
Revandra menaiki brankar, karena perintah sang istri yang ingin di paku olehnya.
"Udah nyaman?" tanya Revandra memperbaiki posisi Gracel.
Wanita itu mengangguk sambil menggenggam jemari suaminya.
"Masih ada yang sakit, sayang?" tanya Revandra mengelus surai Gracel dengan lembut.
Gracel hanya menggeleng pelan, merasa nyaman dengan usapan yang di berikan Revandra.
"Mas dari mana? Mas tidak berlebihan'kan memberi pelajarannya? Kasih masuk dia kepenjara saja, Mas," ujar Gracel.
"Iya sayang, itu yang mas lakukan," jawab Revandra.
"Emang siapa mas?" tanya Gracel penasaran dengan seseorang yang membuatnya hampir mati.
Gracel mendongak ke atas mengusap janggut Revandra yang mulai tumbuh. "Besok cukur," perintahnya membuat Revandra mengangguk. "Jadi siapa, Mas?"
"Mama sayang, Maaf," ucap Revandra pelan takut istrinya marah kepadanya, atas perbuatan yang di lakukan mamanya.
"Mama?" tanya Gracel memastikan.
Revandra memgangguk. "Maaf, mas minta maaf ke kamu atas kesalahan yang fatal di perbuat sama mama mas," kata Revandra.
Gracel sedikit tersenyum kecut. "Jangan minta maaf mas, ini bukan salahmu. Kamu juga tidak mengatahuinya ini bakal terjadi," ucap Gracel.
"Mas cuma bisa memenjarakannya, Mas tak bisa memberimu keadilan lebih," keluh Revandra.
"Hey? Itu udah keadalin bagiku mas, biar pihak berwajib yang menentukan hukumannya. Kita cukup diam," tutur Gracel membangunkan dirinya lalu memeluk tubuh suaminya.
Gracel mendongak ke atas membuat Revandra menatapnya bingung. "Mas belum mandi?" tanya Gracel.
__ADS_1
Revandra mencium aroma tubuhnya. "Bau iya?"
"Dikit, tapi Gracel suka," ucap Gracel tidak melepaskan pelukannya.
"Mas gak sempat mandi," ucap Revandra seraya mencium puncuk kepala Gracel.
"Mau mam istri, Mas?" tanys Revandra.
Gracel menggeleng. "Sudah tadi di beri mami," jawab Gracel.
Revandra hanya manggut-manggut dan menepuk pundaknya.
"Mas," panggil Gracel membuat Revandra hanya berdehem.
"Racel boleh nanya boleh?" tanya Gracel.
"Nanya apa sayang?"
"Racel mau mewakili isi hati para readers yang tak bisa menyampainkan langsung."
"Mama berkerja apa? Bukan maksud apa-apa mas Racel cuma penasaran, terlebih lagi mama pasti membayar banyak pada orang yang menyuruh menembakku? Mama hanya tinggal sendiri, karena mami bilang papa sudah meninggal di saat usia mas memasuki delapan tahun."
Revandra sedikit terdiam lalu menghela nafas. "Mama seorang kelompok mafia pasti dia menyuruh bawahannya untuk melakukan berbagai cara apa yang dia mau dengan gampangnya. Dia juga menggantikan papa untuk meneruskan perusahaan miliknya," jelas Revandra.
"Wait? Mafia?" tanya Gracel menutup mulutnya tak percaya. Dia mempunyai mertua mafia?
"Kenapa kok terkejut seperti itu?"
"Gak, ternyata mafia tuh ada di dunia nyata, iya. Aku kira cuma ada di novel atau di film saja," ucap Gracel dengan polos.
Tiba-tiba wanita itu memicikan matanya ke arah suaminya membuat sang empuh menelan ludah.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Revandra.
"Jangan-jangan, kamu juga mafia?" tanya Gracel membuat lelaki itu berkeringat dingin.
Revandra memilih tertawa piluh. "Mana ada," jawabnya mengusap wajah kasar.
Gracel mencubit pinggang Revandra membuat suaminya itu meringis.
"Padahal keren," ucap Gracel pelan.
"Apa? Keren? Yaudah mas jujur, sebenarnya mas juga seorang mafia. Mas menurungi sifat keluarga mas yang di penuhi para mafia."
"Papi?"
"Papi juga, bahkan mami. Namun mami sudah keluar dari dunia gelap tersebut sesudah menikah dengan papi, katanya," jawab Revandra.
"Ja-di aku menikah dengan mafia?"tanyanya merasa hesteris mengetahui identitas asli suaminya serta keluarganya.
"Kok jadi terkejut gitu sih?"
"Iya-iyalah, aku tuh udah lama tau inam-inamkan bisa ketemu mafia, mau adu mekanik," ucap Gracel. "Mas mau adu mekanik sama aku?" tawar Gracel.
"Di ranjang?" Kata-kata itu keluar secara tiba-tiba dari mulutnya.
Gracel hanya mendesih pelan tak suka dengan pembahasan suaminya.
Revandra menutup mulutnya lalu memeluk istrinya dan mencium tengkuk leher tersebut.
Gracel menggit bibir bawahnya berusaha tidak mengeluarkan suara saat suaminya mengisap tengkuknya.
"Mas."
__ADS_1
Revandra menjauhkan wajahnya. "Kebablasan sayang." Lelaki itu hanya nyengir.
"Readers sudah tak ada yang penasaran'kan?"