Mommy Untuk Anak Duda

Mommy Untuk Anak Duda
Part 72 ~Mommy Untuk Anak Duda~


__ADS_3

Gracel memijit tengkuk leher suaminya, lelaki itu sudah tak berdaya. Roti yang di makan tadi pagi sudah keluar semua, sekarang dia belum makan apapun.


"Sini bobo," pinta Gracel. Revandra pun menurut dan tidur di pangkuan istrinya.


"Kasian suami aku," imbuh Gracel membelai surai sang suami. "Makan gula-gula mau? Besok kita beli madu biar mas makan madu itu," lanjut Gracel, mereka memang tak ke rumah sakit, karena ke rumah sakit Gracel juga pun akan tau jawaban dokter.


Rrevandra kali ini sangat teriksa, saat Xaviel di kandungan dia tak begitu tersiksa karena mendiang hanya meminta bermanja-manja dan hanya kadang muntahnya, kebanyakan ke ngidam aja. Namun kehamilan Gracel ini beda untuknya, tapi dia tetap akan berusaha demi sang buah hati.


"Sayang," rengek Revandra.


"Kenapa mas?"


Revandra menggeleng dan berbalik badan ke arah perut Gracel, dia memeluk pinggang tersebut berusaha mencari kenyamanan.


"Mas, kita belum memberi tau mami dan papi loh tentang berita bahagia ini," sahut Gracel. "Papi udah berangkat ke LN ya?" tanya Gracel.


Revandra mengangguk. "Yaudah, kamu telfon aja sayang, mami akan ke sini besok kalau kamu menelfonnya. Kalau kita ke sana gak mungkin," ucap Revandra.

__ADS_1


Gracel meraih ponsel suaminya yang di ada di atas nakas dan mulai ingin menelfon mertuanya.


Namun tiba-tiba sang empuh malah menelfon duluan.


"Mami telfon duluan, dad," seru Gracel.


"Angkat sayang, speaker," pinta Revandra, Gracel pun mengangkat sambungan telfon.


"Hal-" Belum sempat mengucapkan, Rani sudah berbicara lebih dulu.


"Nak Revan, cepat ke rumah sakit mama kamu kritis. Dia terus memanggil nama mu. Datanglah walaupun kamu tidak menyukainya, tapi jangan sampai kamu menyesal. Siapa tau ini pesan terakhir buat kamu sayang," tutur Mami Rani.


"Apa!" kelit Revandra.


"Datang Revan, demi mami," perintah mami yang sudah cemas di sana. Walaupun kakaknya itu sudah kerlaluan. Namun tetap saja dia dan Rena adalah sodara, sedarah. Ikatan kakak beradik tak akan pernah putus bagaimana permasalahan di antara mereka.


Revandra menoleh ke arah istrinya. Gracel yang di tatap mengangguk.

__ADS_1


Revandra pun memakai pakaian koas serta hoodienya.


"Mas aku ikut," sahut Gracel.


"Kamu di rumah aja sayang, Mas akan segera pulang," cegah Revandra mengecup singkat kening istrinya. "Kek kamar Xaviel lah dulu, nanti mas akan ke sana kalau mas udah balik, ok?"


"Tapi hati-hati mas, beri aku kabar," ucap Gracel membuat Revandra mengangguk dan pergi menggunakan motor sportnya agar cepat sampai.


Beberapa menit akhirnya Revandra sampai di rumah sakit di mana mamanya di rawat. Lelaki itu buru-buru memasuki ruang ICU setelah memakai baju steril.


Revandra mendekati brankar sang mama, di mana wanita paruh baya itu di pasangkan berbagai alat medis di tubuhnya. Peluru yang ada di kepalanya sudah tersebar di seluruh tubuh membuatnya susah pulih.


Revandra seakan ingin meneteskan air matanya. Sejahat-jahatnya wanita di depannya dia tetaplah ibunya, melahirkannya, dia yang mengandungnya selama sembilan bulan, melewati rintangan memprtaruhkan nyawa demi dia hadir di dunia.


Rena sebenarnya ibu yang baik, orang yang begitu mulia. Dia cuma ingin kasih sayang dan merasakan gimana rasanya berperan menjadi ibu hanya saja cara memintanya salah. Padahal kalau dia hanya meminta itu semua Revandra akan melakukannya dengan rela tanpa pemaksaan. Tidak harus berusaha melenyapkan orang terdekatnya.


"Mama," ucap Revandra menggenggam tangan ibunda. "Revan di sini, bertahanlah Revan akan memaafkan mama, tapi Revan mau mama memperbaiki kejahatan yang mama buat," lanjut anaknya.

__ADS_1


"Mama pasti mendengar Revan kan? Bertahanlah, sebentar lagi mama akan mempunyai cucu lagi. Revan janji bahwa setelah mama pulih mama akan merasakan gimana menjadi seorang ibu." Revandra melap air mata Rena yang menetes di kedua sudut matanya.


"Tapi janji ya, setelah ini mama akan berubah." Revandra mencium puncak kepala sang mama dengan tulus seraya meneteskan air mata."Revan benci mama, tapi Revan juga sayang sama mama."


__ADS_2