
Revandra membuang ayam itu ke arah Marro. Untungnya Marro cepat-cepat menangkap ayam tersebut.
Revandra berlari mendekati istrinya, memijat tengkuk leher sang istri.
"Hem?"
Gracel berbalik dan merentangkan tangannya, Revandra pun menggendong istrinya.
"Gak enak tenggorokannya, hem?" tanya Revandra mencium pipi chubby istrinya.
Gracel mengangguk, Revandra pun membawa istrinya ke dalam kamar.
Sedangkan Marro memilih untuk memberi makan ayam tersebut.
"Mas pijatin, tengkuknya?" tanya Revandra.
Gracel menggeleng.
Tiba-tiba pintu ke buka dan terlihat Mami Rani sedang menggendong cucunya.
"Aduh, menantu mami kenapa?" tanya sang mertua menurunkan cucunya dan mendorong Revandra dari sang menantu.
"Mami," ucap Gracel pelan, memeluk mertuanya.
"Kenapa istrimu, Revan?"
Mami Rani menatap menantunya dan terkekeh melihat pipi menantunya yang begitu tembab.
"Habis mual, Mih," jawab Revandra.
"Mual?" tanya Mami Rani berbinar. "Aduh, coba deh periksa cepat."
"Buat apa? Istri dan anak Revan baik kok, emang mual hal yang sering di alami oleh wanita hamil kan?"
Mami Rani membulat. "Kamu hamil sayang?" tanya Mami Rani dan langsung di angguki oleh Gracel.
"Udah jalan tiga minggu," jawab Gracel.
"Kok gak ngasih tau mami sih?"
__ADS_1
"Mami kan, jangain mama Rena di rumah sakit. Mana bisa kami memberi taunya," jawab Gracel.
"Aduh maaf ya sayang, mami baru bisa berkunjung."
Gracel mengangguk." Ya mah," jawab Gracel.
"Mami."Tiba-tiba Si bumil menangis memeluk mertuanya membuat wanita paruh baya tersebut terkejut.
"Eh kenapa sayang?"
"Lihat mas Revan, dia gak sayang aku lagi," aduh Gracel menunjuk suaminya.
Rani mencubit paha sang anak membuat lelaki itu yang sibuk bercanda dengan anaknya meringis.
"Kenapa sih mih?"
"Kamu enak ya, sudah membuat menantu mami hamil, dan sekarang kamu gak sayang dia lagi," omel Mami Rani pada putranya seraya menyewer telinga sang anak.
"Aw." Revandra memegang telinganya. "Aku sayang mih."
"Gak!" sela si bumi mengerucut bibirnya.
"Benaran sayang," bujuk Revandra.
"Bohong mami, buktinya mas gak beliin aku ayam bentuknya kotak," kelit Gracel mencari pembelaan pada mertuanya.
Bukan Revandra yang melotot Mami Rani pun ikutan melotot.
"Emang di mana ada ayam bentuknya kotak sayang?"
"Ada!" jawab Gracel. "Sini nak," panggil Gracel pada Xaviel.
Xaviel pun sedikit berlari mendekati sang mommy. "Kenapa mommy?"
"Coba kamu kasih lihat ayam yang bentuknya kotak pada daddymu," ucap Gracel.
Xaviel sedikit berfikir apa yang di maksud mommynya.
"Bentar mommy." Anak itu berlari keluar dari kamar dan berlari ke kamarnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian dia kembali membawa mainannya.
"Ini?" Xaviel menyodorkan mainan ayamnya yang berbentuk kotak.
"Nah lihat," ketus Gracel pada suaminya memperlihatkan mainan anaknya.
Mami Rani menahan tawanya dan mengusap punggung putranya. "Yang sabar nak," bisik Rani.
"Mas harus dapat dari mana coba, sayang? Itukan cuma mainan bukan asli. Tadi kamu minta ayam tetangga mas udah bawain."
"Tapi sekarang, maunya ayam kotak," ucap Gracel memainkan jari suaminya.
Revandra menggaruk belakang kepalanya, berusaha menambah ke sabarannya.
"Gimana kalau Mami buatin menantu mami ayam bakar tapi bentuk dagingnya kotak, mau?"
Mami Rani berusaha membantu anaknya.
"Apa itu?" tanya Gracel.
"Yaudah kamu tunggu di sini, mami siapin. Ok!" Mami Rani keluar dari kamar bersama dengan sang cucu.
"Sayang," panggil Revandra. Namun wanitanya membalikan badan.
"Sana!" perintah Gracel mengusir suaminya. "Aku gak suka lihat wajah mas, bawanya pengen cakar tau gak. Bikin kesal," ketus Gracel.
Ingin rasanya Revandra mengamuk di saat itu juga.
Gracel melirik suaminya dan terkejut melihat suaminya mengeluarkan air mata.
"Mas nangis?" tanya Gracel.
Revandra mengerucut bibirnya dan memeluk sang istri dengan manja.
"Kok nangis sih?" tanya Gracel membelai rambut sang suami.
"Terus gimana lagi? Masa mas mau marah sama kamu. Mending mas nangis aja," jawab Revandra.
Entah mengapa ngidamnya gini amat, padahal dirinya juga kasian pada suaminya, tak ingin menyiksanya. Namun bagaimana lagi ke inginan baby.
__ADS_1