!’’ seru Sae Ju.
Ia pun mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk melindungi diri, dan matanya langsung menangkap sebuah batu di pinggir jalan.
Layaknya aksi tarik menarik, Sae Ju berusaha keras mencapai batu tersebut. Dalam posisi tengkurap, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil batu tersebut. Namun, belum sempat ia menggapainya, anjing tadi melompat ke atas punggungnya dan menggigit bahu kanannya.
Dengan sekuat tenaga, ia pun mengambil batu tadi dan langsung memukul anjing itu sehingga hewan tadi merintih lalu pergi.
Melihat anjing tadi sudah pergi, Sae Ju mendaratkan keningnya di atas lengan dengan maksud menyembunyikan wajah. Dengan nafas terengah-engah ia menangis. Hatinya sangat sakit karena semenjak menjadi menantu keluarga Go, ia selalu mendapatkan penderitaan dari nyonya Hae Ri.
Sae Ju benar-benar tidak mengerti mengapa ibu mertuanya sangat membencinya. Ia pun menangis keras di tengah gelapnya jalanan sepi di tempat tersebut.
__ADS_1
.....................
Gerbang Kediaman Go
Petugas yang meregangkan tubuh saat terbangun, lamgsung mendengar suara ketukan membuatnya menghampiri gerbang dan membukanya. Saat itu juga matanya membulat besar melihat Sae Ju datang sambil membawa seekor ikan. ‘’Hhah! Apa yang terjadi dengan Nona Muda? Kenapa tubuh Nona Muda dipenuhi luka seperti ini? Dan banyak darah menetes dari tangan Nona.’’
Ia pun langsung bersujud dan meminta maaf serta menangis. Ia benar-benar tidak bisa membantah perintah nyonya Hae Ri. ‘’Gara-gara saya, Nona Muda sampai seperti ini. Jeongmal(Sungguh) … Choesonghamida Agassi(Maaf Nona Muda)!’’
Sae Ju tersenyum dengan wajah lemas. ‘’Amuildo anieyo(Tidak apa-apa). Kau hanya melaksanakan tugas, jadi tidak perlu merasa bersalah. Aku masuk dulu.’’
Begitu tiba di teras utama, kepala pelayan langsung berdiri saat melihat Sae Ju datang. Dengan rasa cemas yang sama dengan petugas tadi, wanita paruh baya itu menatap sang gadis dalam kondisi kacau itu.
‘’Aku dengar kenapa ada ribut-ribut ternyata itu kau,’’ kata Nyonya Hae Ri.
Ia menatap penampilan Sae Ju yang sangat berantakan. Lengan, sudut siku dan lutut yang berdarah, piyama compang camping serta bagian bahu kanan hingga lengan yang basah karena darah.
‘’Nyonya Besar butuh apa lagi? Lihat kondisi Nona Muda sekarang! Kedua tangannya saja masih belum sembuh dan masih dibalut perban. Dan Anda tidak henti-hentinya menyiksa Nona Muda. Apakah Nyonya Besar tidak memiliki hati nurani?!’’ tanya Kepala Pelayan.
__ADS_1
Nyonya Hae Ri menarik nafas disertai urat yang menegang di lehernya. ‘’Aku tidak butuh ikan itu. Kau bisa memakannya.’’
Ia pun berjalan masuk dan menuju ke ruang tamu seperti biasa, lalu duduk dan menyalakan TV. Sedangkan kepala pelayan menuntun Sae Ju untuk masuk agar luka-lukanya diobati terlebih dahulu.