
Gracel memandang wajah suaminya yang masih terlelap. Dia mengelus hidung mancung tersebut.
"Ganteng," gumam Gracel pelan dan tersenyum.
Gracel tersentak saat tangannya di tarik oleh Revandra.
"Mas udah bangun ya?" tanya Gracel membuat Revandra membuka mata.
"Baru bangun, pas kamu bilang mas ganteng. Baru sadar kalau suaminya memang ganteng dari dulu?"
"Pede banget," ucap Gracel memukul pelan kening suaminya yang terlalu pede, tapi ucapannya benar.
"Cepat banget mommy bangun," ujar Revandra dengan suara seraknya.
"Ya dong, udah mandi udah bikinin kamu dan El sarapan, El udah berangkat ke sekolah di antar Marro, terus aku udah jalan-jalan pagi. Kamu aja yang lambat bangun," jelas Gracel.
Revandra memeluk Gracel. "Cantik banget," bisik Revandra melihat pantulan sang istri di cermin.
Gracel hanya berdehem dan tertawa.
"Ayo mandi mas, semalam kamu bilang mau ke kantor'kan?"
Revandra mengangguk pelan. "Gak papa mas tinggal sendiri dulu? Sebentar aja kok cuma lihat laporan."
"Gak papa mas, nanti juga ada Naya kok," seru Gracel.
Lelaki itu mengecup singkat pipi sang istri dan beranjak bangun.
Gracel melemparkannya handuk, Revandra pun memakainya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Si bumil itu ikutan beranjak dan membuka pintu, di mana ada art membawa jas dan kemeja suaminya yang sempat dia suruh setrika.
Ceklek!
Beberapa saat kemudian, Revandra kembali keluar dari kamar mandi.
Gracel menoleh saat rambutnya basah karena air bercikan Revandra yang memeluknya.
"Sttt." Revandra mencium tengkuk leher Gracel membuat Gracel memejamkan mata.
"Mas cepat, udah jam berapa ini nanti kamu telat," sahut Gracel membalikan badannya.
"Manjain punyaku dulu dong," rengek Revandra, menaroh tangan mungil istrinya ke dalam handuk yang di pake.
"Nanti pas pulang," ucap Gracel mengeluarkan tangannya dari dalam handuk.
"Janji ya?"
Gesel mengangguk. "Kalau gak di ganggu El," kelitnya tertawa.
Revandra mengerucut bibirnya. "Jangan ketawa," ketus Revandra sehingga Gracel menghentikan tawanya.
"Pake baju cepat," pinta Gracel.
__ADS_1
"Sayang lihat," perintah Revandra membuat Gracel menoleh dan langsung menutup matanya.
"Mas!" bentak Gracel membuat Revandra terkekeh dan memundur.
"Omes!" ketus Gracel. "Pake cepat!" tegas Gracel mengerucut bibirnya.
Revandra hanya tertawa melihat istrinya kesal, dia pun memakai pakaiannya cepat.
*****************
Setelah keberangkatan Revandra ke kantor, Kanaya juga datang.
"Halo bestie, kangen banget," seru Kanaya memeluk si bumil.
"Aku juga, aku suruh ke sini gak papa? Kamu gak sibuk kan?" tanya Gracel mengajak sahabatnya masuk.
"Gaklah, sekalian gue mau ngasih tau. Kalau hasil lebnya itu ke tukar ma punya orang, punya lo yang ini...." Kanaya memberikan kertas itu ke Gracel. "Kemarin gue benar-benar sibuk makanya gak teliti."
Gracel menggaruk keningnya. "Lah kemarin namanya Gracel kan?"
"Nah ya itu, hasilnya beda sayang. Dari hasil lebnya lo baik-baik aja kok, sehat," ucap Kanaya.
Tanpa di sangka Kanaya, si bumil malah menangis membuat dokter muda itu kebingungan.
"Eh kok nangis?"
"Kamu bikin aku panik aja, gak tau apa kalau aku udah sedih," ketus Gracel memeluk sahabatnya.
Kanaya menggaruk belakang kepalanya. "Maaf," ucap Kanaya mendudukan sahabatnya di sofa.
Gracel mengangguk.
"Terus-terus jenis kelaminnya apa?" tanya Kanaya.
"Cewek," jawab Gracel.
"Pasti akan cantik kaya gue ini mah," seru Kanaya sehingga mendapatkan jitakan dari si bumil.
"Jelas cantik kaya maknya lah!"
"Iya deh, gue tau lo cantik banget. Gak salah om Revan pilih bestie gue yang comel ini."
"Nay, aku bulat gak sih?" tanya Gracel dan langsung di angguki oleh gadis itu.
"Tukan," gumam Gracel.
"Lah kenapa? Gak papa kali lo bulat kaya gini yang penting suami lo suka kan?"
Gracel mengangguk.
"Arkrk, punya suami gimana sih Cel?"
"Hem pokoknya enak," jawab Gracel. "Makanya ayo cepat-cepat nikah."
__ADS_1
Kanaya mencibikkan bibirnya. "Gue sih mau-mau aja tapi pasangannya belum ada, lo taukan gue gak naksir siapa-siapa."
"Aku punya bujang tampan dua, kamu tinggal pilih," bisik Gracel membuat Kanaya memepetkan badannya.
"Siapa?" tanya Kanaya ikut berbisik.
"Ada deh, ajudan suamiku ganteng kok. Baik, sopan, bisa di pecaya, yang pastinya akan setia."
"Iya namanya siapa? Mana orangnya?"
Gracel menunjuk pria yang sedang keluar dari dapur. Kanaya pun mengikuti arah tunjuk Gracel di mana ada Marro yang sedang membawa segelas kopi.
"Gimana ganteng?" tanya Gracel, tanpa sadar Kanaya mengangguk.
"Namanya siapa?"
"Kepo," jawab Gracel tertawa membuat Kanaya kesal.
"Terus yang satu mana?" tanya Kanaya.
"Hem kalau yang itu jarang ke sini, dia kerja luar rumah. Hanya kadang aja ke sini, cuma kalau ada mertuaku aja atau ada luang waktu bawa Xaviel keluar main. Dia tuh baik banget, dua-duanya baik kok."
"Yang lebih ganteng mana?" tanya Kanaya lagi.
"Suamiku," jawab Gracel membuat Kanaya melotot.
"Iss yang serius!" ketus Kanaya merasa kesal.
"Aku udah serius, yang lebih ganteng ya suamiku. Yakali aku muji cowok lain kalau suami aku lebih ganteng?"
"Ck, udah ah gak asik," ketus Kanaya mengambil piring yang penuh cemilan yang di bawa art tadi.
Gracel tertawa. "Bukan begitu sayang, cuma aku gak bisa milih kalau aku sih ganteng semua, gak tau kalau seleramu beda," ucap Gracel lembut pada sahabatnya.
"Yaudah, punya foto cowok yang satunya gak?"
Gracel menggeleng.
"Iyalah, payah," cecar Kanaya. "Eh ayo cari perlengkapan bayi yok," ajak Kanaya.
"Gak ah, kan masih lama."
Kanaya mengerucut. "Gimana kalau jalan-jalan?"
Gracel tampak diam.
"Ayolah, kita kan baru ketemu nih. Sekali-kali jalan-jalan keluar bersama si dedek," bujuk Kanaya mengelus perut sahabatnya.
"Hem... Aku minta izin dulu sama mas Revan ya? Takut dia ngelarang."
Kanaya mengangguk. Gracel pun menelfon suaminya untuk meminta izin.
"Gimana di izinin?" tanya Kanaya setelah Gracel memutuskan telfon.
__ADS_1
"Iya di izinin, tapi harus di antar kemana-mana sama ajudan suamiku. Gak papa?"