
Revandra menggendong anaknya yang sudah di gantikan pakaian. Di bawakan oleh Delon.
Delon mencari keberadaan majikannya untuk memberitahu sebenarnya. Namun, sepertinya saat ini majikannya sedang berada di dalam musibah, dia tak ingin setelah memberi tau Revandra semakin pening. Lebih baik dia menyimpannya sampai keadaan membaik.
Revandra mondar-mandir menidurkan anaknya yang masih sesengukan. Sudah sejam menunggu di depan ruang darurat. Namun, tak ada tanda-tanda dokter selesai memeriksa Gracel, bahkan lampu ruangan masih berwarna merah.
Revandra menepuk pundak sang anak dengan lembut.
"Mommy," gumam Xaviel masih memanggil mommynya padahal matanya sudah tertutup.
"Mami dan papi pulanglah, kau juga Delon," sahut Revandra.
Mereka menggeleng. "Mami dan papi gak akan pergi, kalau tidak mengetahui kondisi menantuku," ucap Mami Rani.
"Nyonya besar pulanglah bersamaku membawa El, anak-anak tidak terlalu baik berlama-lama di rumah sakit," ucap Delon.
Revandra mengangguk begitupun dengan Papi Kenzo.
Akhirnya Mami Rani setujuh, dia mengambil ahli cucunya.
Revandra melepaskan jaket yang di gunakan lalu memakaikan di tubuh sang anak.
"Delon hati-hati, angin malam bisa membuat El sakit," peringat Revandra.
Delon mengangguk.
"Beritahu Mami, kalau sudah ada pemberitahuan," pinta Mami Rani.
__ADS_1
Revandra hanya mengangguk. Sebelum benar-benar pergi, Revandra memberi kecupan di pipi putranya.
"Sini duduk, jangan gusarin pikiran kamu. Tetaplah berfikir positif," ujar Papi Kenzo membuat anaknya menurut dan duduk di sampingnya.
Lelaki yang baru saja mendapatkan gelar pengantin baru itu, memijit hidungnya merasa pening.
Ceklek!
Sekian lamanya menunggu akhirnya pintu ruangan terbuka. Revandra maupun Kenzo berdiri.
"Gimana keadaan istri saya, dok?" tanya Revandra was-was.
Dokter itu membuka maskernyanya. "Alhamdulillah kami sudah berhasil mengeluarkan tiga peluru dari tubuh pasien. Ini peluru sangat amat membunuh. Namun nikmat lilahi lah yang membuat pasien selamat dari peluru tersebut mungkin kalau orang lain mengalaminya sudah menghambuskan nafas terakhir. Pasien sangat kuat, dia sangat hebat, bisa melawan," jelas dokter. "Tapi... Pasien masih kritis saat ini, kami membutuhkan secepatnya tambahan donor darah. Pasien mengeluarkan banyak darah apalagi di bagain kepala yang terdapat satu peluru. Pasien termasuk golongan darah AB, di rumah sakit sudah kehabisan stok. Saya meminta kepada kalian untuk segera mencarikan darah sebelum pasian semakin kritis."
Setelah menjelaskan tersebut. Dokter itu pergi dari sana.
Revandra mondar-mandir sambil menunggu ada yang menghubunginya.
"Kak, bukannya di sana daddynya Xaviel, bukan?"
Lelaki yang sudah sebentar lagi menjadi ayah dua anak itu menoleh. "Sepertinya."
"Kak Altar, ayo coba samperin."
Ternyata mereka kedua orang tua Fisha.
"Pak Revan," panggil Altar membuat lelaki yang kala kabut itu menoleh.
__ADS_1
"Ada apa ini?"
Revandra menghela nafas. "Istriku sedang kritis di dalam pak Altar. Dan mencari donor AB,"jawabnya.
"Innalilahi," ucap sepasang suami istri itu bersama.
"Golongan darah ku AB," ucap Aisha.
"Tapi kamu sedang hamil, Sha," timpal Altar.
Revandra yang tadinya sedikit ingin tergelakan kembali terpuruk.
"Emang gak bisa kak, sedikit saja? Kasian bu Gracel," keluh Aisha merasa kasihan.
Altar menggeleng. "Gak baik,"jawabnya.
Aisha seketika merasa gagal menbantu seseorang. "Maafin aku pak, tidak bisa membantu padahal golonganku sama." Aisha sedikit bersalah tak bisa membantu.
Revandra tersenyum tipis. "Anda sedang hamil, ibu hami memang tak baik mendonorkan darah. Biar saya mencari seseorang," ucap Revandra berusaha tidak membuat wanita hamil itu merasa bersalah.
"Semoga istri pak Revandra segera membaik. Saya juga akan membantumu mencarikan donor darah AB, nanti saya tanyain ke temanku yang memilik golongan darah AB," imbuh Altar.
"Makasih pak atas bantuannya," kata Revandra.
Mereka berdua mengangguk. "Kalau begitu saya gak bisa lama-lama di sini, Fisha sendiri di rumah."
Revandra mengangguk tak lupa saling tos dengan rekan kerja. Hubungan mereka semakin dekat saat Fisha dan Xaviel berteman.
__ADS_1
"Revan, bukannya mamamu golongan darah AB?" tanya Kenzo membuat Revandra menoleh ke arah papinya.