Mommy Untuk Anak Duda

Mommy Untuk Anak Duda
Part 47 ~Mommy Untuk Anak Duda~


__ADS_3

"Tinggal sehari lagi, kenapa tidak ada pergerakan hubungan mereka akan hancur!"


"Maaf tante, Sofia juga sudah sering meneror gadis itu namun tidak ada pergerakan sama sekali," ucap Sofia menunduk.


Rena mengacak rambutnya furstasi. "Ok, lakukan berbagai cara, gimana pun caranya. Besok pernikahan mereka harus batal!" pinta Rena. "Pura-pura hamil anaknya Revandra kalau perlu," lanjut Rena.


"Tapi tan, gimana caranya?"


"Iya berfikirlah gimana caranya. Kalau Revandra batal nikah yang untung kau juga,"


Kalau di pikir-pikir ada benarnya, Sofia juga yang akan untung di saat dia memisahkan Revandra dan Gracel, dia akan menggoda Revandra kembali.


"Baik tante, Sofia akan berusaha semaksimal mungkin." Setelah mengucapkan itu dia keluar dari ruangan Rena.


Rena mengusap rambut panjangnya kebelakang karena merasa furstasi.


"Gimana pun caranya, pernikahan Revan harus batal," gumamnya.


"Nyonya, ini surat undangan yang di kirimkan oleh Nyonya Rani untuk mu," ucap boygrup tiba-tiba, sambil menyodorkan sebuah undangan.


Rena mengambil undangan tersebut. Di sana terdapat foto Revandra dan Gracel yang begitu bahagia, di bibir mereka ada senyuman yang mengembang.


"Sialan," pekik Rena meremas undangan tersebut. "Tunggu Gracel, sebentar lagi senyuman kau itu akan pudar. Dia pikir gampangnya mendapatkan anakku?"


Rena tertawa piluh lalu melempar undangan itu.


"Gadis sundal," teriaknya.


*****************


"Mas pergi dulu ya," pamit Revandra mencium pipi Gracel singkat.


Gracel mengangguk.

__ADS_1


"Mommy cium El juga," pinta Xavel menggoyangkan tangan Gracel.


Gracel menoleh ke bawah lalu terkekeh. Dia berjongkok dan menyium seluruh inci wajah anaknya. "Belajar yang benar, ya!"


Xaviel mengangguk lalu membalas menyium pipi Gracel.


"Ayo," ajak Revandra memegang tangan Xaviel. "Kamu gak ke rumah sakit?"


Gracel menggeleng. "Belum ada informasi mas," ujar Gracel piluh, apa dirinya akan gagal?


"Sabar ya sayang, masih ada kesempatan. Jangan menyerah,"imbuh Revandra.


Gracel mengangguk. "Iya mas," jawabnya.


"Daddy cepat, El bisa telat tau!" sela anak itu.


"Babay dulu sama mommy, El," pinta Revandra.


"Babay mommy, sayang." Xaviel melambaikan tangannya.


Anak bapak itu pun pergi dari kediaman Mahaswara.


"Daddy, nanti pas daddy dan mommy ulang tahun. Fisha sama umi dan apahnya di undangkan?"


Revandra mengangguk. "Pasti dong," jawab Revandra.


"Yey," seru Xaviel bersorak gembira.


Sesampainya mengantar Xaviel dia langsung melajukan mobilnya ke kantor.


"Udah jam berapa nih," omel Vero di saat bosnya keluar dari mobil. "Di suruh datang pukul 8.23.malah datang 10.56."


"Gak usah banyak omong lo," kelit Revandra memperbaiki jasnya.

__ADS_1


"Pak, nanti ngambil liburnya sampai kapan?" tanya Vero sambil membawa berkas-berkas. Vero mensejejerkan langkahnya dengan atasannya.


"Satu bulan," jawab Revandra membuat Vero membulat.


"Pak saya tau, ini perusahan pak Revan, tapi jangan ngelunjak juga dong ngambil cutinya," protes Vero.


"Gaji lo turun, tiga persen," sahut Revandra, kembali membuat Vero membulat.


"Gak bisa gitu dong," protesnya Vero kembali.


"Lo cerewet banget," gerutu Revandra memasuki ruang meeting.


"Pagi, pak," sapa mereka yang ada di dalam ruangan, langsung berdiri saat Revandra memasuki ruangan.


Revandra berdehem dan menyuruh mereka kembali duduk. "Saya minta maaf, kalau sudah membuat menunggu," ucap Revandra seraya duduk di kursi.


"Tak masalah pak," sahut mereka.


Vero mulai memberikan dokumen yang di butuhkan Revandra.


"Apa laporan semalam sudah usai?" tanya Revandra pada Vero.


"Sudah, pak." Vero memberikan laporan itu pada Revandra.


Revandra mengeceknya lalu mengangguk dan mempersilahkan yang lain menjelaskan.


"Begini pak, pengasilan perusaha naik dratis dan saya ingin memasukan saran. Gimana proyek yang kita buat di jepang di perbaiki fakualitasnya? Semakin banyak pesat maka semakin banyak hasilnya pak, atau pak Revan ingin menjual separuh saham kita?"


"Tidak! Saya ingin membangun rumah sakit di kota ini, saya sudah memikirnya dengan matang. Kalian tidak masalah dengan apa yang ku ambil?"


Mereka diam sesaat lalu di antara mereka bersahut setuju.


"Saya setuju pak."

__ADS_1


"Saya juga pak," sahut yang lain secara bersamaan.


__ADS_2