
Revandra langsung memeluk istrinya.
"Siapa Lita? Siapa mas?" tanya Gracel berkacak pinggang melepaskan pelukan suaminya.
Dia sudah mengambil ancang-ancang untuk memberi pelajaran pada suaminya.
"Sayang, jangan salah paham dulu. Jadi gini pas waktu itu aku jengukin mama, aku gak sengaja menabraknya saat jalan pulang, aku tanggung jawab dong. Katanya dia di usir dari kontrakannya dan tidak tau harus tinggal di mana. Mas'kan merasa ibah dan membantunya, mas suruh dia tinggal sementara di apartemen sampai dia mencari kerjanya, mengontrak," jelas Revandra meraih tangan istrinya.
"Benar? Mas gak main'kan di belakang aku?"
Revandra langsung menggeleng.
"Yang cantikan siapa? Aku atau dia?" tanya Gracel dengan tatapan tajam.
"Cantikan istri mas lah," jawab Revandra jujur.
"Bohong!" kelit Gracel. "Mas bohong, jelas cantikan dialah, orang dia langsing lah aku bulat. Pastinya mas akan tertarik.
"Apasih ngomongnya, mas gak akan gitu." Revandra berkata jujur.
"Benaran loh sayang, suer," bujuk Revandra saat istrinya sudah berkaca-kaca.
"Buktinya apa?"
"Ya buktinya aku nikahin kamu bukan dia, aku nanam benih aku di perut kamu bukan di perut dia. Aku manja sama kamu bukan sama dia. Aku jelasin ke kamu."
"Masa, Racel gak percaya," ucap Gracel memicingkan matanya.
__ADS_1
Revandra mengangguk. "Jangan marah sayang, mas benaran gak ada apa-apa sama dia, aku cuma niat membantunya."
"Dulu juga mas, cuma niat membantuku," imbuh Gracel. "Sekarang apa?"
"Kan beda, dulu itu kamu yang membuat aku Benar-benar jatuh cinta dan tidak akan tergantikan," jawab Revandra dengan dramatis.
"Sama aja, nanti juga kamu kaya gitu sama dia."
"Gak sayang, yaudah deh mas angkat tangan. Kamu aja yang membantu dia jangan mas." Revandra hanya bisa pasrah.
"Yaudah, muka mas mau aku make up in," timpal si bumi memanyunkan bibirnya. "Gak boleh nolak, kalau nolak berarti memang mas gak sayang sama aku dan dedek."
Revandra menghela nafas. "Serah kamu sayang, yang penting membuat mu bahagia," jawab Revandra pasrah.
Dengan berbinar, Gracel turun dengan susah payah dari ranjang untuk mengambil alat make upnya.
Revandra menghembuskan nafas kasar lalu memenyamkan mata saat istrinya mulai memakaikannya bedak di wajah. Entah apa nanti bentuk wajahnya.
"Pokoknya mas gak boleh ganteng," ucap Gracel. "Mas gak boleh tebar pesona."
Bumil itu kelihatan kegirangan, dan sekali-sekali tertawa kecil.
Gracel memotret beberapa kali wajah sang suami yang sudah ia hias ala dirinya sendiri, padahal dirinya tidak tau make up. Taunya memakai sabun cuci muka dan bedak pencerahan saja.
"Udah," sahut Gracel membuat Revandra langsung bangun dan melihat wajahnya yang sudah persis ondel-ondel.
__ADS_1
Dia hanya menghela nafas tanpa mau protes, dia tidak ingin lagi membuat si bumil ngereog.
"Lucu gak?" tanya Gracel yang memegangkan cermin buat suaminya.
Revandra hanya mengangguk. "Lucu saking lucunya aku gak bisa berkata-kata," batinnya. "Lucu banget sayang," jawab Revandra tersenyum. Namun dia menutup matanya saat butiran bedak jatuh ke kelopat matanya.
"Kenapa mas?"
"Mata mas pedih," jawab Revandra mengejapkan matanya.
Gracel mendekati suaminya dan melap bedak yang terdapat di sudut mata sang suami, dia meniumnya.
Revandra mengintip dan menaikan sudut bibirnya, dia menarik pinggang istrinya mendekat ke perut kotak-kotaknya.
Gracel terlihat begitu fokus sehingga tidak memperhatikan suaminya yang mencari kesempatan dalam kesulitan.
"Arkk." Gracel memukul tangan suaminya yang sudah menjajah di dalam pakaiannya. "Ngapain, ha?"
"Ngak ngapain-ngapain," jawab Revandra menaikan tangannya.
Gracel hanya mencibikan bibirnya dan memeluk tubuh Revandra.
"Istri mas mau apa lagi?"
"Mau ayam bakar," jawab Gracel.
"Yaudah, ayo kita cari dagingnya terus kita bakar ayam sama yang lain."
__ADS_1
Gracel menggeleng. "Aku maunya, ayam tetangga, mas yang tangkap ya ayamnya. Ayam tetangga sebelah, dia banyak ayamnya, aku ngiler mau bakar satu," ucap Gracel menatap lelaki itu memohon.