Mommy Untuk Anak Duda

Mommy Untuk Anak Duda
Part 64 ~Bck lima tahun yang lalu~


__ADS_3

Fllbck lima tahun yang lalu


"Kak Keenan gak bisa pulang makan siang?" tanya Irana sambil menyesui baby El.


"Gak bisa, hanny. Kakak lagi sibuk," jawab Revandra dari seberang sana.


"Yaudah, aku bawain bekal ke sana?"


"Gak usah, biar kakak makan di luar aja. Kamu di rumah jagain El, gak usah repot-repot ok?"


"Tapi kak, aku udah nyiapin sarapan buat kamu. Kasian kalau gak di makan."


Revandra nampak diam di seberang telfon. "Gak ngerepotin? Baby El kamu bawa?" tanya Revandra.


"Gak kak, aku titipin ke mbak Sri," jawab Irana.


"Ok, kakak tunggu," ucap Revandra memberi kecupan dari seberang sana membuat Irana geli.


Usai saling telfon dengan sang suami, Irana menyium Baby El dengan gemass. Bayi itu sangatlah mengemasskan.


"Baby El, Mommy antar bekal dulu ya ke kantor daddy. El gak boleh rewel, ya?"


Irana keluar dari kamar sambil menggendong anaknya. "Mbak Sri," teriak Irana pada art.


"Iya Nyonya," sahut Sri yang datang.


"Aku titip baby El, boleh?" tanya Irana.


"Tentu boleh, Nyonya." Sri mengambil ahli El dengan pelan-pelan.


"Hati-hati iya, Mbak,"peringat Irana di angguki Sri.


Irana berjalan ke arah dapur menyiapkan makanan ke dalam kotak kecil yang akan dia bawa ke kantor sang suami.


Dia kembali masuk ke dalam kamar untuk mengias diri. Dia tersenyum menambah kecantikan di wajahnya. Usai mengias diri, akhirnya pun memulai perjalanan ke kantor paksu.


...My Husband....


^^^(Foto)^^^


^^^"Udah cantik kak?"^^^

__ADS_1


"Cantik, cantik bagaikan bidadari 😍💗."


Irana tersenyum dan menyimpan kembali ponselnya.


"Kenapa, Mang?" tanya Irana melihat supir kelihatan panik.


"Ini, Nyonya remnya blon," jawab Mang Sapri.


"Kok bisa?" Irana juga mulai ikutan panik.


"Lompat Nyonya, lompat," pinta Mang Sapri pada majikannya.


"Tap-"


"Lompat, Nyonya!"


Sapri membukan pintu, Irana pun mau tak mau lompat turun.


"Arrkk," ringisnya saat kaki dan tangannya tergores aspal.


"Ayah, awas," teriak seorang gadis berusia 17-Tahun saat melihat kedepan.


"Gracel, Bunda lompat!" pinta Ayah Gracel. Namun kedua wanitanya tak ada yang ingin lompat.


Mobil yang di tumpangi Irana terlempar ke dalam jurang, sedangkan mobil ayah Gracel tertinggal di sela jurang.


"Keluar Gracel," pinta kedua orang tuanya, membuka pintu.


Gracel menggeleng, dia lebih baik tiada bersama orang tuanya.


Tiba-tiba ada yang menarik tangannya dari luar. "Ayo," ajak Irana.


Gracel melepaskan tangannya saat mobil sudah tak seimbang, bersamaan dengan jatuhnya mobil. Irana cepat-cepat menarik dengan kuat tangan Gracel sehingga terserek keluar.


"Ayah, Bunda," teriak Gracel saat mobil ayahnya terjatuh ke jurang.


Gracel seketika menjerit, menangis sejadi-jadinya melihat mobil ayahnya meledak.


Irana memeluk tubuh Gracel dengan erat. "Maaf," ucap Irana membuat Gracel menoleh dengan dada naik turun.


"Maaf buat apa?"

__ADS_1


"Aku tak bisa membantu menaikan orang tuamu, dan mobilku yang membuat seperti ini," jawab Irana.


Gracel terduduk sambil air mata terus berlinang. Irana ikutan duduk.


"Siapa namamu?" tanya Irana mengelus bahu Gracel.


"Racel."


Irana mengulurkan tangannya. "Aku Irana, aku akan tanggung jawab atas ini semua. Ini ulahku," ucapnya.


Gracel berbalik ke samping lalu menggeleng. "Bukan kakak yang salah, ini udah takdir," jawab Gracel menerima uluran tangan Irana.


Saat ingin menelfon polisi, tiba-tiba Irana mendengar jeritan Gracel.


Bruk.


"Arkk," jerit Gracel ambruk saat ada yang memukul kepalanya dan menyuntingnya.


"Racel," pekik Irana membelalak.


Irana berdiri saat melihat mertuanya serta bawahannya.


"Jangan mendekat," cegah Irana dan terus mundur.


sert!


"Aw." Irana memegang perutnya yang di hantam pisau depan, belakang.


Irana terduduk sambil batuk-batuk mengeluarkan cairan darah dari dalam mulutnya.


Irana melempar arloji yang dia gunakan pada Gracel sebelum di bawa pergi.


Gracel mengenggan arloji itu sebelum tak sadarkan diri.


"Buang!" pinta wanita paruh baya pada suruhannya untuk membuang Irana ke dalam jurang bersama dengan mobil yang sudah terbakar.


"Mah jangan," cegah Irana yang mulutnya penuh darah.


"Buang!"


Kedua pria bertubuh kekar itu dengan perlahan berusaha mendorong Irana turun.

__ADS_1


"Tidak."


Rena tersenyum miris melihat menantunya terjatuh ke dalam jurang. "Good bye menantuku tersayang." Rena melambaikan tangannya.


__ADS_2