
Orang yang telah menembak Gracel langsung memperbaiki hoodienya. Dia melepaskan kaos tangan yang di pakai dan membuangnya di tempat sampah bersama dengam pistol tersebut. Setelahnya dia buru-buru pergi dari sana.
Revandra yang ingin menerima telfon Delon langsung berbalik mendengar suara tembakan. Dia bisa mendengarnya, karena posisinya saat ini sedang di dekat Wc menunggu mereka berdua.
Lelaki itu masuk ke dalam dengan buru-buru. Dia melihat anaknya yang sudah menangis memangku kepala Gracel dengan darah di tubuhnya.
Kaki Revandra seketika kaku melihatnya. "Gracel," teriak Revandra duduk dan memangku istrinya. "Sayang bertahanlah," ujar Revandra memompah tubuh istrinya dia mengecup kening Gracel berulang kali dan beru-buru keluar dari sana.
Xaviel terus menangis sambil mengekor di belakang daddynya.
"Mommy."
Orang-orang yang ada di mall itu langsung terkejut.
"Biar saya yang menyetir, pak," ujar seseorang yang langsung membantu membuka'kan mobil.
Revandra pun masuk bersama anaknya. Revandra tak henti-hentinya mengeluarkan tetesan mening di sudut matanya, dia tidak ingin kejadian lima tahun lalu kembali terulang.
"Sayang," bisik Revandra sambil mencium puncuk kepala Gracel. "Bertahan, kumohon."
Pria yang tadi menawarkannya bantuan langsung melajukan mobil milik Revandra dengan atas rata-rata.
Xaviel menjerit membuat Revandra menoleh dan memampah tubuh putranya.
"Mommy akan baik-baik saja ok?"
__ADS_1
"Mommy kelual banyak dalah daddy, lihat pakaian dan tangan El." Anak itu memperlihatkan kedua tanganya yang di penuhi darah Gracel.
"Tolong makin cepat,"desih Revandra.
Mobil sudah melaju di atas mamaksimal. Pria itu sepertinya sudah ahli mengendarai, karena bisa menyelip-menyelip banyak pengendaraa.
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai ke rumah sakit.
Revandra langsung buru-buru memasuki bangunan rumah sakit tersebut.
"Dokter," teriak Revandra.
Dokter yang sedang berjalan dan tak sengaja melihatnya langsung mengambil brankar.
Revandra menidurkan istrinya di brankar dan membantu mendorong, dia terus mengenggam tangan Gracel.
Xaviel langsung memeluk daddynya. "Daddy, mommy," isak anak itu menangis hesteris.
Revandra menghapus air matanya sendiri lalu menyium inci wajah putranya. "Mommy akan baik-baik saja," ucapnya berusaha menenangkan sang anak, padahal dirinya saja tak bisa tenang.
Revandra menoleh ke arah pria yang sempat membantunya. Dia berdiri dan sedikit tersenyum. "Makasih atas bantuan, Anda," ucap Revandra memegang kedua tangan pria tersebut.
"Tak masalah, pak. Sudah kewajiban kita menjadi manusia untuk saling menolong satu sama lain," ujar pria tersebut.
Revandra mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya bisa permisi?"
Revandra mengangguk. "Saya berterima kasih kembali."
Pria iti mengangguk tersenyum sekilas lalu pergi dari sana.
Revandra berusaha menenangkan kembali Xaviel dengan mengiburnya berbagai cara. Namun, hasilnya nihil. Mungkin anak itu sudah terlalu shock melihat mommynya tertebak, bahkan badan mommynya ambruk di depannya.
Revandra segera menelfon papinya. Kedua pasangan tua itu tersebut langsung meluncur kerumah sakit dengan keadaan cemas.
"Kenapa bisa seperti ini," sahut Rani yang telah sampai dan langsung mengambil ahli cucunya yang terus menangis tak henti-henti.
Kenzo memeluk putranya yang juga kelihatan sedikit rapuh sedari tadi.
"Pih, ini tidak mungkin terulang kembali'kan? Revan tidak akan kembali kehilangan orang yang Revan cintai," ucap Revandra menangis sejadi-jadinya di pelukan sang papi.
"Insya-Alalh nak, jangan berpikir yang gak-gak kalau kamu akan kembali kehilangan, kita cuma bisa berdo'a yang terbaik untuk istrimu yang bertarung nyawa di dalam sana." Papi Kenzo berusaha menanangkan sang putra.
"Entah siapa yang tega, pih, tapi demi Tuhan Revan tidak akan memberinya ampun orang yang berani berbuat sekejam ini pada istriku," tegas Revandra.
"Kita akan mencari tau bersama-sama. Papi akan menyuruh bawahan papi untuk menyelidikinya. Sekarang kita fokus menunggu informasi dari dokter," jelas Papi Kenzo.
Pria paruh baya itu menoleh ke arah istrinya yang berusaha menenangkan cucunya.
"Mommy," teriak anak itu memberontak di gendongan Grandmanya.
__ADS_1
"Pih," keluh mami Rani kasian pada cucunya yang akan terkuras habis tenaganya. Bahkan anak itu muntah-muntah, karena terlalu banyak menangis.
Revandra semakin kala kabut. Dia meraup wajahnya kasar.