Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[31] Pesta Kecil


__ADS_3

Malam itu Satoshi bangun dari tidurnya saat mendengar suara jam wekernya berdering nyaring. Meski mengantuk, dia masuk ke kamar Himeka yang ada tepat di samping kamarnya.


"Himeka, bangun." Satoshi mengguncang-guncang tubuh adiknya yang tertidur pulas.


Himeka membuka matanya malas. "Kakak, kenapa tengah malam begini masuk ke kamarku?" ujarnya malas. Dia sangat mengantuk dan berkali-kali menguap.


"Kata buyut, kalau mau membuat kejutan harus tengah malam dan jamnya harus di angka 12. Ayo kita pesta sekarang dan makan kue


stroberi," bujuk Satoshi.


Mendengar kata kue stroberi itu, Himeka langsung membuka matanya lebar. "Kuenya dimakan sekarang?"


"Iya, makanya ayo bangun,"


"Tapi ... aku mengantuk. Bisa tunda besok tidak?"


"Tidak bisa harus sekarang. Kalau kau tidak mau, jatah kue stroberimu aku makan."


"Jangan!" pekiknya tak rela, "iya deh, aku bangun." Meski dongkol, tapi demi kue yang dibelinya tadi, gadis kecil itu rela bangun dari tidurnya. Dengan tubuh yang agak terhuyung mereka menuju kamar orang tuanya.


Sementara di kamar Masaya. Miku ingat, setiap tanggal 28 Februari dia dan suaminya merayakan hari jadi pernikahan mereka. Hanya berdua dan mereka akan jalan-jalan ke luar, makan malam di restoran layaknya masih anak SMA. Lalu suaminya akan memberinya kejutan yang tak terlupakan. Miku sangat menanti hari ini. Malam ini dia gelisah karena tak sabar ingin mengucapkan 'Happy Anyversary'.


"Kau ini apa yang kau risaukan, sih?" Tiba-tiba Masaya membuka matanya. Dia menoleh pada istrinya yang begitu gelisah.


"Kau sendiri kenapa tidak tidur?"


"Karena kau berisik sekali, makanya aku tak bisa tidur. Apa yang kau pikirkan? Hari jadi pernikahan kita? Kita ini sudah dewasa, jangan bertingkah seperti anak muda lagi."


Miku jadi sebal, dia pun memunggungi suaminya. Menyebalkan!


"Hei, kenapa kau memunggungiku? Aku tidak mau melihat punggungmu, aku mau melihat wajah istriku."


Miku bungkam.


"Miku," rayu Masaya menggoda dan manja.


Sebenarnya Miku ingin tertawa mendengar suaminya bertingkah seperti itu. Akhirnya ibu dua anak itu membalikkan badan, dia mendapati wajah suaminya yang begitu dekat wajahnya.


Masaya berhasil menemukan tangan Miku lalu menggenggamnya.


"Anata," Kali ini mereka sama-sama berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Hm," gumam Masaya pelan. Sepertinya, dia sangat menikmati genggaman tangan itu, matanya terpejam.


"Aku mencintaimu," bisaiknya pelan. Malu.


Masaya akhirnya membuka mata dan berbalik menghadap Miku. Separuh wajahnya serius, separuhnya lagi menyeringai jenaka. Tentunya Miku semakin kempas kempis dibuatnya. "Kalau begitu berikan lagi aku Fujimine kecil khusus untukku. Yang mirip denganku."


"Eh?" Mata Miku membelalak kaget.


"Iya, aku ingin anak lagi,"


"Tidak mau, memangnya kau belum puas melihatku hampir merenggangkan nyawa dua kali saat melahirkan Satoshi dan Himeka?" Wanita jadi manyun.


"Aku ingin anak lagi."


"Tidak!"


"Kalau tidak mau, aku paksa kau melahirkan lagi," kecamnya pura-pura serius.


"Anata!" Miku memukulnya pelan, tapi dengan cepat Masaya menangkap tangannya, meski Miku berharap minta dilepas, tapi ia tak mau mengabulkan.


Sulung putri Koichiro itu tetap mencoba melepaskan dirinya hingga dia berhasil mendorong suaminya menjauh dan Masaya tak mau melepasnya begitu saja.


Ditariknya tubuh itu hingga keduanya berguling-guling di atas kasur. Kali ini Masaya berhasil menindihnya sambil


mencengram kedua tangannya, tapi tidak sekasar seminggu lalu.


"Anata! Jangan genit lagi."


Mata Masaya yersenyum cerah. "Miku." Ditatapnya dalam-dalam bola mata istrinya ituu. Perlahan dia mengusap pipi sang istri lembut, lalu turun ke bibirnya. Lama mereka saling menatap hingga Masaya mengedipkan sebelah matanya nakal dan menggoda.


Miku tersenyum, ia paham maksud Masaya jika seperti itu. Ketika tangan pria itu hendak menyentuh kancing miliknya terdengar suara pintu dibuka.

__ADS_1


Jreng ... jreng ... jreng ....


Muncullah dua makhluk mungil sambil membawa kue kecil dan sebuah lilin bersama korek api. Melihat tamu tak diundang itu spontan Masaya menghentikan aksinya.


"Ah ... pengacau ini datang di saat yang tidak tepat!" gerutu Masaya.


"Selamat ... eh ...." Keduanya terdiam melihat aksi orang tuanya seperti itu.


"Apa yang kalian lakukan tengah malam begini masuk ke kamar kami?" tanya Masaya gemas.


"Kalian sendiri sedang apa?" Satoshi bertanya-tanya.


"Bermain kuda-kudaan, ya?" Himeka ikut menimbrung melihat orang tuanya seperti itu.


Menyadari posisinya tidaklah layak untuk dilihat anak-anaknya, masaya segera menyingkir dari atas tubuh istrinya. Kuda-kudaan katanya. Dasar anak-anak.


"Lalu?" Miku menatap buah hatinya bertanya-tanya.


"Selamat ... eh ... Selamat apa ya


namanya?" Satoshi berpikir keras mengingat kata 'anyversari', tapi ia lupa.


Miku tertawa melihatnya. "Terima kasih, ya."


Kemudian Miku mencium kedua buah hatinya tepat di kening mereka bergantian. Lalu dia menoleh pada Masaya yang cemberut, mungkin karena keinginannya harus tertunda malam ini.


"Ayah kok cemberut?" tanya Himeka heran.


Dalam sekejap Masaya memasang wajah malaikatnya pada mereka. "Oh ... Ayah senang sekali, Sayang. Terima kasih hadiahnya." Dielusnya kepala mereka meski sebenarnya dia dongkol setengah mati, karena mereka dia gagal melanjutkan aksinya.


Setelah bertepuk tangan dan membagi kue stroberinya jadi 4 bagian dan juga ayam goreng akhirnya mereka memakannya.


"Ini sudah malam, sebaiknya cepat tidur dan kembali ke kamar masing-masing. Ayo pulang!" ujar Masaya yang lebih tepatnya mengusir.


Sayangnya mereka menggeleng.


"Hei ... kalian tidak akan tidur di sini, kan?" tanya Masaya yang paling tidak setuju jika mereka menumpang tidur di kamarnya.


"Kami ingin tidur bersama ibu. Boleh, kan?" pinta Himeka manja.


"Kenapa?" Satoshi penasaran.


Masaya menggaruk kepalanya sesaat. "Pokoknya kalian tidak boleh tidur di sini malam ini dan malam-malam berikutnya," jawabnya ngotot.


Entah kenapa justru di saat seperti inilah Masaya yang tak bisa bersikap dewasa. Miku ingin tertawa melihat ekspresi suaminya yang seperti itu.


"Kami ingin tidur bersama ibu!"


Aduhhh ... pria itu mengacak rambutnya frustrasi.


"Jika kalian tidur di sini lalu Ayah tidur di mana?"


"Kamarku," kata satoshi.


"Kasurmu atau kasur Himeka terlalu kecil. Ayah tidak mau!"


"Di ruang tamu saja," kata Himeka.


"Tidak mau, Ayah takut," dalihnya beralasan.


"Tidur saja sama buyut," jawab Satoshi polos.


Dan tawa Miku pun pecah. "Anata ... tidurlah di luar, malam ini biar mereka tidur bersamaku."


"Apa?" Miku tak percaya, bahkan istrinya membela anak-anaknya.


"Terima kasih," kata mereka kompak lalu dengan cepat mengambil tempat di samping Miku. Satoshi di sebelah kiri sedangkan Himeka di sebelah kanan. Mereka tampak girang karena diijinkan tidur bersama ibunya.


"Hei ... hei ... kalian serius?" Miku melongo karena diacuhkan. "Miku!" Hampir saja Masaya menghentakkan kakinya sebal seperti anak kecil yang mainannya direbut.


"Oyasumi, Ayah." Mereka melambaikan tangannya senang.


Mau tak mau Masaya meninggalkan kamarnya dan menuju kamar tamu. Malam ini dia tidur sendirian. "Awas kalian berdua!" dumelnya sebal lalu menyalakan AC kamar itu dan tidur, tapi tak bisa. Dia berguling-guling sejenak. Saat dia tengkurap dia memukul-mukul bantalnya kesal seolah bantal itu kedua anaknya. Bahkan kakinya ia hentak-hentakkan ke kasur.

__ADS_1


"Menyebalkan! Menyebalkan..!


Semuanya menyebalkan!" kesalnya.


Kasihan Masaya. Misi membuat calon Fujimine penerusnya jadi tertunda.


🌷🌷🌷🌷


Himeka menangis keras saat Satoshi membuang mainannya, lalu tanpa dosa, bocah itu mengambil bolanya.


Orang tuanya menghampirinya.


"Himeka kenapa?" tanya Masaya.


"Kakak tidak mau bermain pengantin bersamaku. Dia membuang bungaku huwaa ...."


Miku menatap Satoshi. Yang ditatap malah tak acuh.


"Satoshi,"


"Aku tidak mau bermain seperti itu lagi. Aku mau bermain bola, bukan duduk didandani seperti badut," protesnya tak mau disalahkan.


"Ibu seharusnya memberiku kakak perempuan bukan laki-laki seperti dia. Hiks ... Aku tak bisa ... bermain masak-masakan," kata Himeka masih sesegukan.


"Aku juga tidak mau punya adik sepertimu, yang tak bisa bermain bola. Ibu dulu seharusnya memberiku adik laki-laki bukan dia."


Kepala Miku mau pecah saat keduanya tak mau disalahkan. "Satoshi, bermainlah sebentar saja."


"Tidak mau!" Buru-buru bocah itu mengambil bolanya dan berlari pergi. "Aku mau bermain bola di rumah Kira. dan Naoki. Bermain bersama mereka lebih menyenangkan. Week!" Satoshi menjulurkan lidahnya dan melesat pergi.


"Himeka, jangan menangis lagi. Ibu temani main sebentar, nanti kita ajak bermain ke rumah Himawari, ya," bujuk Hinata.


Dan Himeka pun diam.


Hayato menggeleng. "Kenapa tidak kalian buatkan saja mereka adik? Biar Himeka dan Satoshi tidak saling bertengkar."


"Aku sih mengharapkan begitu, tapi dia yang tidak mau." kata Masaya santai yang sedang merapikan bajunya.


"Anata!" Miku menatapnya cemberut, tapi Masaya tetap cuek. Memangmya membuat anak semudah membuat omelet.


"Demi anak-anak kita."


Dan kata-kata terakhir Masaya sanggup membuat Miku berteriak gemas.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To be Continued🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [πŸ‘] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


__________________________________


Jumat, 5 Juni 2020


___________________________________

__ADS_1


Klik, please


πŸ‘‡


__ADS_2