
Revandra memperhatikan tukang pijat, memijat seluruh badan sang istri. Sekali-sekali bumil itu meringis.
"Dia aktif banget," sahut tukang pijat itu tersenyum dan mengakhiri pijatannya. "Minggu depan saya akan ke sini lagi, teruslah berjalan-jalan pagi agar saat melahirkan tidak terlalu susah," sarannya.
Gracel mengangguk. Revandra pun mengambil handuk dan menutupi tubuh sang istri lalu mengantar keluar orang tersebut.
Gracel mengusap perutnya. "Kata mbak tadi, kamu aktif banget di dalam sayang," ucap Gracel.
Revandra kembali masuki kamar tak lupa untuk menutupnya.
"Mandi?"
Gracel mengangguk.
Revandra pun mengangkat tubuh istrinya ke dalam kamar mandi dan seperti biasa akan menunggunya sampai selesai.
"Pipi kamu makin chubby, makin membuat mas gemass pengen gigit tiap menit, dan tiap detik," sahut Revandra yang sedang menggigit sekilas pipi sang istri dan memakaikannya handuk.
"Mas geli, ih, jangan di gigit mulu," ketus sih bumil.
"Gemass sayang," ucap Revandra mencium bibir Gracel lalu berbalik untuk memilihkannya pakaian.
"Kangen sama pakaianku, sekarang harus pake dress mulu," keluh Gracel melihat dress yang di ambilkan Revandra.
"Inikan demi dedek agar tidak sempit sayang, kalau dedek udah lahir kamu akan kembali memakainya," bujuk Revandra mencari kesempatan saat istrinya sedang ngambek.
Gracel yang sadar dengan sentuhan sang suami langsung memukulnya. "Apa ih, nakal banget tangannya," ketus Gracel menggigit tangan Revandra sehingga lelaki itu meringis.
"Sini," pinta Revandra merentangkan tangannya membuat Gracel langsung memeluknya.
"Sayang, mas minta izin keluar ya? Hanya sebentar."
"Mau kemana mas?" tanya Gracel mendongak.
"Ada urusan sayang, tapi mas janji akan pulang secepatnya," ucap Revandra.
"Aku ikut," pinta Gracel merasa tidak ingin melepaskan suaminya pergi kemana-mana.
"Mas hanya sebentar sayang," bujuk Revandra.
Gracel menggeleng dan terus nenplok di badan Revandra tidak membiarkan suaminya pergi.
__ADS_1
"Mas ada pekerjaan kantor, mas harus kekantor sayang."
"Yaudah aku ikut," sahutnya si bumil.
Revandra menghela nafas dan merebahkan dirinya. "Mas gak jadi pergi."
Gracel ikut tidur dan memeluk Revandra.
"Kok nangis?" tanya Revandra membelai wajah sang istri.
Gracel mendongak. "Mas janji ya, jangan cari alasan ada urusan kantor padahal ada yang lain-lain, supaya ingin keluar. Aku tau, makanya kalau mau pergi aku ikut," tutur Gracel.
"Tidurlah," ucap Revandra mengubah topik.
"Gak mau, nanti mas pergi gimana?"
"Mas mau tidur ngantuk," kata Revandra singkat melepaskan pelukan Gracel dan berbalik badan.
Gracel yang merasa sikap suaminya agak aneh, sudah merasa ovt. Dia melap air matanya dengan sesengukan.
"Mas gak cinta aku lagi? Benaran?" tanyanya bergumam menatap punggung suaminya yang membelakanginya. Tidak biasa lelaki itu bersikap seperti ini padanya.
Gracel mengusap perutnya dan ikut membelakangi Revandra, dengan terus menangis.
Dengan dada naik turun, Gracel berusaha menidurkan dirinya, berharap itu hanya pikiran buruknya pada sang suami.
Gracel berbalik kembali.Namun Revandra tetap sama dengan posisinya. Dia memainkan tangannya sendiri.
"Mas Revan," panggil Gracel pelan.
Tidak ada sahutan, Gracel kembali memanggil Revandra. "Mas Revan, dengar aku? Mas Revan marah sama aku? Yaudah mas boleh pergi aja. Maaf kalau aku terlalu manja. Mas pergilah kalau ada urusan penting, takut kamu tidak pergi nanti kamu malah menyalahkan ku dan menyuruhku pergi," ucap Gracel di tambahi nada isakan.
Sesaat masih tidak ada respon. Namun tiba-tiba Revandra beranjak bangun dan menoleh ke arah istri yang melap air matanya dengan kasar.
Tanpa berbicara, Revandra membawa istrinya ke dalam dekapan.
"Maaf," ucap Revandra mengelus rambut Gracel. "Maaf membuat mu ovt. Mas tidak akan pergi kalau kamu melarangnya, lagian ini tidak terlalu penting," imbuh Revandra.
Seketika tangisan Gracel pecah, Revandra tidak berbicara, membiarkan istrinya menangis saja. Dia baru sadar apa yang dia buat tadi membuat si bumil ovt kemana-kemana.
"Aku takut," ucap Gracel. "Kata orang-orang kalau aku tuh gak pantas buat mas, badan aku gak kaya dulu lagi. Tadi aku baca di artikel, suami gampang berpaling saat istrinya sedang di keadaan hamil. Tadi mas cuekin aku, mas berubah."
__ADS_1
"Iya maafin mas, mas salah," kata Revandra menidurkan istrinya kembali.
Gracel pun memeluk dengan posefi badan Revandra. Wanita hamil itu sangat takut kehilangan sang suami.
Revandra terus mencium puncuk kepala Gracel. Sedangkan si bumil sudah hampir terlelap.
Dengan perlahan Revandra berusaha melepaskan pelukannya. Saat berhasil dia mengecup kening, pipi dan bibir yang membuatnya candu itu, lalu beranjak turun dari ranjang.
"Mas pergi dulu ya? Mas mohon kalau kamu bangun dan mas belum pulang, jangan menangis. Mas akan segera pulang."
*************
Revandra berjalan memasuki markas dunia gelapnya, yaitu markas perkumpulan para mafia, di mana dia yang menjadi ketua kelompok.
Para anak buahnya menyambutnya dengan sangat sopan.
Brak!
"Ampun," teriak seorang gadis. Terdengar sangat jelas di indra pendengaran Revandra saat memasuki markas.
"Saya mohon, ampuni saya. Ini sakit," ucapnya.
Delon menoleh melihat bosnya yang sudah datang. "Bos."
Revandra membuang putu rokoknya ke tong sampah dan menatap gadis di depannya dengan intens.
"Pak, ampunin saya pak Revan. Saya janji tidak akan mengulan- Arkk," jeritnya saat Revandra memukulnya dengan karet tebal. Bahkan paha gadis itu sudah sangat memerah.
"Ampun?" tanya Revandra, ingin kembali melayangkan karet yang dia pegang. Namun dia tahan.
"Pak, maaf pak," gadis itu berlutut di depan Revandra. Namun cepat Revandra menendangnya.
Lelaki itu berjongkok dam memegang kedua pipi gadis itu saat ini tengah menangis, merasakan pedih di seluruh tubuhnya.
Gadis itu menggeleng kiri-kanan saat Revandra ingin memasukan sesuatu di mulutnya.
Brak!
Revandra memukul dengan keras meja di depannya membuat meja itu patah.
"Lepasin aku pak, saya janji tidak akan mengusik rumah tangga mu, atau berniat menyalakai istri dan anakmu."
__ADS_1
"Arkkk," teriak gadis itu meringis saat Revandra menginjak jemarinya menggunakan sepatu yang dia pakai.
"Tenang, kau tidak akan langsung mati. Nikmati dulu, hasil perbuatan mu yang hampir saja membunuh istriku!" bentak Revandra membanting sesuatu yang ada di dekatnya.