Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[12] Cinta Mulai Bersemi


__ADS_3

Siang itu rumah klasik bermodelkan tradisional menjadi lebih bersih dan berkilau dari biasanya. Mereka bertiga duduk santai di atas tatami dan menikmati masakan buatan Miku. Onigiri isi tuna kesukaan Masaya, teh dan cemilan ringan yang kemaren sore pemuda itu beli di swalayan terdekat.


Minggu ini mereka membagi tugas membersihkan rumah. Miku menyapu bagian dalam rumah dan mencuci, Masaya menyapu halaman, mengepel lantai dan mengelap kaca sedangkan Hayato mencabuti rumput dan menyiram bunga.


Pria dengan mata sehitam jelaga itu melirik sang istri yang sedang menyeduh minuman. Tuhan ... kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkannya? Jantungku ... kenapa berdetaknya semakin keras saat dia ada di sampingku? Kenapa jadi tak tenang begini? Masaya jadi gelisah, ia memegang dadanya yang dirasa bergemuruh hebat.


"Kau kenapa?" tanya Miku heran melihat suaminya gelisah.


Masaya cuma diam, berkali-kali dia berkata pada jantungnya, Aku mohon jantung jangan keras-keras berdetaknya! Nanti dia tahu!


"Kau sakit?" Miku menatapnya sambil menyentuh kening sang suami.


"Tidak, aku ...," reflek Masaya menepis tangannya cepat, " ... air kolam ikan itu perlu ganti, jika telat ikan-ikan kepanasan dan bisa mati," ujarnya berlalu pergi. Padahal dia hanya ingin menghindari istrinya.


Miku mengangguk lugu.


🍓🍓🍓🍓


SMA Putri Minami.


Masaya mematikan radio tape, seketika lagu yang diputar berhenti. Ia membetulkan letak kacamatanya yang melorot, lalu pandangan matanya beralih pada murid-muridnya.


"Baiklah, kata apa yang kalian dapat dari lagu Ode To My Family tadi?"


Salah seorang muridnya mengacung antusias.


"Iya, Rika Azura, silakan."


"Do you like me?" goda siswi berparas cantik itu tersenyum. Rambut pirang dengan mata biru cerah membuatnya terlihat mirip boneka barbie.


Masaya tahu, Rika hanya berniat


menggodanya dengan berkata seperti itu, walaupun benar di bait lagu tersebut ada kata-kata 'Do you like me?'


Semua siswi bersorak.


"Yang lainnya?" Masaya mengalihkan pertanyaan.


"Pak guru, umur Bapak masih 23 tahun, 'kan? Muda sekali," goda Shiho, si manis yang enerjik tak bisa diam itu. Kedua tangannya menopang dagu, matanya tak mau lepas menatap sosok Masaya berbinar.


"Pak guru, bolehkah kami memanggilmu kakak?" Kejar Sayuri si gadis bersuri cokelat tak mau kalah.


Masaya menghela napasnya. "Anak-anak fokuslah pada pelajaran kalian," katanya sabar.


"Mana bisa kami fokus, jika gurunya sekeren artis Jepang. Kenapa Anda tidak mendaftar jadi artis? Paman saya punya manajemen terbesar di Tokyo," celetuk Riri si ketua kelas yang paling disegani itu.


"Betul, Pak guru lebih cocok menjadi artis," tambah Yuki.


Seruan sang ketua kelas tadi langsung mendapat sorakan hangat. Mereka sangat setuju jika melihat Masaya menjadi model atau artis karena dukungan wajahnya yang tampan.


Masaya menggeleng, lama-lama dia juga bisa stress jika setiap hari digoda mereka. "Anak-anak dengarkan!"


"Tentu, Kakak!" sahut semuanya kompak dan senang. Mereka menatap Masaya seolah idol top Jepang. Jika ibarat dunia anime, mata mereka memancarkan hati saat melihat ke arah Masaya.


Suami Miku itu menyentuh tengkuknya, Kenapa mereka segenit ini padaku? Apa wajahku tidak menakutkan sebagai guru sampai mereka berani mengodaku setiap hari? Masaya menggeleng. "Bapak sudah menikah dan sebentar lagi akan punya anak. Jadi berhentilah menggoda guru kalian, mengerti."

__ADS_1


"Mengerti, Kakak!"


Masaya frustrasi.


🍓🍓🍓🍓


Hayato menunjukkan foto-foto Masaya pada Miku. Mulai dari yang masih bayi hingga kuliah di Inggris.


"Ini siapa?"


Hayato melihat foto yang ditunjuk cucu menantunya itu. "Eriko Matsukaze, adik Masaya. Eriko meninggal musim panas tahun lalu karena leukimia."


"Anak yang cantik," pujinya tulus.


"Ya, Eriko sangat cantik,"


Miku tersenyum lalu membolak-balik album foto itu. Ia mencari foto suaminya saat di Inggris. Matanya lekat menatap foto Masaya yang sedang duduk di bawah pohon cemara lalu di sampingnya ada dua gadis cantik. Yang mana Kyoko? pikir Miku penasaran.


"Foto siapa yang kau cari?"


"Ah tidak, hanya melihat-lihat foto Masaya saat di Inggris," ujar Miku tersenyum, tapi sayangnya lelaki tua itu tahu apa yang sedang dicarinya.


"Kau penasaran dengan mantan pacar Masaya?" tebak lelaki tua itu.


"Tidak, untuk apa penasaran bukankah sekarang aku istrinya?"


Hayato hanya mengangguk. Tapi aku tahu kau penasaran pada gadis yang bernama Kyoko, kan? Walau kau bohong tapi matamu tak bisa membohongiku.


"Kakek, Masaya begitu populer ya, pasti banyak gadis cantik yang menyukainya. Dulu banyak teman-temanku yang tergila-gila padanya saat menjadi pelatih di sekolah kami."


Hati Miku seperti dihantam satu ton baja. "Begitu?" Miku memaksakan senyumnya, "aku jadi merasa berdosa karena sudah memisahkannya dari gadis yang ia cintai."


"Kyoko hanya masa lalunya."


"Kakek ...." Miku kaget begitu mendengar lelaki tua itu menyebut nama seorang yang begitu dia tahan lidahnya agar tak mengucapkannya, tapi Hayato malah dengan santai menyebut namanya.


Disentuhnya wajah Miku sesaat. Wajah gadis itu hampir meneteskan air mata. "Kyoko hanya masa lalunya, dan Masaya tak akan mungkin menikahinya. Kaulah masa depan Masaya bukan gadis mana pun."


Tangis Miku pecah. "Tapi aku ...."


"Aku sudah tahu semuanya sejak awal. Meski bayi itu bukan darah dagingnya. Percayalah, kami sangat menyayangimu dengan tulus. Aku bahagia kau menikah dengan Masaya meski saat ini kau tak mengandung anaknya."


"Kakek ...." Miku memeluk lelaki tua itu dan menangis, "maafkan aku ... maaf ... tidak jujur dari awal,"


"Sudahlah, jika kau terus menangis, bayimu bisa ikut sedih." Hayato menyeka air mata gadis itu. Tiba-tiba ...


"Aku pulang." Suara Masaya memasuki ruangan, dengan cepat Miku menghapus air matanya.


"Jangan menangis lagi," bisik lelaki tua itu. Miku mengangguk.


"Apa yang kalian lakukan?" Masaya bertanya heran saat melihat istri dan kakeknya terlihat sangat akrab.


"Membicarakanmu. Tidak boleh?"


Alis Masaya terangkat sebelah. Lalu dengan acuh tak acuh ia melenggang pergi meninggalkan keduanya yang ia yakin kini menertawainya.

__ADS_1


🍓🍓🍓🍓


Asklepios Klinik Barmbek


Hamburg, Jerman.


Ryu terbaring damai, kepalanya agak miring, tubuhnya santai dan rambutnya mulai panjang. Termasuk pasien istimewah. Ruang perawatan yang paling mewah. Sangat dingin dan terjaga dengan peralatan yang menunjukkan detak jantung. Tekanan darah dan infus di kedua tangannya. Beberapa dokter ahli keluar masuk dan perawat yang selalu ada di dekatnya.


Asklepios Klinik Barmbek adalah rumah sakit swasta terbesar di Eropa. yang mana memiliki lebih dari 100 fasilitas medis. Rumah sakit ini memiliki teknologi medis yang belum dimiliki siapa pun di dunia, tak heran jika Albert membawanya kemari demi kesembuhan putranya.


Seorang gadis kecil berusia 6 tahun yang tak bosan-bosannya membacakan cerita di samping remaja tampan itu. Yue Schneider Young, putri tunggal dokter Peter Young yang bertugas mengontrol keadaan Ryu, sekaligus anak dari pemilik rumah sakit mewah itu.


Dokter Young merupakan pria berkebangsaan China, yang menikah dengan wanita asal Jerman bernama Amara Schneider. Lalu memiliki putri bernama Yue Schneider Young yang menguasai 7 bahasa sekaligus sejak kecil.


"Papa, kenapa kakak ini tidak bangun-bangun, ya? Apa dia tidak bosan tidur terus?" tanya Yue lugu.


Dokter Peter cuma tersenyum, ia jongkok mengimbangi putrinya. "Karena belum waktunya dia bangun, mungkin masih lama,"


"Tapi ... apa kakak ini tidak lapar?" Yue terlihat ragu.


"Tidak, karena dia ini kuat. Makanya kau harus kuat sepertinya, jangan sakit lagi. Jika waktunya minum obat, ya harus minum agar cepat sembuh."


Gadis cilik itu mengangguk, matanya tertuju pada jemari Ryu yang mulai bergerak. "Papa ... telunjuknya mulai bergerak, lihatlah." Tunjuk Yue.


Dokter Peter segera memeriksa keadaan Ryu. Meski lewat enam bulan lamanya remaja itu belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Namun, hari ini keajaiban itu mulai menghampirinya.


"Terima kasih Tuhan ..." ucapnya senang penuh syukur.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


____________________________


Selasa, 21 April 2020


Klik, please

__ADS_1


👇


__ADS_2