
London, United of Kingdom.
Musim gugur telah tiba. Banyak pohon pohon yang merontokkan daun-daunnya hingga berserakan di tanah. Angin musim gugur berembus pelan.
Tampak gadis dengan rambut kuning secerah mentari itu membuka surat yang dilipat membentuk burung bangau di atas mejanya. Kertas itu berwarna putih dan sewangi bunga sakura. Ciri khas Masaya Fujimine. Pemuda kebangsaan Jepang yang tiga tahun lalu mendapat beasiswa ke Inggris dan tergabung dalam klub sepak bola di sana.
Dengan hati-hati gadis cantik itu membuka lipatan demi lipatan hingga akhirnya ia dapat membaca dengan jelas isi surat itu.
*My dear Kyoko Hasekawa
Saat kau membaca surat ini, aku sudah meninggalkan London. Mungkin untuk selamanya.
Terima kasih untuk semuanya. Aku sangat bahagia bisa mengenalmu. Meski hanya tiga tahun, tapi ... aku sangat bersyukur karena bersamamu, aku bahagia. Sungguh aku sangat senang.
Kyoko, aku benci perpisahan ini, tapi aku tak bisa menghalangi semuanya. Aku terlalu lemah untuk menghadapinya. Namun pada akhirnya, aku kalah dengan takdir. Ada hal yang baru aku sadari, yaitu ... ada sesuatu yang tidak bisa aku dapatkan selama apa pun aku berusaha.
Kyoko, maafkan aku.
Masaya Fujimine*
Kyoko tersenyum hambar, hatinya terluka. "Bodoh," ucapnya lirih. Gadis itu mencengkram kuat-kuat kertas yang dipegangnya hingga berkerut. "Masaya, kau benar-benar bodoh!"
Gadis bermata ceria itu menangis sesegukan di atas tempat tidur. Dia sendiri tidak tahu kenapa ayahnya sangat membenci Masaya. Dia ingin bertanya, tapi tak berani karena selama ini ia menjadi anak yang penurut. Kenangannya bersama Masaya bagai ilusi.
Perlahan Kyoko bangun lalu menuju jendela. Ia mematap nanar langit yang begitu cerah. Musim gugur yang menyakitkan.
🍓🍓🍓🍓
SMA Seika Jogakkan merupakan sekolah elit dan besar yang terletak di pusat kota Tokyo. Bagunannya berdiri megah, mewah dan tak lapuk usia meski sudah lama berdirinya. Sekolah paling bagus nomer satu di ibu kota tersebut masih kokoh tak tersentuh.
Sosok remaja 17 tahun dengan rambut pirang secerah mentari sedang membasuh mukanya dengan air segar. Dialah Ryu Hikaru, murid lelaki yang kehadirannya menjadi most wanted semenjak kemunculannya sebagai murid baru dua tahun yang lalu. Lama dia termenung memikirkan kekasihnya, Miku Higashiyama yang sedang duduk sendiri menatap pertandingan sepak bolanya. Namun, remaja bermarga Hikaru itu tahu, sang pujaan hati tak menikmati aksinya tadi, karena mata gadis itu terlihat berbeda.
Pandangan matanya lain dan terlihat kosong. Sejenak remaja itu menghela napas panjang kemudian mendekati gadis berambut hitam lurus tersebut.
Rupanya sang juara paralel itu tidak menyadari kehadiran sang kapten sepak bola di SMA Seika Jogakkan.
Ryu menatap wajah kekasihnya lekat-lekat, "Miku," panggilnya dengan khas suara berat.
Sepi tak ada jawaban yang keluar dari mulut gadis manis itu. Tatapan matanya masih sama. Kosong.
"Miku Higashiyama!" Kali ini suara Ryu lebih keras sambil menepuk bahunya pelan.
"Eh, Hi-Hikaru. A-ada apa?" tanya gadis itu gugup dan kaget.
"Dari tadi kuperhatikan kau melamun terus," ujar remaja itu. Meski sudah lima bulan berpacaran, Miku masih saja memanggil Ryu dengan nama marganya bukan memanggil nama kecilnya layaknya remaja lainnya yang berpacaran.
"I-itu ...." Miku terdiam, ia menggigit bibir bawahnya pelan. Kedua tangannya saling bertaut. Takut.
Ryu duduk di sebelahnya, lalu berkata, "Awalnya, aku juga
mengkhawatirkanmu sampai aku tak bisa tidur, tapi aku melakukannya karena aku benar-benar mencintaimu." Wajah remaja itu terlihat putus asa.
__ADS_1
Miku menyandarkan kepalanya pada pundak remaja bermarga Hikaru tersebut yang selalu menjadi pembicaraan teman-teman satu sekolah. Terutama teman perempuannya. Seisi sekolah tahu kalau mereka berpacaran, dan sepertinya Ryu benar-benar jatuh cinta pada gadis pendiam dengan sorot mata yang sayu ini.
Ryu sangat playboy, hampir semua gadis cantik di sekolahnya pernah menjadi pacar. Namun sayangnya, dia cepat bosan dan tak ada satu minggu sudah putus. Pada Miku ... tidak, dia sungguh mencintai gadis bermata sayu ini.
"Hikaru, apa kau selalu seperti itu pada mantan-mantan pacarmu?" tanya Miku pelan.
Sudut bibir Ryu terangkat membuat garis indah di bibirnya. "Kenapa?"
"Jujurlah, aku tidak akan marah."
"Aku melakukan hal itu hanya pada mantan pacarku yang pertama dan kau. Seperti yang kau tahu, aku menghabiskan masa kecilku hingga SMP di Kanada. Hal seperti itu sudah
biasa terjadi pada remaja sepertiku."
"Tapi aku bukan gadis seperti itu." Miku mengingatkan. Suaranya begitu terluka.
"Ya, aku tahu. Miku, apa kau membenciku?" Ryu menatapnya dengan penuh pertanyaan, entah kenapa dia takut sekali kalau Miku akan membencinya. Gadis berponi itu hanya diam. Ryu menyentuh kedua pundak kekasihnya pelan. "Miku, aku ...."
"... aku hanya takut," ucapnya pelan, gadis itu menggigit bibirnya.
Remaja setinggi 184 senti itu dapat menangkap kecemasan yang luar biasa pada diri kekasihnya. Ya, Miku bukanlah Keyrin. Keyrin adalah mantan pacar dan cinta pertama Ryu ketika masih tinggal di Kanada.
Keyrin Baldere, putri pengacara hebat yang cantik dan cerdas. Dialah gadis pertama yang membuat Ryu bertekuk lutut di hadapannya sekaligus yang sudah menjadikannya seorang playboy.
Keyrin-lah yang pertama kali mengajaknya kencan. Dari sana kelakuan buruk Ryu dimulai hingga akhirnya remaja labil itu melihat sendiri kalau kekasihnya tidak hanya pernah tidur dengannya. Puncaknya ketika ulang tahun Keyrin yang ke 17, dara berambut merah itu memutuskan hubungan dengan Ryu dan memilih pemuda lain.
Sejak saat itu Ryu benci dan tak percaya pada perempuan. Ia menjadi playboy, tak peduli gadis itu lebih tua atau pun lebih muda darinya, pasti ia jadikan target pelampiasan kekecewaannya. Tak ada kata cinta dalam kamus hidup seorang Ryu Hikaru.
Namun, kehidupannya berubah saat ia mengenal Miku Higashiyama, awalnya pemuda penggila sepak bola itu memang ingin menjadikan gadis bermata sendu itu sebagai target berikutnya. Dia ingin menyelami hati yang dianggapnya menarik.
Namun, satu kesalahan terjadi, Ryu benar-benar jatuh cinta pada putri sulung keluarga Higashiyama itu.
Ryu menyentuh pipi kekasihnya. "Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf."
Miku cuma bisa diam. Semua sudah terjadi dan tak bisa meminta waktu untuk diulang kembali. Gadis itu menunduk. Hatinya sakit.
Ryu semakin merasa bersalah. Ayolah Miku, maafkan aku, jangan diam seperti itu. Kau tahu itu sangat menyiksaku. Lebih baik kau memukulku, memakiku atau menamparku karena itu lebih baik daripada kau diam seperti itu. Miku ... aku mohon bicaralah ... batin remaja bermata shapire cerah itu semakin gelisah.
"Aku maafkan," bisiknya pelan.
"Benarkah?" Suara remaja itu terdengar kaget dan senang.
Miku mengangguk datar tanpa
senyum.
Begitu mendapat kata maaf dari sang kekasih, Ryu memeluknya senang. Si sulung Higashiyama itu cuma diam walau hatinya masih sakit dengan kejadian semalam.
Miku sangat lemah terhadap wajah Ryu yang sedih, apa pun yang dilakukan kekasihnya, ia tak bisa membencinya. Karena Miku juga mencintai pemuda super tampan ini.
Padahal semalam gadis itu menangis. Dia syok menyadari dirinya sudah tidur dengan Ryu. Dengan mudahnya ia menyerahkan hal yang paling berharga miliknya, yang ia jaga dan ia junjung tinggi kehormatan keluarganya selama ini.
__ADS_1
Akan tetapi ... Miku kalah. Semua terjadi begitu saja. Itu karena Ryu punya kekuatan magnet tersendiri untuk menarik hatinya. Miku menyerah. Dia tersihir akan kelakuan dan kata-kata remaja super tampan itu.
"Aku akan terus melindungimu dan tidak akan meninggalkanmu. Percayalah," janji Ryu meyakinkan.
🍓🍓🍓🍓
Masaya meletakkan bunga di atas makam yang bertuliskan 'Eriko Matsukaze'. Di samping makam tersebut juga tertulis dua marga yang sama, tapi sudah terlihat lama. "Kento Fujimine dan Kaoru Fujimine'. Dua makam itu adalah makam kedua orang tuanya yang meninggal saat Masaya masih kelas 1 SD karena kecelakaan pesawat. Sementara makam Eriko baru satu bulan lalu.
Eriko merupakan adik Masaya yang meninggal karena menderita leukimia. Anak perempuan itu diadopsi paman dari pihak ibunya sejak masih balita, Kagami Matsukaze. Sejak kematian kedua orang tuanya, adik Masaya diasuh Kagami, sedangkan Masaya hidup bersama kakeknya. Hayato Fujumine.
Tanpa berkata-kata, pemuda itu meninggalkan makam keluarganya dengan raut wajah yang sedih. Hampir empat bulan Masaya berada di Tokyo, walau begitu dia masih belum bisa
melupakan gadis bermata ceria itu. Dia sadar, tidak mudah melupakan gadis yang selalu memberinya semangat saat masih di Inggris dulu. Biar bagaimana pun hal yang harus ditanamkan di hatinya hanya satu, yaitu, Kyoko bukan jodohnya.
Mata Masaya terpejam. Tuhan ... aku tak menyangka, berhenti mencintai itu ternyata tidak mudah.
Hati dan pikiran pria berambut gelap itu masih memikirkan Kyoko, karena itulah, dia sampai tak memperhatikan jalan di depan dan berakhir menabrak seorang gadis saat sudah tiba di SMA Seika Jogakkan. Gadis itu agak terhuyung karena benturan yang cukup keras terjadi tadi, untunglah dia tak sampai jatuh? Hanya mengaduh sedikit.
"Maaf," kata Masaya terlihat kaget, "kau terluka?"
Gadis itu menggeleng pelan. Pria bermata sehitam arang itu menatap gadis di depannya, rasanya wajah ini tidak asing. Tapi siapa? Masaya tak mengenalnya.
"Saya tidak apa-apa, Pelatih Fujimine."
"Syukurlah."
Tiba-tiba sebuah suara cempreng mampir di telinga mereka. "Miku! Cepat kemari!" teriak seorang gadis berambut cepol heboh.
Sejenak Miku dan Masaya menoleh ke asal suara cempreng itu.
Shiori Imamura.
Gadis bercepol tersebut adalah sahabat Miku sejak kecil, karena tak digubris Shiori berlari ke arah sahabatnya. Gadis berambut cokelat dicepol itu terlihat kaget saat melihat wajah Masaya. "Pelatih Fujimine," sapanya malu karena tadi sudah berteriak seperti orang habis kena jambret.
Mayasa tersenyum. "Imamura, kau ini manajer klub sepak bola, 'kan?"
"Ya."
Kembali Masaya melirik Miku. Ah ya, pria 24 tahun itu ingat kalau gadis yang ditabraknya tadi adalah pacar seorang Ryu Hikaru, sang kapten sepak bola di sekolah ini. Pacar muridnya yang terkenal tampan juga playboy.
Setelah saling membungkuk hormat kedua gadis itu pamit pergi. Di ujung koridor sekolah tampak Ryu sudah menunggu keduanya. Masaya masih memandang murid-muridnya.
Helaan napas pria berambut gelap itu terdengar sejenak. "Eriko, jika saja kau masih hidup, mungkin sekarang aku akan melihatmu mengenakan seragam SMA seperti mereka. Lalu melihatmu bermain biola," ucapnya pelan. Di mata Masaya, Miku terlihat seperti adiknya yang pendiam.
🍓
🍓
🍓
To be Continued
__ADS_1
Pembaca yang baik hati, tolong tekan tanda love [❤] usai membacanya 😊
Menerima kritik dan saran dengan tangan terbuka 😄😄