
Revandra menutup pintu ruang rawat lalu mendekati brankar di mana istrinya masih belum sadar.
"Sayang," bisik Revandra duduk di dekat brankar sambil mencium punggung tangan yang lemas itu. "Sakit ya? Maafin mas, gara-gara mama mas kamu kaya gini, kamu tenang saja. Walaupun dia mama aku, aku akan memberimu keadilan, ok?"
"Cepatlah sadar, mas kangen," ucap Revandra meneteskan air mata. "Mas mau menyelesaikan masalah ini, tapi mas tunggu kamu bangun dulu." Revandra membelai rambut Gracel yang ke tutup perban.
Tiba-tiba tangan yang di genggam Revandra bergerak membuat lelaki itu tersenyum.
"Mas Revan." Itu yang pertama kali dia panggil, nama suaminya.
"Mas di sini sayang," sahut Revandra.
Gracel menoleh dan memegang kedua pipi Revandra. "Mas sakit," aduh Gracel.
"Maafin mas, kalau bisa mas yang akan menggantikanmu." Revandra memegang tangan istrinya yang berada di pipinya sekarang.
"Aku minta maaf kalau buat mas khawatir, aku baik-baik aja," ucapnya.
Gracel ingin membangunkan badannya namun di cegah oleh Revandra.
"Jangan bangun, kamu baru saja selesai operasi," cegah Revandra.
"Aku mau sandar," ujar Gracel.
Revandra pun menaikan sedikit atasan brankar agar istrinya bisa bersandar.
"Mau minum?" tanya Revandra menawar.
Gracel mengangguk. Revandra pun membantu istrinya minum air putih.
"istirahatlah, mas mau izin keluar sebentar boleh? Mami akan datang untuk menjagamu."
__ADS_1
"Mas mau kemana?" tanya Gracel merasa tak rela suaminya pergi.
"Mas mau mengasih pelajaran sama orang yang buat kamu seperti ini," jawab Revandra.
"Siapa mas?" tanya Gracel.
Revandra sedikit terdiam. "Nanti mas kasih tau mami ada di depan, dia akan masuk." Setelah mengatakan itu, Revandra keluar dari kamar rawat sang istri.
"Masuklah mih, Revan titip istri Revan ke mami ya," ucap Revandra.
Mami Rani membuka pintu ruangan dan tersenyum mendekati brankar sang menantu.
"Mami," panggil Gracel.
***************
Rena terkejut karena beberapa kelompok polisi mendatangi kediamannya, ingin menangkapnya.
"Anda di tangkap, karena berusaha membunuh seseorang dan mencorek nama baik," ucap ketua polisi.
"Apa maksudnya? Saya tidak melakukan itu," ujar Rena mulai panik.
"Anda jelaskan sebentar di kantor."
Sesampainya di kantor Rena belum ingin mengaku. "Pak, anda tidak mempunyai bukti untuk menangkap saya! Saya tidak melakukan apapun," dusta Rena.
"Kita tunggu pak Revandra orang yang melaporkan anda," ucap polisi tersebut.
"Revandra? Apa yang anak itu lakukan? Saya sudah memberi apa yang dia mau!" gumamnya.
Beberapa saat kemudian Revandra datang membuat Rena berbalik dan berdiri.
__ADS_1
"Apa yang kau perbuat Revan? Kau tega memejarakan mama?"
"Saya tega karena itu salah anda sendiri Nyonya Rena," tegas Revandra.
"Apa? Kau tak punya sedikit pun bukti!"
Revandra menaikan satu alisnya. "Masa?"
Rena menarik tangan anaknya menjauh. "Bukannya kita sudah sepakat?"
"Sepakat apa?"
"Mama sudah mendonorkan darah pada istri mu itu dan syarat sudah kau terima, kau akan menikah dengan Sofia dan tidak memejarakan mama!"
"Terus kalau saya tidak ingin menikahi wanita pelihatmu dan tidak memejarakanmu, darahmu bisa kembali di tubuhmu? Tidak kan?"
Revandra menarik tangan mamanya mendekat ke polisi. Dia memperlihatkan rekaman yang ada didalam ponselnya pada polisi, di mana mamanya mengaku kalau dia dalang istrinya tertembak serta yang menjebaknya di hotel. Dia mendapatkan tadi pas berbincang dengan mamanya.
Tanpa sepengatahuan Rena ternyata Revandra merekam obrolan mereka berdua.
Sebenarnya Revandra sudah tau kalau mamanya yang melakukan ini semua di beri tau Delon. Kebetulan dia kerumah sang mama untuk meminta mendonorkan darah untuk istrinya, dia juga sekalian mencari bukti kuat untuk memasukan mamanya itu kepenjara.
Soal syarat yang dia terima, itu hanya akal-akalan agar mamanya itu mendonorkan darah. Semuanya sudah selesai, Revandra juga tak ingin menikahi Sofia. Istrinya sudah sadar sekarang, jadi buat apa dia menikahi kupu-kupu malam itu?
Yang bego sekarang ini adalah mamanya. Setelah memberi syarat dan Revandra menyetujuinya, mamanya itu langsung bergerak mendonarkan darah.
"Sedikit licik untuk kebaikan diri sendiri, tak apa'kan?"tanya Revandra dalam hati.
"Saya masih mempunyai hati nurani, karena kau adalah ibuku jadi saya cuma memejarakanmu, bukan menembakmu tiga kali bahkan lebih seperti yang kau lakukan pada istriku," bisik Revandra sebelum Rena di bawa oleh polisi untuk di masukan ke sel.
"Kau benar-benar sialan," teriak Rena saat dia di bawa ke dalam besi yang menjulang tinggi.
__ADS_1
"Iya karena saya anakmu, makanya saya juga mengikuti sifat busuk mu itu," teriak balik Revandra.