Mommy Untuk Anak Duda

Mommy Untuk Anak Duda
Part 89 ~Mommy Untuk Anak Duda~


__ADS_3

Revan menangkup kedua pipi sang istri, sedangkan Gracel hanya terdiam.


"Kamu benaran sakit sayang?" tanya Revandra.


Gracel menggeleng. "Gak mas," jawab Gracel.


"Bohong daddy mommy sakit, tadi aku lihat mommy minum obat di dalam kamar," sela Xaviel.


Gracel menatap anaknya lalu menggeleng. Namun anak itu tidak peduli, dia mengatakannya pada sang daddy.


"Sayang jangan bohong sama mas!" tegas Revandra.


Gracel hanya menunduk.


"Jawan mas, Racel!"


"A-ku gak sakit mas, aku cuma minum pereda mual. Aku masih merasakan mual, aku gak mau kamu kepikiran aja. Itu saja," ucap Gracel jujur.


"Kamu gak bohongkan sama mas?" tanya Revandra memastikan. Gracel menggeleng.


Revandra pun bernapas lega dan mengambalikan rupa tenangnya.


"Mas aku duluan ke kamar ya," pamit Gracel pergi dari sana.


Sesampainya dia membuka laci dan mengambil obat itu dan menyembunyikannya di tempat aman di mana Revandra tidak menemukannya.


"Sayang," panggil Revandra yang ikut ke dalam kamar, Gracel terkejut dan buru-buru mengantongkan obat tersebut.


"Iya mas?" tanya Gracel mengubah raut wajahnya seperti tidak terjadi apa-apa.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Revandra mendekati Gracel.


Gracel menggeleng dan tersenyum kecut, duduk di tepi ranjang.


Revandra ikut duduk dan memeluk istrinya. "Kalau ada yang janggal dalam hati kamu, katakan aja sama mas sayang," ucap Revandra mengecup pucuk rambut sang istri.


Gracel mendongak, Revandra memang melihat kepucatan di wajah sang istri.


"Sayang kita periksa yuk," ajaknya.


"Buat apa mas?"

__ADS_1


"Wajah kamu pucat sayang, kamu benaran gak papa?"


Gracel sekali lagi menggeleng. "Aku gak papa mas, aku cuma ingin mas di dekat aku jangan pergi sampai aku melahirkan," ucap Gracel.


"Aku tidak akan pergi," jawab Revandra.


"Nanti mas akan jaga dedek kan?" tanya Gracel dan langsung di angguki oleh Revandra. "Jangan benci dia ya?"


"Buat apa aku membenci anakku?"


Gracel menggeleng. "Kamu sama Xaviel harus menjaganya," peringat Gracel membuat Revandra menatap aneh dengan istrinya.


"Kita akan menjaganya bersama dan hidup bersama, aku kamu, Xaviel dan adiknya," ucap Revandra.


"Kalau aku gak janji mas," batin Gracel dan tersenyum ke arah suaminya.


"Kamu udah mau bobo? Pasti mommynya dedek capek," ucap Revandra menidurkan istrinya di dadanya.


"Gini kamu merasa nyaman?"


Gracel mengangguk pelan.


Revandra menjajah ke dalam dress Gracel, dia menemukan perut buncit sang istri, dia mengusapnya dengan lembut.


Dia beranjak untuk menutup pintu kamar, sang anak juga udah masuk ke dalam kamarnya.


Revandra melepaskan pakaiannya sehingga terlihatlah perut kotak-kotanya.


Gracel tersenyum melihatnya, dia merentangkan tangannya untuk di peluk.


Lelaki itu menaiki ranjang dan langsung memeluk istrinya dari belakang.


Gracel membelai rambut sang suami dengan lembut, dia ingin mengabiskan momennya bersama suaminya itu.


"Kalau nanti aku meninggalkan mu, kamu bakal benci aku gak?" tanya Gracel dalam hati. "Aku berharap kamu tidak membenciku dan menerima anak kita dengan baik, aku ingin kamu menjaganya untukku. Rawat dia sampai tumbuh seperti gadis yang paling beruntung nantinya, kalau tidak bersamaku maka kamu dan Xaviel bisa merawatnya," lanjut Gracel.


"Kamu menangis sayang?" tanya Revandra merasa tangannya basa.


Gracel berbalik dan mengangguk. "Aku takut kehilangan mas," ucap Gracel memeluk suaminya walaupun tidak terlalu berdempetan.


"Aku lebih takut. Aku takut malah kamu yang meninggalkan mas," balas Revandra.

__ADS_1


Gracel menggeleng. "Kalau bisa aku pengen sama kamu terus-menerus," seru Gracel tersenyum.


"Kamu harus janji sama mas. Apapun yang terjadi kita harus tetap bersama-sama."


Gracel tidak membalas ucapan Revandra, dia memilih memejapkan matanya agar tertidur.


Revandra membelai rambut istrinya. "Sayang jangan tidur dulu, kamu belum makan. Ayo makan dulu mas tunggu lalu kita tidur sama-sama," ucap Revandra pelan.


"Aku gak lapar mas, tadi aku juga makan banyak," jawab Gracel, dia memang malas makan apapun itu, saat ini dia masih kepikiran dengan tes yang dia dapat dari sahabatnya kalau dia mempunyai penyakit yang serius bahkan bisa terpengaruh pada bayinya. "Mas tidur lebih dulu," ucap Gracel membelai rambut suaminya.


Revandra menghirup dengan rakus aroma leher sang istri sehingga memer. Gracel sama sekali tak protes dia menikmati sentuhan sang suami. Dia menahan terus air matanya yang ingin tumpah di saat itu juga.


Entah bagaimana hancurnya lelaki itu nanti, saat melahirkan anaknya malah membuat nyawa istrinya terancam.


"Aku mencintaimu mas," ucap Gracel pelan.


"Aku lebih mencintamu lebih apapun itu," balas Revandra yang memejapkan matanya.


Gracel terkekeh saat Revandra tidur seperti bayi, wajah tampan yang tidak pernah membuat Gracel bosan melihatnya. Ia memandang Revandra dengan lekat.


Wanita hamil itu susah memejapkan matanya, pikirannya terus berlayang-layang tentang penyakitnya. Dia berharap di persalinan, hanya nyawanya yang terangkat jangan anaknya.


Dia terus menyiun kening Revandra tanpa henti. "Maaf," ucap Gracel dalam hati.


Dia tidak akan tinggal diam, besok dia akan menelfon Kanaya untuk membantunya berobat tanpa sepangatahuan Revandra, dia sangat takut membuat lelaki itu makin cemas dengan keadaannya dan memilih untuk menyembunyikannya.


Mengecup sekilas lagi kening sang suami lalu melepaskan pelukannya, bumil itu beranjak bangun dan menyembunyikan obat yang ada di dalam kantong dressnya.


"Aku mohon, sembuhkan aku Tuhan. Dulu memang aku memintamu mengambilku, tapi kali ini jangan aku udah merasa bahagia bersama keluarga kecilku. Beri aku kesempatan buat bahagia bersama mereka," batin Gracel dengan air mata membasahi pipinya.


Dia buru-buru menghapuskan karena mendengar rengekan sang suami.


"Dari mana?" tanya Revandra.


"Kamar mandi," dusta Gracel membaringkan kembali badannya.


Revandra pun memeluk Gracel, tangannya dia mengusap perut sang istri.


"Mas besok, aku ajak Naya ke sini gak papa?" tanya Gracel.


"Serah kamu sayang, hanya diakan?"

__ADS_1


Gracel mengangguk. "Hanya Naya, aku kangen. Terakhir ketemu pas pesta ulang tahunku waktu itu," keluh Gracel. Dia benar kangen dengan sahabat kuliahnya itu.


Kanaya yang sibuk dengan pekerjaanya sebagai dokter di rumah sakit, sedangkan Gracel sibuk dengan keluarganya.


__ADS_2