Mommy Untuk Anak Duda

Mommy Untuk Anak Duda
Part 58 ~Mommy Untuk Anak Duda~


__ADS_3

"Minta dia datang ke sini untuk mendonorkan darah," ucap papi Kenzo.


"Tidak pih, dia memang pasti akan mendonorkan darah. Namun ada syaratnya," jawab Revandra yakin, dia sangat tau watak ibu kandungnya itu.


"Tapi tak ada pilihan lain Van, lihat istrimu semakin kritis. Emang kamu sudah mendapatkan donor lain?"


Revandra menggeleng.


"Pergilah, Nak. Beri tau papi kalau syarat yang dia minta di luar kendali mu," ujar papi Kenzo.


Revandra menghela nafas lalu melangkah pergi. Sekarang dia hanya memikirkan tentang keselamatan istrinya.


Sesampainya dia di kediaman sang ibu. Revandra langsung turun dan masuk keruangan Rena tanpa mengetuk pintu sedikit pun.


"Donorkan darah buat istriku!" tegas Revandra membuat wanita paruh baya itu berbalik badan.


"Emang mama sebaik itu? Tak akan pernah," tolak Rena.


"Sekali ini aja, Mah." Revandra memohon dan memegang kedua kaki sang ibu.


Baru kali ini Rena mendengar kata mama keluar dari mulut putra tunggalnya. Rena berbalik ke samping menahan sedikit air matanya yang hampir tumpa. Begini kah rasanya di panggil mama? Ini yang dia mau dari anaknya, hanya panggilan mama.


"Mah," panggil Revandra.


"Ok mama akan mendonorkan darah, tapi syarat lepaskan Sofia dan nikahi dia," ucap Rena.


Revandra langsung berdiri mendengar syarat yang di berikan ibunya itu. "Kau gila?"

__ADS_1


"Menurut mu?"


"Sialan," umpat Revandra.


"Apa kamu tau? Kalau mama yang membuat istrimu seperti ini. Dan yang membuat kamu di jebak di hotel, itu perbuatan mama." Rena mengaku di depan sang anak.


"Apa!" teriak Revandra. Dia sudah naik pitam, urat-uratnya mengeras mendengar pengakuan Rena.


"Iya Mama yang melakukannya, tapi pilihan cuma ada di kamu sayang. Memasukan mama ke penjara, atau mama mendonorkan darah tapi syarat menikahi Sofia!"


"Gilak." Revandra tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang ibu.


"Gimana Revan?"


Revandra nampak diam, tiba-tiba ponselnya berbunyi membuatnya langsung mengangkat.


Revandra menatap ke arah Rena yang tersenyum devil.


"Saya akan segera membawa seseorang yang bisa mendonorkan darah, pih," jawab Revandra.


"Ok! Revan setuju," ucap Revandra pada akhirnya. Sekarang dia hanya memikirkan tentang keselamatan istrinya, urusan tentang syarat yang di berikan dia akan menanggung semuanya.


Rena pun ikut bersama putranya ke rumah sakit untuk mendonorkan darah.


Revandra menarik dengan kuat pergelangan tangan ibunya agar tidak lelet masuk kedalam. Sesampainya Revandra cepat-cepat menyuruh ibunya segera mendonorkan darah.


Revandra langsung ambruk ke lantai, sekarang pikirannya benar-benar kacau. Dia memukul kepalanya furstasi.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Rena keluar dari ruangan sambil memegang tangannya.


"Saya tunggu, tepatkan persyaratan kita," ucap Rena pergi dari sana.


Papi Kenzo mendekati putranya dan memeluknya. "Apa yang mamamu minta, Rev?"


"Menikahi wanita pilihannya, wanita yang sudah di pakai beberapa lelaki di luar sana," jawab Revandra membuat papi Kenzo terkejut.


"Apa? Jadi kau terima?"


Revandra mengangguk. "Tidak ada pilihan lain, pih, tapi papi tenanglah itu semua tak akan terjadi. Dia kira aku akan segampang itu? Aku anaknya tidak beda jauh sifat darinya, kalau dia bisa berbuat kejahatan kenapa aku tak bisa?" Revandra tersenyum sinis sehingga membuat Kenzo bernafas lega.


"Mami mu telfon dari tadi, tapi papi tidak mengangkatnya, gak tau harus menjawab apa kepadanya," ucap Papi Kenzo.


Revandra beranjak bangun dan membuka ponselnya, dia akan memberi tau maminya kalau Gracel segera kembali ditangani.


"Gimana Revan? Gimana keadaan menantu mami? Dia baik-baik sajakan?" tanya mami Rani berturut-turut di saat telfon tersambung.


"Alhamdulillah. Dokter kembali menanganinya, mami berdo'a saja di rumah," jawab Revandra membuat wanita paruh baya itu bernafas lega. "Xaviel tidak rewel, mih?"


"Dia baru saja kembali menangis, tapi sudah kembali terlelap."


Sedikit lama berbincang akhirnya mereka mengakhirinya saat ruangan terbuka.


Revandra kembali menaroh ponselnya dan mendekat. "Gimana dokter?"


"Alhamdulillah berjalan lancar pak, pasien akan segera membaik. Dia akan di pindakan di ruang VIP, barulah kalian bisa menemuinya," jawab dokter sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2