Mommy Untuk Anak Duda

Mommy Untuk Anak Duda
Part 61 ~Mommy Untuk Anak Duda~


__ADS_3

"Mas mau pulang, kangen El," ucap Gracel saat Revandra baru saja membersihkan diri di Wc.


"Kamu belum pulih sayang," jawab Revandra seraya memakai pakaiannya.


"Tapi aku mau pulang mas, di rawat jalan aja gak bisa? Aki juga udah membaik kok," rengek Gracel.


Revandra menghela nafas dia tak tega mendengar rengekan Gracel. Namun kesehatan juga perlu bagi wanitanya itu.


"Mas, ya?"


Revandra hanya berdehem. Dia menemui dokter yang menangani istrinya, dan memohon apakah istrinya sudah bisa pulang hari ini?


Dokter mengizinkan, sebelum pulang dokter meriksanya dulu.


Revandra mendorong kursi roda ke arah mobilnya. Setelahnya dia menggendong tubuh Gracel naik ke mobil.


"Gini udah nyaman?" tanya Revandra.


Gracel memgangguk pelan. Mereka pun pergi dari aera rumah sakit.


Gracel mulai membaik dan merasa nyaman. Namun Revandra masih waspada dengan istrinya.


Sesampainya mereka di mansion, mereka di sambut dengan hangat oleh art begitupun para boygrup.


Revandra menidurkan istrinya di ranjang, dia ikut menaikinya sambil mengelus punggung Gracel yang memeluk dirinya.


"Nyaman?"


Gracel mengangguk dan mulai menutup matanya.


Setelah menidurkan Gracel, lelaki itu mengecup singkat bibir serta kening istrinya lalu beranjak dari sana.


"Bik, apa El les?"

__ADS_1


"Iya, Tuan," sahut Bik Sri.


Revandra mengangguk dan duduk di sofa sambil menonton tv, menghilangkan rasa bosannya.


Revandra tak khawatir dengan anaknya yang di awasi beberapa boygrup ke sekolah, dia kembali memperketat pengawasan anaknya dan istrinya tentunya.


Sedang asik-asiknya menonton tiba-tiba ponselnya berdering membuatnya langsung mengangkat.


"Apa!" teriak Revandra. "Gak becus lo pada sialan, kalian ngejaga El atau makan di kantin sekolah, ha!" bentak Revandra, langsung beranjak mencari anaknya yang katanya tak di temukan di aera sekolahnya.


Tiba-tiba ponselnya kembali berdering, dia pun menerimanya.


"Kabur?" tanya Revandra memukul stir mobilnya. Anaknya tak ada di sekolah, mamanya kabur dari penjera. "Sialan, tua bangkak," teriak Revandra menyelip pengendara lain.


**************


"Aku grandma mu," ujar seorang wanita paruh baya yang berbincang dengan Xaviel.


"Kau tak milip Glandma," jawab Xaviel menggeleng.


Xaviel menggeleng. "Daddy gak pelnah ngomong kalau kau glandma ku," jawab Xaviel sewot berusaha melepaskan pegangan Rena. "El mau pulang, pasti mommy udah sadal, El mau ketemu mommy." Anak itu mulai menangis, karena Rena tidak melepaskannya.


"Kau tak bisa pulang, kau tidak mempunyai hubungan darah dengan wanita itu, kau cucu ku. Kau milik ku!" teriak Rena membuat tangis Xaviel semakin kencang.


Xaviel melirik pergelangan Rena, dan langsung menggigit tangannya serta menginjak kaki neneknya itu.


Anak itu berlari menjauhi Rena serta bawahannya.


"Kejar dia, sialan!" pinta Rena.


Anak buah Rena langsung mengejar Xaviel yang berlari, mulai ketakutan.


"Mommy, daddy tolongin El," teriak anak itu.

__ADS_1


Bruk!


Kakinya terkait dengan batang pohon membuatnya terjatuh. Namun, dia berusaha berdiri dan kembali berlari walaupun di lututnya di penuhi darah.


"Sakit," keluhnya. "jangan kejal El, El mau pulang. El gak pelnah buat kecelahan sama kalian." Anak itu berteriak pada anak buah neneknya yang mulai menangkap tubuhnya kembali.


"Daddy tolongin El."


Rena ngos-ngosan dan menggendong tubuh cucunya. "Grandma tak ingin melukaimu, Grandma juga cuma ingin berkenalan denganmu. Namun kau sangat ngeyel terimalah akbitnya, anak nakal," kelit Rena mencubit pelan pipi Xaviel.


"Kau bukan glandma ku, glandma El gak jahat kaya kamu!"


"Diam bisa!!" bentak Rena membuat Xaviel terdiam sambil sesengukan.


Baru ingin menaiki mobil tiba-tiba suara tembakan membuat Rena mengurungkan niatnya dan berbalik.


Wanita paruh baya itu refleks mengambil pistolnya dari saku dan mengarahkannya di kepala Xaviel.


Wanita itu tertawa piluh. "Kau ingin anakmu tiada, sayang? kau maju, pisau serta pistol ini melayang di tubuh cucu sayangku ini." Rena mencium pipi Xaviel membuat anak itu menjerit.


"Tidak! Lepasin Xaviel," pinta Revandra.


"Aduh lepasin? Lepasin?" tanya Rena tertawa miris memandang putranya. "Kau atau anakmu?"


"Bukan-bukan, dia atau istrimu duluan yang ku tembak?" tanya Rena tertawa. "Owh ini dulu, dia anak dari wanita yang paling ku benci, wanita yang ku bunuh lima tahun yang lalu dan sekarang anak sialan ini juga harus mati."


Revandra tak bisa berbuat apa-apa, saat ini dia berada di kukungan para anak buah mamanya.


Rena ingin mulai menekan pistol tersebut.


"Tidak...," teriak Revandra. "Kau akan ku bunuh sialan!"


Dorr!

__ADS_1


Revandra menutup matanya. Namun dia membukanya kembali dan terbelalak, melihat Rena yang ambruk.


__ADS_2