Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[45] Back to Japan


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu, tapi Yue masih belum bisa melupakan Leon. Ya, gadis itu cinta mati pada sosok pemuda bule bermata hijau sejak ia kecil. Setiap hari kerjanya hanya menangis di tempat tidurnya. Menyesali kebodohannya yang tidak membuka matanya untuk melihat siapa Leon sebenarnya.


Seperti saat ini, gadis itu masih saja menangis di tempat tidur. Ryu yang melihatnya kasihan.


Yue yang bagaikan malaikat kecilnya kini terluka. Dulu dia setia menemaninya selama belasan tahun saat di rumah sakit. Menghiburnya, membacakannya dongeng, mengajaknya bicara dan banyak hal lain yang tak bisa pria itu sebut. Senyum cerianya lenyap gara-gara manusia berhati iblis itu. Senyum yang selalu menyejukkan hatinya kini lenyap begitu saja.


Ryu mendekatinya lalu ikut berbaring di sampingnya. Tanpa berkata-kata lelaki itu mendekapkanya membiarkan Yue menumpahkan tangisannya. Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.


"Aku ingin mati ...."


Ryu membelai rambut panjangnya. Mungkin begitu sakit dan dalamnya luka di hatinya hingga gadis ini menginginkan kematian. "Aku tahu ... tapi tunggu di saat kau bahagia."


"Kenapa?"


"Karena saat ini kau sangat sedih, jika kau ingin mati nanti jika kau sudah bahagia."


Gadis itu kembali menangis.


"Berhentilah menangis! Tak ada gunanya. Dia tak pantas kau tangisi."


"Sakit sekali," isaknya sesegukan.


"Hm." Ryu mengangguk. Ponselnya berdering, Ia pun mengangkatnya. Selang beberapa detik selanjutnya wajah Ryu berubah sumringah.


"Kak ... kau akan pergi?" tanya Yue curiga. Dia menghapus air matanya.


Pria itu tersenyum. "Aku sudah mengurus semuanya. Besok pagi aku akan Jepang."


Yue mengerjapkan matanya. "Mencari putri impianmu?"


Ryu mengangguk. "Juga putra mahkotaku." Lanjutnya sambil tersenyum.


"Aku ikut!"


Ryu menggeleng. "Mana mungkin aku akan membawamu, lagi pula mungkin aku akan menetap di sana."


Yue memanyunkan bibirnya. "Pokoknya aku ikut!"


"Aku tak bisa membawamu begitu saja. Papamu belum tentu setuju."


"Jika Kakak pergi aku tinggal bersama siapa di sini? Atau jangan-jangan kau ingin melihatku sengsara di sini sambil menangisi Leon, begitu?"


"Bukan begitu ...."


Cup! Cup!


Dengan genit dan cepat gadis itu mencium kedua pipi Ryu.

__ADS_1


"Hei kau ...!" ucapnya tercegat. Matanya melotot hampir keluar. Dia menyentuh kedua pipinya kaget.


Yue tersenyum ala setan sesaat. "Itu adalah ciuman dari seorang balerina tercantik dunia. Hanya Ryu Christian Hikaru yang kuberi ciumanku itu. Tapi sebagai gantinya biarkan aku ikut, ya?" Sang balerina mengatupkan kedua tangannya memohon.


"Jangan seenaknya memutuskan!"


Gadis itu segera membuka isi lemarinya lalu membongkar semua pakaian yang akan dibawanya besok.


"Hei, hei ... apa yang kau lakukan? Aku tidak mengatakan kau ...."


Yue berdiri menatapnya dengan tatapan mengiba. Didekatinya wajah Ryu seakan dia mau mencium pipinya lagi. Lalu berkata, "Biarkan aku ikut atau aku kembali pada Leon saja dan mengatakan jika aku sudah memaafkan kesalahannya lalu kita akan memulai dari awal?"


"BIG NO!" Ryu mendelik. Entah kenapa ia jadi takut dengan sikap Yue yang seperti itu. "Eh ... cepat bereskan pakaianmu," jawabnya sambil berlalu sembari memegang kedua pipinya takut dicium lagi oleh Yue.


Sang balerina melipat kedua tangannya sambil menatapnya genit. "Mau bersenang-senang tapi tidak mau mengajakku. Dasar jelek. Ryu jelek! Awas saja jika sudah bertemu si putri impian itu, akan kukatakan padanya bahwa kau menangis setiap hari memikirkan dirimu. Huh!" ocehnya pelan lalu sedetik kemudian dia selesai membereskan pakaiannya.


🌷🌷🌷🌷


"Ibu aku berangkat!" pamit Satoshi. Seperti biasa, setiap menjelang malam, usai sekolah dia akan kerja part time di sebuah kedai buble tea milik Pak Ikeibu yang letaknya cukup jauh dari rumahnya, tapi dekat dengan rumah Zero. Bahkan Satoshi sering menginap di rumah sahabatnya itu jika mereka lembur.


"Kakak," panggil bocah 7 tahun itu sambil menarik tas ransel Satoshi. Rambutnya hitam lurus. Dialah Isao.


"Ada apa?"


Isao yang masih memegang bola menatap saudaranya. "Kakak janji akan menemaniku main bola jika hari sabtu dan minggu. Ayo kita main." Tagih bocah itu.


Satoshi mendongkrak sepedanya sesaat lalu menyentuh kedua pundak adiknya. "Maaf ya, hari ini aku harus kerja. Bukankah kau ingin punya sepatu baru?"


Satoshi tersenyum. Dia mengelus kepala adiknya. "Baiklah kita main sebentar." Dan jawaban Satoshi tadi membuat senyum di wajah bocah itu berseri-seri.


"Kakak yang jaga gawang, ya?" ujar Isao senang. Satoshi hanya mengangguk. Sekali-kali telat tidak apa-apa lagi pula bibi pemilik kedai buble tea itu sangat baik padanya.


Dua tahun terakhir ini kehidupan keluarganya agak sulit. Tentu saja itu karena sudah tak ada lagi yang menjadi punggung keluarganya sejak kematian Masaya. Meski sudah mendapatkan uang pesangon dari klub sepak bolanya dulu, tetap saja uang itu masih kurang untuk membiayai kehidupan mereka. Dan tepat setelah itu Hinata membuka toko bunga. Modalnya diberi oleh Shun. Meski awalnya wanita itu menolak, tapi pria bule itu mengatakan itu untuk anak-anaknya.


🌷🌷🌷🌷


Ryu dan Yue sudah berada di Beijing, mereka mampir tiga hari di rumah kakek Yue dan sebentar lagi tujuan mereka adalah Jepang. Mereka duduk di kabin bisnis. Yue mengenakan kaos putih lengan panjang bolong-bolong yang dipadu dengan jelana jiens sependek pahanya. Sebuah topi hitam melekat di kepala untuk menutupi wajahnya dan sebuah kacamata hitam. Gadis itu sibuk mendengarkan mp3 playernya.


Di sampingnya Ryu duduk terdiam. Dia mengenakan kaos abu-abu, rambutnya yang gondrong dia ikat ke belakang dan matanya fokus pada selembar foto Miku bersama seorang anak kecil mirip dirinya.


"Aku ke toilet dulu," ujar Yue segera berlalu. Saat akan membuka pintu toilet tiba-tiba seseorang berseru kaget waktu melihatnya.


"Yue Schneider Young!" serunya tak percaya. "Kau si balerina itu, kan?"


Yue menatapnya dan dengan cool-nya dia membuka kacamata hitamnya. "Hai ... kau tahu aku?"


"Tentu saja, anak tiri adikku sangat mengidolakanmu!" jawab gadis tomboy itu senang. "Kau ... wah ... aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini." Zhou tampak girang, seolah dialah yang fans berat Yue bukan Mark. 'Kau adalah ladang emasku!'

__ADS_1


Yue tersenyum. "Ya, aku kebetulan juga ikut kakakku mau ke Jepang."


"Sebentar. Jangan kabur, ya?" Perintah gadis itu berlalu ke kabinnya kemudian muncul 10 detik selanjutnya sambil membawa kaos putih.


"Tolong beri tanda tanganmu di sini. Ini bajunya," ujar Zhou sambil menyerahkan spidol permanen dan sebuah kaos putih bagus.


Yue melakukannya tak lupa gadis itu berfoto bersama sang balerina dua kali. "Terima kasih," ujarnya lalu mereka berpisah. Zhou tersenyum bahagia. 'Jika Princess adalah harta karunmu. Ini ada harta karun dan nyawaku.' Batinnya tersenyum sambil menatap baju yang sudah ditandatangani sang balerina cantik itu. 'Kita lihat, berapa yuan yang akan kuperoleh dari kantongmu, sayang..'


🌷🌷🌷🌷


20 menit berlalu, Ryu yang sedang memperhatikan foto tiba-tiba tak sengaja disenggol.


"Sorry," ujar pemuda yang menyenggolnya lalu mengambil foto yang jatuh itu dan memberikannya pada Ryu. Seasaat keduanya saling menatap hingga pria Hikaru itu berseru duluan.


"Mark Akechi?" Ryu tak percaya menatap sosok yang menyenggolnya. "Kau tim sepak bola junior kebanggaan China, kan?"


Mark tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Saya sudah bukan di tim junior lagi."


Ryu mengangguk. "Oh ya, kebetulan kita bertemu." Pria itu mengambil tas Yue lalu mengambil menyodorkannya pada Mark yang dibelinya tadi waktu di Beijing. "Tanda tangan di sini. Adik perempuanku sangat menyukaimu. Di kamarnya ada satu postermu." Dalam hati Ryu tersenyum, walau hanya ada satu poster Mark tepat di belakang


pintu dan agak kecil karena hampir seisi kamar Yue dipenuhi poster jumbo aktor legendaris Lucas Hikaru bahkan diberi bingkai seolah debu takut menempel pada wajah sang aktor itu.


Memang ada sebuah foto Yue saat kecil yang bersama Lucas dulu dan foto itu paling berharga bagi gadis itu. Di foto itu Lucas menggendong Yue yang masih berumur 5 tahun lalu di sampingnya lelaki tua yang tak lain adalah kakek Yue. Guru Young. Lucas belajar kungfu pada kakek Yue yang terkenal di China. Pada foto itu tertulis 'My Lovely Husband.' Sedangkan diposter Mark tertulis 'Sweet Boy'.


Mark tersenyum lalu mengabulkan keinginan Ryu. Pesawat terus melaju menuju Jepang.


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


To be Continued


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membacanya, ya


Menerima kritik dan saran yang membangun 😄😄


___________________________________


Selasa, 23 Juni 2020


__________________________________

__ADS_1


Klik, please


👇


__ADS_2