
Xaviel jadi sedih karena gadis tersebut sudah di jemput oleh sang ayah.
"Fisha besok-besok main ke sini lagi ya!" ujar Xaviel.
"Gak mau! El mainannya semua robot bikin Fisha bosan," celetuk Fisha.
"Yaudah, nanti El suluh daddy beli mainan boneka dan belbie buat Fisha."
"Om, tante Fisha pulang dulu ya!" Anak itu melambaikan tangannya, tidak membalas ucapan Xaviel karena malas.
"Hati-hati nanti temanin tante masak lagi ya," seru Gracel.
"Siap." Fisha menaikan jempolnya.
"Makasih pak Revandra, sudah menjaga anak saya," sahut Altar merasa sungkan dengan rekan kerjanya tersebut.
"Gak usah sungkan pak," balas Revandra tersenyum lalu saling tos dengan Altar.
"Kalau gitu saya pamit, istri saya sudah sangat khawatir di rumah," ucap Altar di angguki oleh Revandra maupum Gracel.
Akhirnya Fisha dan apahnya pergi dari kediaman Mahewara.
"Ko sedih anak mommy." Gracel berjongkok di depan anaknya.
"Fisha kayanya gak suka sama El mommy, lihat tadi Fisha ketusin El mulu," keluh anak itu merasa sedih. "Padahal El cuma mau temanan sama Fisha karena dia selu dan unit wajahnya di pakein kain."
Gracel tersenyum. "El suka ya sama Fisha?" tanya Gracel meggoda.
__ADS_1
"El suka sama Fisha, El sayang Fisha seperti El sayang mommy sama daddy dan Glandma," jawab Xaviel.
"Yaudah deh anak mommy gak usah sedih, Fisha'kan cewek jadi merasa bosan dan gak suka kalau main robot, anak cewek juga suka berubah mood jadi El jangan sedih ya. Mommy yakin Fisha juga suka main sama El cuma Fisha baru kenal dengan El jadinya agak ketus." Gracel berusaha membuat anaknya tidak menangis lagi.
Xaviel mengangguk lalu memeluk leher mommynya. "El bau gak mommy? El mau mandi."
Gracel menyipit hidungnya. "Benar bau," cecar Gracel menggandeng tangan Xaviel masuk ke dalam mansion.
Revandra mengangkat telfon.
"Ya?" tanya Revandra sambil berjalan masuk mengikut kedua orang tersayangnya.
"Apa tidak boleh di tunda? Minggu mendatang saya akan melangsungkan pernikahan," jawab Revandra.
"Baiklah akan ku pikirkan." Setelah mengucapkan, Revandra mematikan telfonnya lalu berdecak masuk ke kamarnya.
Tok tok!
"Siapa?" tanya Revandra berteriak.
"Aku mas."
"Masuklah sayang," ucap Revandra.
Gracel memutar kenop pintu dan masuk membawa nampan berisi susu.
"Mas mau kemana?" tanya Gracel saat Revandra membereskan pakaiannya ke dalam kopor.
__ADS_1
Revandra menoleh dan menghentikan aksinya lalu mendekat ke arah Gracel.
"Sayang pertama-tama mas minta maaf kalau nanti mas akan datang mepet di hari pernikahan kita," sahut Revandra nampak sedih sambil membela anak rambut kekasihnya.
Gracel mengerut bingung dan menyimpan nampan itu di atas meja.
"Apasih mas? Racel gak ngerti," cecar Gracel.
Revandra maju dan memeluk Gracel. "Mas akan keluar kota selama lima hari, otomatis mas akan mepet di hari pernikahan kita sayang, nanti gak ada yang temanin kamu mendesain acara," keluh Revandra.
Gracel berbalik dan menggalungkan tangannya di leher Revandra. "Gak apa-apa mas, di sini juga ada mami kok,"kata Gracel seraya mengelus surai sang kekasih.
"Tetap saja mas gak tega!" imbuh Revandra. "Gimana kalau mas gak usah pergi? Mas batalin aja," sarannya.
Gracel mengerucut bibirnya. "Jangan mas, ini pasti sangat penting, pergilah. Kamu tenang saja biar aku yang mengurusnya dan mami," tukas gadis itu.
"Yaudah manjain mas dulu," rengek Revandra menaroh kepalanya di pundak Gracel.
"Mas kaya anak kecil aja!"
"Biarin, Xaviel'kan sering di manjain sama kamu, sekarang geliran mas lah," gerutu Revandra mendudukkan Gracel di kasur lalu naik ke atas dan menidurkan kepalanya di paha gadis itu.
"Kaya bocil," ejek Gracel mengelus surai Revandra dengan lembut.
"Bocil kamu," jawab Revandra mendongak keatas lalu membelai pipi Gracel.
"Iya sayang," ucap Gracel menunduk membuat seluruh rambut Gracel tergerai di wajah lelaki itu. Dia mencium kening Revandra dengan agak lama membut Revandra geli.
__ADS_1