
Kanaya hanya mengangguk, lumayan lihat cowok tampan.
Mereka pun pergi, tanpa Kanaya tau kalau bukan Marro yang mengantar mereka malainkan Delon.
"Pagi, Nyonya bos," sapa Delon sopan tanpa melihat ke arah Kanaya.
"Udah siang Delon," ucap Gracel membuat pemuda itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, malu karena salah ucap.
Delon menaikan pandangannya dan terjatuh ke arah gadis di samping Gracel.
"Lo!" pekik mereka bersama membuat si bumil menatap mereka pergantian.
"Kalian saling kenal?" tanya Gracel.
"Gak!" jawab mereka bersama lagi.
Gracel hanya tersenyum dan masuk ke dalam mobil, tak lupa menarik tangan Kanaya yang menatap sinis ke arah Delon.
"Nyonya bos mau kemana?"
"Ke mall," seru Gracel membuat lelaki itu mengangguk dan menjalankan mobil.
Kanaya menatap keluar jendela dengan wajah di tekuk. Bisa-bisanya di hari dia bisa bersama dengan sahabatnya, dia bertemu dengan cowok rese yang pernah membuatnya kesal di rumah sakit.
"Nay," panggil Gracel membuat Kanaya berdehem keras.
"Kok malah tekuk-tekukan, padahal tadi kamu yang paling ceria," bisik Gracel.
"Bentar ku ceritain," bisik balik Kanaya.
Delon yang melihatnya di pentulan kaca hanya mengerutkan keningnya.
Sesampainya mereka di mall, Kanaya lebih dulu turun dan menutup pintu dengan sangat keras membuat si bumil tersentak kaget.
"Naya." Gracel geleng-geleng, ternyata sahabatnya itu belum bisa mengubah sikap bar-barnya.
"Makasih ya Delon, kalau kamu ada urusan kamu kerja in aja dulu gak usah ikut. Nanti kalau dah selesai aku akan menelfon mu," jelas Gracel pada ajudan sang suami.
"Bos udah nyuruh saya tetap mengikuti kemana Nyonya bos pergi," tolak Delon.
"Yaudah deh serah kamu, tapi jangan ngeluh ya kalau kami lama?"
Delon mengangguk. Mereka pun masuk bersama ke dalam Mall.
"Acel sini deh," teriak Kanaya membuat Gracel menuju ke arahnya.
"Lihat lucu bangetkan?" tanya Kanaya memegang baju bayi.
Gracel mengangguk dan mengambil baju bayi itu, bentuknya sangat mungil, tanpa sadar dia tersenyum. Membayangi anaknya memakai pakain itu pasti sangat amat mengemaskan.
"Mau beli?" tanya Kenaya.
__ADS_1
Gracel menggeleng. "Nanti aja deh, pas usia kandunganku 9 bulan," ucap Gracel.
Kanaya pun menyimpan baju bayi itu kembali ke tempatnya dan berjalan.
Gracel masuk kepakaian lelaki, dia memilihkan pakaian buat suaminya. Sejak menikah dia belum membelikan sesuatu untuk suaminya itu.
"Kanaya pakain yang cocok buat laki-laki kaya mas Revan gimana?" tanya Gracel pada sahabatnya, dia sangat bingung memilihkan pakaian buat Revandra.
Kanaya yang mempunyai selera yang luar biasa, dia memilih dan mengambil satu pakaian yang tergantung.
"Yang ini gimana?" tanya Kanaya.
Gracel mengambilnya, dia mengamati pakaian itu dengan seksama. Si bumil menggeleng membuat Kanaya menyimpan kembali pakaian itu dan lanjut mencari.
Sekitar empat pakaian yang di tolak Gracel, akhirnya dia menemukan pakaian yang cocok buat sang suami.
Mereka pun membelinya, Gracel mengambil ukuran L. Badan Revandra memang agak kurus karampe.
"Lo gak mau couple ma gue?"
"Couple apa?" tanya Gracel.
Kanaya mengambil tas yang sama, mengelurkan ke arah Gracel. Gracel pun hanya mengangguk.
Setelah selesai berbelanja mereka membayarnya di kasir.
Delon mengambil barang-barang yang di pegang Gracel, dan Kanaya. Walaupun gak ikhlas menolong Kanaya. Namun, dia juga harus terlihat amanat pada sang majikan dan temannya.
*************
Gracel menyimpan semua barang belanjanya di sofa yang ada di dalam kamar dan berbaring di kasur.
"Duh capek juga ya pergi-pergi, tapi seru," ucapnya membuka ponselnya. Sangat bosan rasanya saat tak ada yang menemani, Xaviel belum pulang sekolah sedangkan suaminya masih sibuk kerja.
"Baby kamu lapar gak?" tanyanya mengusap perut buncitnya. Dia beranjak bangun dan keluar untuk mengisi perut, kasian anaknya kalau gak makan.
Setelah selesai makan dia merasa sangat bosan, dan menyuruh para art di dekatnya sekedar menemaninya duduk.
"Sayang, daddy sama abangmu lama banget pulangnya, mommy bosan," gumam Gracel.
Lagi asik-asiknya mengelus perut buncitnya tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Mommy."
Gracel menoleh dan tersenyum melihat putranya berlari ke arahnya.
"Aduh nak mommy," seru Gracel mendudukan anaknya di sampingnya.
Para art pergi dari sana saat melihat Revandra.
Revandra duduk di samping sang istri dan mengecup pucuk kepalanya.
__ADS_1
"Mas lama ya?" tanya Revandra.
Gracel menoleh dan mengangguk. "Padahal tadi Naya ajak aku jalan, tapi masih bosan mas," keluhnya.
"Maaf ya," ucap Revandra seraya mengelus perut buncit sang istri.
"Halo dedek, abang El udah pulang. Dedek gak sedih lagikan? Maaf ya abang El tadi sekolah makanya gak bisa temanin dedek sama mommy," ucap Xaviel memegang perut mommynya.
Gracel dan Revandra saling tatap dan terkekeh melihat Xaviel.
"Gak papa, abang," balas Gracel membuat suaranya seperti bayi.
Xaviel memeluk mommynya.
"Sini lepasin dulu dasinya, kaya kecekek," pinta Gracel melepaskan dasi anaknya agar tidak kecekek. "Perasaan mommy pasang yang benar deh," gumam Gracel.
"Tadi di sekolah, Fisha ma Alya bertengkar terus aku pisahin, malah mereka tarik dasi aku. Terus mereka bertengkar lagi buat pasangin dasi El, jadi dari pada ribut. El pasang sendiri asal-asalan," jelas Xaviel.
"Lihat anakmu mas, jadi bahan pertengkaran," imbuh Gracel menyenggol lengan sang suami.
"Kan anak aku ganteng, makanya pada di rebutin," bisik Revandra pada istrinya.
"Auah, kalau El udah besar jadi bingung mau milih siapa. Soalnya sama-sama cantik."
"Yaudah, setelah dedek lahir kita buat lagi anak cowok biar mereka gak bertengkar," tempal Revandra.
"Is, kamu tuh ya omes," ketus si bumil.
Revandra menggendong putranya masuk ke dalam kamar, di belakang di ekori oleh sang istri.
"Mas cobain ini deh, tadi aku beliin buat kamu," ucap Gracel memberi paperbang buat suaminya.
"Kalau buat El mana?" tanya Xaviel yang memegang ujunh dress Gracel.
Gracel mengambil satu paperbang lainnya. "Yakali, mommy lupa sama anak mommy," ucap Gracel.
"Wah, baju ultramen,"seru Xaviel berlari keluar kamar.
"Gimana mas?"
"Bagus sayang," jawab Revandra duduk di tepi ranjang.
Gracel ikut mendekat lalu duduk. "Kamu capek?" tanya Gracel memijat tengkuk sang suami.
Revandra hanya berdehem. "Pengen di urut ples ples sama kamu," ucap Revandra melirik lalu menaik turunkan alisnya.
"Hem." Gracel menggalungkan tangannya di leher sang suami.
"Mau di ples ples gaya gimana?"tanya Gracel menggoda. Bahkan dia menggigit bibir bawahnya membuat suaminya itu tergoda.
"Gaya gimana pun aku terima sayang," bisik Revandra menidurkan Gracel.
__ADS_1
Gracel mencium pipi Revandra dan bibirnya. "Udah ah masing siang," kelitnya mendorong Revandra menjauh dari atasnya.