
Revandra mendekati gadis kecil itu.
"Kenapa kok nangis?" tanya Revandra.
Anak itu mendongak ke atas. "Apah belum datang om, Fisha tinggal sendiri, Fisha takut," jawabnya.
"Apah mu Altar kan?" tanya Revandra.
"Dimana om tau?"
"Om temannya apah kamu," jawab Revandra. "Bentar ya om telfonin apah kamu."
"Makasih om," ujar Fisha.
Revandra pun merengok saku celananya dan mulai menelfon ayah dari anak tersebut.
Cukup tiga tak di jawab akhirnya yang keempat pun di angkat.
"Halo," sapa Revandra.
"Pak Revan, apa ada keperluan?" tanya orang itu dari seberang sana.
Revandra memberikan ponselnya pada Fisha.
"Apah, Apah di mana kok belum jemput Fisha? Fisha nungguin Apah udah lama tau! Tinggal Fisha sendiri aja soalnya El udah di jemput sama daddy dan mommynya," omel gadis itu pada ayahnya.
"Maafin Apah nak, apah sibuk jadi lupa untuk jemput Fisha, coba berikan telfon ini ke om tadi biar apah suruh dia antar kamu."
Fisha pun memberikan telfon itu pada Revandra.
"Maaf pak Revandra, apa boleh saya titipkan dulu anak saya kepada bapak? Saya ada meeting penting," pinta Altar.
"Tak masalah pak, kebetulan anak pak Altar dan anak saya temanan," ucap Revandra.
sambungan telfon pun berakhir.
"Pulang sama om dulu ya?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa om?"
Revandra menggeleng dan menggendong Fisha ke dalam mobil.
"Hore Fisha pulang sama El," seru Xaviel.
Fisha hanya tersenyum dan duduk dengan enteng beda dengan Xaviel yang terus saja berbicara.
"El berhentilah bicara, lihat teman kamu kayanya tertekan," sahut Revandra.
"Fisha tertekan?" tanya El menoleh ke arah Fisha.
Fisha mengangguk dan beberapa saat langsung menggeleng.
Revandra maupun Gracel terkekeh.
"Mas, dia anak rekan kerjamu?" tanya Gracel.
Revandra mengangguk. "Dia anaknya pak Altar, pemegang saham terbesar di perusahaan mas," jawab Revandra.
Gracel manggut-manggut mengerti. "Gimana ajak dulu mas dia ke rumah, gak apa-apa kan?"
"Yaudah mas minta izinlah cepat, lihat El senang banget punya teman. Mana dia yang paling cerewet kebalik, Fisha aja kalem-kalem."
"Fisha, mau main dulu gak di lumah El? Sampai Fisha di jemput sama Apahnya Fisha," ajak Xaviel.
"Kalau Umi Fisha khawatir Fisha gak pulang gimana?" tanya Fisha.
"Nanti om akan katakan ke umi Fisha, kalau Fisha main dulu di rumah om," sahut Revandra.
"Yaudah Fisha mau om," jawab Fisha.
"Yey, Fisha main ke lumah." Xaviel bersorak kegirangan.
Sesampainya di mansion Xaviel turun lebih dulu membuka'kan pintu mobil buat Fisha.
Gracel menyenggol lengan Revandra. "Lihat anak mu mas."
__ADS_1
"Lelaki idaman seperti daddynya," ujar Revandra merasa bangga.
"Yalah tu." Gracel mencibikkan bibirnya lalu mengampiri mereka berdua mengajaknya masuk.
"Rumah El besar banget, ngalahin rumah Fisha," puji Fisha masuk ke dalam.
"Ayo Fisha masuk," ajak Xaviel ingin memegang tangan gadis kecil itu namun cepat-cepat dia menghindar.
"Maaf Fisha, El lupa."
Fisha hanya manggut-manggut. "Tante mau kemana?" tanyanya mengekor di belakang Gracel.
"Tante mau masakin kalian makan dulu," jawab Gracel.
"Fisha boleh bantu? Fisha selalu bantu Umi kalau dia masak, aku suka," seru anak itu.
Gracel tersenyum lalu meraih tangan kecil itu. "Ok Fisha boleh bantu tante masak."
"Hore."
"Tante izin rapiin kerudung Fisha dulu ya? Biar Fisha gak repot."
Fisha mengangguk. Gracel pun mengikat dengan pendek kerudung anak itu agar tidak menghalanginya nanti.
"Ok udah."
Gracel memberi bangku kecil untuk Fisha injaki agar sampai.
"Nama Umi Fisha siapa?" tanya Gracel.
"Nama Umi Fisha, Aisha tante," jawab Fisha sambil memberi apa yang di minta Gracel.
Gracel manggut-manggut mengerti.
"Fisha kenapa di sini? Ayo main sama El," panggil Xaviel tiba-tiba datang.
Fisha berbalik lalu menggeleng. "Fisha'kan cewek jadi Fisha mau masak aja, maina El robot semua, Fisha gak mau!"
__ADS_1
"Kan lobot mainan juga Fisha, jadi gak apa-apa," balas Xaviel.