
Setelah beberapa jam di rumah sakit akhirnya mereka kembali pulang, karena luka Xaviel tidak begitu parah. Gracel yang akan mengurusnya di rumah.
Saat ini Gracel tengah tidur di sofa merasa badannya sangat pegal setelah menidurkan Xaviel.
Revandra yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, datang ke kamar anaknya. Dia mendekati sang istri yang terlihat begitu lelah.
"Capek banget kayanya," gumam Revandra duduk di sofa dan memperbaiki posisi istrinya, menidurkannya di pangkuan.
"Sayang, bangun gih gak baik tidur magrib. Kamu juga belum makan dan minum obat, perban mu juga harus di ganti," ucap Revandra mengelus lembut pipi Gracel agar terbangun.
Gracel mengucek matanya lalu beranjak bangun memegang kepalanya yang merasa pening. Dia tersenyum kearah suaminya, sandar di dada bidaknya.
"Mas," panggil Gracel.
Revandra hanya berdehem.
"Gimana keadaan wanita itu? Aku menembaknya tadi, apa dia mati?Kalau dia mati aku masuk penjara dong?"
Revandra mendongak ke bawah. "Dia koma, kamu tenang saja kalau dia mati. Tak ada yang bisa memenjarakan mu," jawab Revandra.
"Aku takut mas, aku ngelakuin semua hanya untuk Xaviel. Apapun yang bisa membahayakan putraku akan ku lawan, walaupun hidupku yang akan ku pertaruhkan," ucap Gracel.
__ADS_1
Revandra mengangkat tubuh istrinya naik ke atas pangkuannya.
"Dan aku juga seperti itu, hidupku tidak begitu berarti di mandingkan kalian berdua. Sekarang kalian duniaku."
"Mas itu terhina. Mas lahir di rahim orang yang sangat kejam, aku benci ibuku sendiri Racel. Dia membunuh wanita yang dulu sangat ku cintai," teriak Revandra menangis seraya meremas bahu Gracel. "Ak-u, tidak bisa memberinya keadilan, ternyata dia di bunuh bukan karena kecelakaan tersebut. Kalau waktu itu aku tidak menyuruhnya mengantarkan sarapan ke kantor, mungkin dia masih ada. Dia tak akan di bunuh!"
Gracel memejamkan mata, mengeluarkan air mata di sudutnya. "Jangan salahkan dirimu, Mas. Ini sudah takdir," ucap Gracel memegang kedua pipi suaminya.
Tiba-tiba Gracel teringat sesuatu, dia melepaskan pipi Revandra lalu beranjak dari sana membuka laci dan memgambil sebuah kertas.
"Mendiang istri mas kecelakaan apa?" tanya Gracel.
"Mobil, di duga rem mobil yang di tumpanginya blon dan tidak bisa mengendalikannnya sehingga saling menabrak dengan pengendara lain. Dia terbakar, di dalam mobil tersebut, wajahnya sudah hancur kebakar," jawab Revandra menahan sesak.
Dada Gracel tiba-tiba berdeguk kencang.
"Siapa? Siapa nama istri mas?" tanya Gracel.
"Irana," jawab Revandra, membuat Gracel semakin yakin dengan dugaannya.
"Aku boleh meminta fotonya?"
__ADS_1
"Tentu kau istriku, sebenarnya mas udah ingin memberi taumu." Revandra beranjak lalu mendekati laci mengeluarkan bingkai foto dan memberikannya pada Gracel.
Tangan Gracel bergetar hebat. "Di-a." Gracel menjatuhkan bingkai foto itu, lalu memegang kepalanya yang pusing. "Ak-u mengingatnya."
Revandra yang panik langsung memeluk tubuh istrinya.
"Hey, kenapa sayang?" tanya Revandra mengelus kepala istrinya.
"Di-a dan a-ku, bunda dan ayah." Gracel menjerit menambah menangisnya.
"Iya?"
"Kecelakaan itu, mobil yang di tabrak mbak Irana adalah mobil ayahku, di mana ada aku dan mereka di atasnya," jawab Gracel membuat Revandra keringat dingin.
"Tapi satu hal yang mas tau, mbak Irana selamat di kecelakaan itu. Dia yang membantuku yang hampir terjatuh ke jurang bersama mobil dan orang tuaku, aku menolaknya, karena orang tuaku ada di dalam mobil itu. Namun dia menarik ku."
"Dia memberi tau namanya kalau dia adalah Irana, dia janji sama aku. Dia akan menanggung apa yang dia perbuat," jelas Gracel menghembuskan nafas sebelum kembali berucap. "Tapi saat itu ada yang memukul kepalaku dari belakang, sebelum benar-benar tak sadarkan diri aku melihat sekilas Mbak Irana di hantam pisau di perutnya dan di bawa pergi. Setelah beberapa jam aku tersadar dan entah mengapa tiba-tiba saja melupakan waktu kejadian tersebut, hanya mengingat kejadian di mana orang tuaku dan diriku kecelakaan. Mungkin saat itu orang menyuntingku dengan sebuah obat sehingga aku lupa. Namun setelah melihat fotonya aku kembali mengingatnya," lanjut Gracel.
Gracel beranjak dan membuka kopernya mengambil semua arloji di dalamnya.
"Ini punya mbak Irana?"
__ADS_1
Revandra meraihnya. "I-ya, aku yang membelikannya," jawab Revandra berkaca-kaca memegang arloji itu.
"Dia melemparkan itu kepadaku sebelum benar-benar dibawa pergi."